Brasilia, Gontornews — Brazil adalah negara yang penuh dengan Katolik fanatik, liberalisme, sekulerisme, juga paganisme. Keseharian mereka ramai dihiasi tabiat hura-hura dengan kerap memuaskan hawa nafsunya semata tanpa batasan.
Meski demikian, hingga sekarang kaum Muslimin tetap optimis bahwa Islam di Brazil akan terus berkembang pesat. Jumlah umat Islam terus berkembang dan kebanyakan adalah orang-orang Brasil yang masuk Islam.
“Kami mengajak anggota (mengajak orang-orang masuk Islam) kebanyakan melalui online,” kata Sami Isbelle, seorang juru bicara Masyarakat Muslim Dermawan (SBMRJ).
Isbelle juga mengatakan bahwa di Rio ada sekitar 500 keluarga Muslim, 85% dari mereka adalah warga asli Brazil dan tidak memiliki hubungan dengan orang Arab.
Berbeda dengan di Sao Paulo, daerah Brazil selatan, di mana kebanyakan Musliminya adalah keturunan Arab. Berdasarkan laporan Paulo Pinto –Ahli Islam dari Universitas Federal Fuminense-, indikator terbaik dari pertumbuhan Islam di Brazil adalah peningkatan jumlah tempat ibadah (Masjid).
Hingga tahun 2000 jumlahnya meningkat empat kali lipat dan mencapai 127 masjid. Pinto juga melaporkan bahwa Umat Islam tidak diikutkan dalam sensus Brazil dan masuk di data kategori ‘lain’ bersama dengan warga Budha lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat Katolik, Evangelis, Yahudi, Spiritualis dan para pengikut agama Afro-Brazil di sana.F
Prederico Chaves Guedes atau biasa dipanggil Fred adalah seorang pemain sepak bola Muslim berkebangsaan Brazil. Dilahirkan di Teofilo Otoni, Minas Gerais, Brazil, pada 3 Oktober 1983 silam.
Fred mulai mengenal Islam ketika ia tengah bermain di Eropa. Perpindahannya ke Perancis pada tahun 2005 lalu, membuatnya mulai bersentuhan dengan agama suci tersebut.
Mantan pemain Cruzeiro ini selama empat musim di Lyon, ia mampu membawa Lyon menjadi juara terbaik di Ligue 1. Sebagai ujung tombak di club maennya, Fred mampu membuktikan eksistensinya sebagai seorang pemain berbahaya yang kerap ditakuti pihak lawan.
Pada tahun 2006/2007, ia berhasil mencetak 11 gol dari 20 perlawanan. Dulu, pada musim pertama membela Lyon, Fred telah menjadi runner up pencetak gol terbanyak di liga tempatan.
Kejayaan Fred di dunia sepak bola memang cukup gemilang, ditambah lagi keberhasilanya meraih gelar Copa Amerika pada tahun 2007, di tengah kecederaannya yang kerap terjadi mulai tahun 2007 hingga 2008. Hingga akhirnya ia sulit untuk kembali bersaing dan memutuskan untuk meninggalkan Lyon serta pulang ke kampung halamannya.
Menetap di bandar Lyon yang kerap dihuni pendatang Muslim membuat Fred mulai mengenal budaya Islam. Hingga akhirnya ia siap menjadi seorang Mualaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Keislaman Fred lambat laun mulai tercium publik. Awalnya, Fred yang dalam keadaan Muslim berhasil mencetak satu gol pada Piala Dunia 2006 di Jerman lalu.
Ketika itu Brazil memukul Australia dengan skor 2-0. Lalu pemirsa tiba-tiba dikejutkan dengan gaya Fred bersujud syukur di lapangan hijau setelah ia melepaskan gol mautnya.
Semenjak itu, semua orang mulai mengetahui bahwa Fred adalah seorang Muslim. Sedangkan sujud syukur yang dilakukannya adalah bukti syukur Fred kepada Sang Kholiq akan segala kesempatan emas yang diberikan untuk mengukir prestasinya.
Tonggak Kelahiran Islam Brazil
Tragedi serangan 11 September di Amerika Serikat silam memang menjadi lanjutan pertumbuhan minat masyarakat non Muslim untuk lebih mengenal Islam, hingga banyak yang memutuskan untuk masuk Islam.
Keberadaan Muslim akhirnya menyebar di sejumlah kawasan Salvador, mulai dari Rio de Jeneiro hingga ke kota-kota urban lainnya, bahkan sampai ke penjuru desa di Brazil.
Sejarah mengatakan bahwa Islam awalnya dibawa oleh warga Afrika dalam bentuk perbudakan. Tepatnya sejak tahun 1550, orang Portugis telah menggunakan budak berkebangsaan Afrika untuk dipekerjakan di kebun teh yang sebelumnya telah dimusnahkan oleh penduduk setempat.
Brazil kala itu menerima 37% dari seluruh budak Afrika yang diperdagangkan yakni sekitar 3 juta orang. Pada tahun 1835, di Balhia, Muslim berbagai bangsa pernah melakukan pemberontakan yang menewaskan banyak orang.
Sejak itu, Portugis mulai berjaga-jaga terhadap Afro-Muslim, termasuk memaksa mereka agar menganut agama Katolik. Meski demikian, komunitas Muslim di Brazil tidak dapat dienyahkan begitu saja.
Hingga tahun 1900, tercatat masih terdapat sekitar 10.000 Afro-Muslim yang hidup di sana. Setelah masa asimilasi paksa terhadap Afro-muslim, perkembangan Islam di Brasil telah memasuki suatu era yang baru dengan adanya imigran muslim Timur Tengah ke negara ini dan sebagian besarnya berasal dari Suriah.
Semakin pesatnya perkembangan Islam di Brazil semakin menarik rasa ingin tahu para ahli sejarah yang kini telah mengingkari fakta bahwa penemu Brazil adalah seorang penjelajah asal Spanyol.
Saat ini, mereka kian menyadari kuatnya pengaruh kehadiran Muslim di awal periode penemuan Amerika. Bukti ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti bertuliskan asma Allah SWT.
Begitu pula dengan nama-nama kota di Brazil yang diyakini lebih cocok berasal dari bahasa Arab asli ketimbang bahasa asli orang Amerika. Di wilayah timur laut Brazil, dapat terlihat sebuah kebudayaan Islam yang dibawa para budak Muslim Afrika yang kini cenderung telah terdistorsi.
Bahkan, apabila seluruh informasi ini dikonfirmasikan dan dicatat sebagai bagian dari sejarah Brasil, bisa jadi Brasil ditemukan oleh seorang Muslim. Komunitas Muslim Brazil sejak terjadinya pemberontakan di Kota Savador, tahun 1835, semakin banyak mendapat pujian.
Hal ini merupakan bentuk sumbangsih perjuangan awal Muslim melawan perbudakan. Jumlah mereka kala itu sekitar 500 orang dan salah satu pemberontakan tersebut adalah Pemberontakan Male pada tahun 1835.
Waktu itu mereka memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial yang telah diajarkan Islam. Dan rentetan kejadian tadi menyebabkan banyak orang yang akhirnya berpindah ke Islam. <Edithya Miranti>

























