Suatu hari di masa pemerintahannya yang dipenuhi berkah, Khalifah Umar bin Khattab bertemu dengan seorang Yahudi tua yang sedang mengemis di jalanan. Kakek Yahudi itu menatap nanar khalifah sambil menengadahkan tangan meminta, “Kasihani orang tua ini…”
Khalifah Umar bin Khattab berhenti, hatinya terenyuh. Ia tahu kakek ini bukanlah pemalas yang hanya bisa mengemis. Maka ia pun bertanya, “Wahai Kakek, bagaimana nasibmu bisa seperti ini?”
Ditanya begitu, mendadak mata Yahudi tua itu mulai berkaca-kaca, lalu ia menjawab lirih, “Saya sebatang kara di dunia ini. Saya harus membayar jizyah (semacam pajak kepada pemerintah yang diambil buat orang nonmuslim atas jaminan keamanan, perlindungan harta dan nyawa, serta kebebasan beribadah) pula. Maka jadilah saya mengemis.”
Maka khalifah yang diberkahi itu membalik keadaan si kakek dalam sekejap ketika ia memberi perintah kepada stafnya, “Hapuskan nama orang tua ini dari daftar wajib jizyah. Lalu keluarkan belanja dari Baitul Mal untuknya sampai ia wafat.”
Air mata si Yahudi tua yang dari tadi sudah ditahan-tahan kini tertumpah. Hanya saja bukan disebabkan kesedihan, tetapi kebahagiaan dan rasa terima kasih atas kebaikan sang khalifah. Melihat air mata si Kakek, air mata Umar bin Khattab pun mengalir. Namun khalifah yang mulia itu tidak ingin membiarkan si kakek merasa berutang begitu saja.
Untuk menjaga martabat dan harga diri orang yang sudah tak berdaya itu, khalifah pun berkata, “Kasihan engkau Kek, di masa muda engkau habiskan tenagamu untuk kami. Sekarang giliran kami membela engkau…”
Inilah contoh ajaran ihsan di dalam Islam. Sebuah ajaran yang bisa menjadi obat dari penyakit utama birokrasi negeri ini yakni korupsi. Sebuah penyakit yang bila berhasil diberantas akan membuat kita semua sejahtera dengan izin Allah.
Apa itu ihsan? Tadinya tak seorang pun sahabat yang tahu. Sampai suatu ketika datanglah seseorang laki-laki kepada Rasulullah SAW sambil tertanya empat hal: tentang iman, Islam, ihsan, dan kapankah tibanya kiamat.
Ketika ditanya tentang ihsan, Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu.” Orang yang bertanya pada Rasulullah SAW barusan Jibril, kisah lengkapnya dituturkan dalam Hadis Riwayat Muslim dari Abu Hurairah.
Jadi bila kita belum bisa khusyuk saat shalat walaupun sudah mengetahui arti bacaan shalat, jawabannya ihsan. Mulai dari persoalan buang sampah sembarangan, melanggar lalu lintas, sampai bagaimana mengatasi korupsi yang mengurat akar, jawabannya dirangkum dalam satu kata ini, ihsan.
Ihsan adalah modal untuk meraih kemuliaan hidup. Siapa sih manusia yang tidak mau dimuliakan orang lain? Hanya saja sayangnya kita sering salah mendefinisikan kata kemuliaan itu. Banyak dari kita yang mengartikan mulia itu berarti punya rumah besar, mobil berganti setiap tahun sekali mengikuti model terbaru atau uang menumpuk di rekening bank. Sebagian mengartikan pula mulia itu punya gelar panjang, jabatan tinggi, didengarkan orang omongannya di mana-mana.
Semua itu tidaklah mulia bila didapat dengan cara curang, korup, menginjak kehormatan orang dan merendahkan kehormatan diri dengan menjilat orang berpangkat. Orang yang mulia itu orang yang menunjukkan budi pekerti walau ia tak dapat apa-apa. Semisal memungut sampah yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah, padahal tak seorang pun yang menyuruh bahkan melihatnya.
Inti kemuliaan ialah berguna bagi sesama. Jadi sangat sulit menjadi orang yang mulia. Kenapa sulit? Sebab dua hal tadi, satu, salah mendefinisikan kemuliaan, dan dua, tidak punya modal utamanya, yaitu ihsan.
Mari tanamkan ihsan ke dalam jiwa putra-putri kita. Semoga mereka kelak akan jadi pemuda dan pemudi yang berjuang menyebarkan kebaikan tanpa pamrih. Inilah tanda orang-orang mulia. Derajat orang-orang seperti ini lebih tinggi dari mahligai para raja.[]


















