Sangat disayangkan umat Islam saat ini terbelakang dan terpecah-pecah dalam beberapa golongan. Yang mana satu sama lain saling mengunjing, bersekutu, bercerai-berai dan lain-lain. Salah satu penyebab perpecahan ummat Islam dewasa ini adalah meninggalkan pedoman hidup, al-Qurβan. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Tuhanku, sesungguhnya umatku telah menjadikan al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan“.
Umat Islam percaya, Allah SWT akan memberikan kemajuan dan kemenangan apabila umat muslim bersatu dan menjalankan agamanya secara benar. Agama Islam yang murni adalah agama yang dilandasi tauhid yang murni langsung kepada satu Tuhan dengan satu hukum agama yang diturunkan oleh-Nya, al-Qurβan semata. Itulah tauhid seutuhnya (semua dari satu sumber).
Sebagian besar umat Islam saat ini jauh dari al-Qurβan. Sebagian besar hanya membunyikan saja, tanpa berusaha memahami apa yang ada didalam al-Qurβan dan apalagi mengamalkannya. al-Qurβan hanya merupakan ritual saja bagi sebagian besar umat Islam saat ini, dimana kita hanya berusaha mendapatkan hitungan amal dari setiap huruf yang kita bunyikan. Padahal tujuan utama al-Qurβan adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Lantas akankah Islam bangkit kembali membangun peradaban dunia?
Persatuan Alat Kebangkitan Peradaban Islam
Banyak pakar peradaban menjelaskan bahwasannya dunia telah banyak berubah, masyarakat dunia berupaya membentuk poros-poros baru dan kekuatan-kekuatan baru sesuai dengan kesamaan kepentingan, ras atau idiologi. Saling bersaing dan berlomba untuk memberikan manfaat yang berarti bagi kehidupan manusia, saling berlari dan mengejar untuk mendominasi kekuatan lainnya. Masyarakat yang semakin membesar dan mendunia akan semakin menemukan jalan sejarahnya, sedangkan masyarakat yang mengecil dan melocal akan semakin tersingkir dari sejarah peradabannya.
Ada Amerika dan Rusia yang menjadi super pawer di dunia, ada Uni Eropa yang memegang kendali ekonomi dunia, ada China dan India Β yang tengah berupaya melampaui kekuatan-kekuatan besar di dunia. Dan ada Dunia Islam yang berpotensi untuk memimpin dunia, namun masih belum menyadari letak kekeuatannya. Oleh karena itu Malik bin Nabi melihat bahwa pasca Perang Dunia II terjadinya sebuah perubahan pergerakan kekuatan-kekuatan dunia dan mengkaji beberapa penyebab yang menunutut adanya persatuan Dunia Islam;
Dalam kaitannya dengan peradaban Islam, Malik bin Nabi menyimpulkan bahwasannya: Pertama, dunia Islam hidup pada masa dimana tidak mampu beradaptasi dengan dunia baru, hingga ia mau tidak mau harus memilih sumber-sumber yang melahirkan kekuatan dunia ini; baik baik berupa ide atau maeteri yang dibangun di atas landasan metode tailor (penyatuan). Dunia baru menjadikan materi di peringkat pertama, kemudian setelah itu baru diikuti oleh aliran pemikiran yang menggabungkan dua unsur sekaligus. Di dunia yang tunduk pada metode tailor terdapat trend materialis kapitalis borjuis, sebagaimana terdapat juga trend materilism marksis. Hal ini menunjukkan bahwa dunia baru menyokong aliran kavitalis marksis dan membawa gabungan dari berbagai idiologi.
Kedua, di dalam dunia baru ini, walaupun kita melihat dunia Islam mampu menjaga diri dari kedua trend di atas, akan tetapi tanpa disadari ia telah terjatuh pada trend kavitalis borjuis, karena pada periode ini dunia Islam didominasi oleh kecenderungannya terhadap dunia materi tidak kepada dunia ide. Ketiga, pada akhirnya kita bisa menyaksikan bagaimana ide/pemikiran tidak memiliki efektivitas yang cukup di dunia Islam. Dan fenomena inisalah satu fenomena yang tidak sehat, karena berkaitan erat dengan factor sikologis umat Islam di masa kemundurunnya. Keempat, maka factor-faktor sikologis dan sosiologis yang telah mengumpulkan dunia Islam di poros yang baru, yang membawanya kepada era konsumtif hingga sekarang.
