Sharm El Sheikh, Gontornews — Lembaga penelitian iklim CICERO Norwegia, Jumat (11/11/2022), memprediksi peningkatan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil berada pada jalur kenaikan satu persen pada tahun 2022. Kenaikan ini sekaligus menjadi peningkatan risiko angka kenaikan suhu tertinggi sepanjang masa.
Penggunaan emisi dari minyak, yang didorong oleh sektor penerbangan, kemungkinan meningkat lebih dari dua persen dibandingkan tahun lalu. Sementara emisi dari batu bara akan mencapai puncak tertinggi dan berpeluang mencatatkan rekor yang lebih tinggi ketimbang catatan serupa pada tahun 2014.
“(Meningkatnya penggunaan minyak) lebih didorong oleh pemulihan Covid-19. Sementara batu bara dan gas lebih didorong oleh peristiwa di Ukraina,” ungkap Direktur Riset Lembaga Iklim CICERO Norwegia, Glen Peters, kepada AFP.
Peters menjelaskan bahwa pemulihan pandemi dan krisis energi akibat invasi Rusia di Ukraina tidak terlalu mempengaruhi kenaikan polusi karbon dari pembakaran minyak, gas dan batu bara karena tren kenaikannya, yang secara mendasar, bergerak meningkat dengan konsisten.
“Sekarang, emisi lima persen di atas apa yang terjadi ketika Perjanjian Paris disepakati pada tahun 2015,” kata Peters.
“Anda harus bertanya: kapan turun?” sambungnya dengan khawatir.
Angka-angka baru menunjukkan betapa sulitnya untuk memangkas angka emisi yang cukup cepat guna memenuhi kesepakatan Paris yaitu membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat Celcius di atas tingkat sebelum era industri. Para ilmuwan memperingatkan bahwa peningkatan di atas ambang batas tersebut akan memicu titik kritis berbahaya dalam sistem iklim.
Pemanasan hampir 1,2 derajat Celcius yang terjadi hingga saat ini telah menciptakan sejumlah problem iklim ekstrem yang mahal dan mematikan. Sejumlah bencana akibat perubahan iklim seperti gelombang panas, kekeringan, banjir, badai tropis serta kenaikan permukaan air laut semakin mengkhawatirkan dan mematikan.
Untuk itu, sebagaimana target perjanjian Paris, KTT Iklim COP27 di Sharm El-Sheikh Mesir terus mendorong penurunan emisi rumah kaca global hingga 45 persen pada tahun 2030. Angka ini akan terus didorong untuk turun hingga nol pada 2050. Secara teknis, emisi harus turun tujuh persen setiap tahun selama delapan tahun ke depan. [Mohamad Deny Irawan]

