Dari sinilah Malik bin Nabi memandang bahwa umat Islam yang terpecah ke dalam negara-negara bangsa perlu bersatu untuk menghadapi kekuatan-kekuatan baru di dunia, kemudian membangun terma-terma baru yang menunjang kepada persatuan umat Islam, hingga mampu beralih proses koleksi ke inovasi, dari kensumsi ke produksi, dari kemunduran kepada kemajuan.
Estetika Identitas Kebangkitan Peradaban Islam
Semua agama terutama Islam mengajarkan pentingnya aspek estetika dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Standar kebudayaan Barat adalah lebih kepada standar estetika sementara dalam masyarakat Islam adalah standar moral. Ini tidak berarti kebudayaan Islam tidak memiliki unsur estetika akan tetapi ia meletakkan unsur estetika di bawah prinsip moral dalam susunan nilai. Kebudayaan dalam peradaban Barat yang lebih mengutamakan aspek estetika daripada moral dalam susunan nilai, telah mengakibatkan kebudayaan tersebut terpisah dari kebudayaan kemanusiaan, merusakkan metode dalam sistem nilai, dan membawa kepada penghalalan segala cara. Alhasil infiltrasi seperti ini memunculkan sekularisasi.
Agama Islam membuka jalan ke arah lingkungan ilmiah melalui perkataan “iqra” (bacalah), kemudian meletakkan beberapa langkah fundamental yang dapat menciptakan ruang dan psikologi sosial bagi mewujudkan budaya intelektual dan perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian juga yang terjadi di Eropa, perkembangan dan kemajuan teknologinya telah dimulai dengan wujudnya miliu intelektual dan budaya ilmiah yang telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Islam peradaban menekankan peranan dirinya sebagai katalisator kebudayaan dengan menanamkan “moral” yang menggariskan baik dan buruk atau yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dan yang mengaitkan nilai amanah dalam segala perilaku praktikal individu dan masyarakat.
Selain itu, Islam mengajarkan juga “logika kerja” yaitu profesionalisme dalam melakukan pekerjaan dengan usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah dari fasilitas-fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki, menentukan “nilai estetika” yang mengaharuskan individu-individu dalam masyarakat memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif. Ide-ide yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan untuk membentuk dan membangunkan suatu peradaban yang merdeka dan tidak tergantung pada peradaban lain. Islam peradaban juga berupaya secara praktikal mendorong, dengan segala metode, ke arah terciptanya lingkungan intelektual dan budaya ilmiah yang seterusnya diharapkan dapat berpengaruh pada lahirnya sains dan “teknologi.
Indonesia Pusat Kebangkitan Peradaban Islam
Malik bin Nabi pernah meramalkan bahwa Asia khususnya Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam masa depan. Menurutnya, “dunia Islam akan beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta, sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damascus.” Ramalan ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap umat Islam di negeri ini. Keadaan Indonesia yang memiliki penduduk Islam terbesar masih terlalu jauh dari apa yang pernah diramalkan oleh Malik Bennabi lima puluh tahun yang lalu. Malaysia yang tidak pernah disebut oleh Malik Bennabi justru dapat melangkah lebih maju dalam banyak bidang dibandingkan dengan Indonesia.
Dari perspektif pemikiran Malik bin Nabi, dalam aspek “moral”, terutamanya korupsi, Malaysia mampu menduduki posisi yang menyenangkan di antara negara-negara membangun lainnya, sementara Indonesia menjadi negara paling kotor dan menduduki peringkat nomor tiga sebagai negara terkorup di dunia. Dalam aspek “logika kerja,” Malaysia memiliki etos kerja dan profesionalisme yang baik. Peningkatan etos kerja dan profesionalisme dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya adalah dengan ISO (International Standardisation Organization).
Semua instansi baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan standar efisiensi dan profesionalisme internasional tersebut. Sementara itu di Indonesia pelayanan umum tidak efisiens, tidak profesional dan sarat dengan birokrasi yang tidak penting. Birokrasi yang semestinya untuk mempermudah urusan justru untuk mempersulit, karena di dalam kesulitan terdapat duit.
Malik bin Nabi menulis buku βFenomena al-Qurβanβ (Le Phenomene Coranique) diterbitkan pada 1946; setahun kemudian terbitnya Labbaik, satu-satunya novel karya beliau; Les Conditions de la Renaissance pada 1948 dan pada 1954 beliau menerbitkan La Vocation de lβIslam. Buku-bukunya, antara lain, bertujuan membincangkan aspek-aspek teoretikal untuk menghidupkan kembali gerakan Islah.
Fakta 212 Simbol Awal Kebangkitan Islam di Indonesia
Peristiwa 212 yang bersejarah bagaikan sebuah tombol detonator ‘bom waktu’ yang telah ditekan untuk meledakkan seluruh potensi positif. Kebaikan dan sekaligus kebangkitan umat Islam.Β Bukan hanya nusantara, tapi juga dunia. Karena, sesungguhnya, dunia menyaksikan aksi superdamai (Aksi Bela Islam III) yang dilakukan umat Islam Indonesia. Dunia menjadi saksi telah terjadinya shalat Jumat berjamaah terbesar sepanjang sejarah. Dunia menjadi saks’i bangkitnya kesadaran umat Islam Indonesia dengan memperlihatkan kegigihannya dalam menegakkan keadilan di muka bumi dengan cara yang ma’ruf, yang elegan, yang sangat Islami.
Revolusi kebangkitan telah dimulai. ‘Raksasa’ yang tertidur mulai menggeliat bangun. Tentu kita harus lebih bekerja keras memperbaiki diri. Mulai dari hal-hal yang kecil, dari aktivitas keseharian, dari banyak hal yang diremehkan.Β Akhlak perilaku keshalehan menjadi kunci, selain tentuΒ skillΒ dan kemampuan. Mari mengasah mata hati, menjernihkan akal qolbu, bukan hanya menajamkan pikiran dan mengeraskan kekuatan otot.
Pada 212 itu 7 juta lebih muslim berkumpul di satu lokasi, dipersatukan oleh spirit umat. Mereka dipanggil oleh Al-Maidah 51, dikomando oleh ulama, dalam rangka menunaikan kewajiban khas umat Islam yakni shalat jumat. Kelihatan simpel, bahkan bertajuk super damai, tapi ternyata bermakna mendalam.
Ada sejumlah perbedaan antara bangsa (ΩΩΩ ) dengan umat untuk dijadikan argumen mengapa kita harus kembali kepada paham keumatan: Pertama, umat dipersatukan oleh titik kumpul, Allah, Rasulullah dan mukminun, itupun yang menegakkan shalat, menunaikan zakat dan selalu tunduk kepada syariat Allah (Al-Maidah: 55). Allah sebagai sumber ideologi, Rasulullah sebagai acuan teladan, dan mukminun sebagai teman dalam perjuangan. Sementara bangsa hanya dipersatukan oleh batas geografis negara. Tak ada Tuhan yang menjadi acuan tunggal ideologi dan nilai spiritual. Tak ada Nabi yang jadi rujukan teladan. Teman perjalanan juga gado-gado pemikirannya. Karenanya secara alamiah lemah.
Kedua, paham bangsa itu dipakai oleh masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam. Mereka berperang membela suku dan bangsa masing-masing. Semboyan mereka, tolong saudaramu sebangsa baik ia teraniaya atau sedang menganiaya. Spirit korp menjadi ruh pemersatu. Sementara umat dipakai sebagai bingkai pemersatu masyarakat setelah datangnya Islam. Suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya terlibat konflik tanpa akhir, dipersatukan Nabi saw di bawah payung umat Islam. Mereka kemudian bersaudara, tak ada lagi sentimen suku dan bangsa.
Ketiga, bangsa dijadikan alat oleh penjajah untuk memecah umat Islam. Dulu jazirah Arab, Syam, Turki, Mesir dan Maroko bersatu di bawah payung umat. Penjajah Eropa datang dengan menawarkan paham kebangsaan. Akhirnya ikatan hati mereka bukan ke umat, tapi kepada Saudi, Mesir, Turki dan sebagainya. Umat Islam lemah dan hancur setelah berpaham bangsa. Maka tak ada jalan lain mengembalikan kekuatan umat kecuali mengembalikan paham keumatan dan membuang paham bangsa. Dan Alhamdulillah aksi 212 memantik kesadaran itu. Berawal dari tuntutan terhadap ahog, berkembang menjadi keinginan merasakan kembali nikmatnya menjadi satu umat yang kuat.
Singkatnya, spirit 212 harus terus dikawal sehingga tertanam pula bahwa 212 hari lahir umat Islam. Hari lahirnya umat Islam ini perlu terus diaktualkan, agar paham keumatan kian merasuk ke sanubari umat. Akhirnya kelemahan yang dialami Umat Islam karena meninggalkan al-Qurβan sekarang menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam dengan fakta pembelaan terhadap al-Qurβan akibat penistaan agama yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Wallahu aβlam bis shawab.





















