Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21)
Sudah selayaknya umat Islam meneladani kepribadian Rasulullah SAW dalam segala hal, termasuk ketika berpuasa Ramadhan. Misalnya, sahur, menyegerakan berbuka dan shalat, senantiasa memperbanyak amalan, seperti shalat malam, tadarus al-Qur’an, zikir, sedekah, dan itikaf ketika memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.
Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum mereda memberikan banyak dampak bagi kehidupan manusia. Di samping kesehatan, Covid-19 juga ikut meredupkan aktivitas ekonomi, sosial, dan ritual keagamaan. Ramadhan tahun lalu menjadi saksi betapa pandemi Covid-19 telah mengubah semarak Ramadhan.
Untuk menghadapi berbagai masalah termasuk pandemi Covid-19 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan ini, terus melakukan ikhtiar ilahiah dan ikhtiar insaniah ilmiah adalah penting untuk dilakukan. Karena berdoa dan berharap saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang kasusnya di Indonesia terus meningkat.
Mungkin karena keterbatasan pengetahuan tentang wabah dan kekeliruan dalam menyikapinya mengakibatkan kita kurang waspada hingga Covid-19 terus mewabah hingga kini. Padahal berbicara tentang pandemi dan upaya pencegahannya, ada banyak ibrah yang bisa diambil dari apa yang pernah dialami Nabi Muhammad dan para sahabat.
Ketua Bidang Dakwah Ikatan Da’i Indonesia Dr Attabik Luthfi menjelaskan, pandemi ini merupakan musibah dan ujian keimanan untuk terus melakukan ikhtiar meraih takdir Allah yang lebih baik dengan berbagai upaya imaniah: memperkuat iman, meningkatkan ibadah dan amal saleh, memperbanyak doa dan istigfar, dan ikhtiar ilmiah: meminta pandangan dari para pakar kesehatan dan melaksanakannya.
Jadi, hakikat ujian bukan hanya pada jenis dan bentuknya seperti penyakit, musibah, bencana, tapi juga ujian keimanan. Bagaimana keimanan seseorang ketika diuji dengan musibah. Musibah ini juga merupakan ujian persaudaraan untuk saling membantu sesama yang membutuhkan. Di surat Muhammad ayat 31 dijelaskan, tujuan ujian dalam berbagai bentuknya antara lain untuk menyaring siapa yang penyabar dan siapa yang pejuang.
“Mereka yang terdampak langsung akan diketahui kualitas kesabaran dan perjuangannya untuk keluar dari musibah. Mereka yang tidak terdampak langsung pun akan diketahui kesabarannya terhadap mereka yang terdampak dan kesungguhannya untuk membantu mereka yang terdampak dengan berbagai cara,” jelasnya.
Seperti Covid-19 yang dengan cepat bisa menular, dengan jenis yang berbeda, beberapa wabah yang menyebabkan banyak orang terkena dampaknya juga pernah terjadi pada masa awal perkembangan Islam. “Yang jelas, wabah dalam arti umum pernah terjadi di beberapa masa, namun jenisnya yang berbeda,” jelasnya kepada Majalah Gontor.
Berbicara tentang pandemi dan upaya pencegahannya, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari apa yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW dan sahabat ketika menghadapi pandemi. Misalnya, pada tahun 17 H di masa Umar bin Khattab, pernah terjadi wabah penyakit di Syam yang ketika itu sudah tergabung dengan kekuasaan Islam.
Singkat cerita, saat itu Umar sedang dalam perjalanan dari Madinah menuju Syam dengan beberapa pasukan. Begitu mendengar informasi ada wabah di Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam, Umar meminta semua kembali ke Madinah, dan sebaliknya orang-orang yang ada di Syam diminta untuk tidak keluar dari Syam.
Sebelum peristiwa itu, ada perdebatan menarik antara Amirul Mukminin Umar bin Khattab dengan Gubernur Syam Abu Ubaidah bin Jarrah tentang wabah penyakit dan takdir. Bermula karena pilihan Umar kembali ke Madinah, Abu Ubaidah mengatakan “Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar lalu menimpali dengan jawaban bijak, “Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.”
Meraih takdir Allah yang lain yang dimaksud Singa Padang Pasir itu adalah demi keselamatan umat. Keputusannya itu pun diambil bukan tanpa kajian dan diskusi. Diceritakan Abdullah Ibnu Abbas seperti diriwayatkan dalam hadis Abdurrahman bin Auf, ketika itu Umar minta dipanggilkan beberapa tokoh senior Muhajirin untuk diskusi.
Dalam diskusi itu ada yang menyarankan melanjutkan perjalanan ke Syam, dan banyak juga yang meminta kembali ke Madinah. Belum juga menemukan titik temu, pertemuan pun dibubarkan. Kemudian Umar meminta tolong kepada Ibnu Abbas untuk memanggil orang-orang Anshar. Lagi-lagi tak menemukan titik temu karena perdebatan.
Sekali lagi Umar bin Khattab meminta kepada Ibnu Abbas, tapi untuk memanggil dua tokoh senior Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukan Makkah. Kedua tokoh senior Quraisy itu menyarankan agar mengurungkan niat untuk ke Syam. Umar pun berusaha meyakinkan pilihan itu kepada Abu Ubaidah.
Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf menjelaskan, keputusan Umar itu sama seperti dalam sabda Rasulullah SAW, “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar darinya.”
Bisa dibilang, memutus mata rantai penyebaran virus, baik dengan karantina, menghindari kerumunan, dan menjaga kebersihan merupakan tindakan yang diajarkan agama dan ulama Muslim sejak ratusan tahun silam. Inilah protokol kesehatan yang diterapkan umat Islam ketika menghadapi wabah penyakit.
Penerjemah Kitab Wabah dan Thaun dalam Islam, Ustadz Fuad Saifudin membeberkan asal-muasal terjadinya wabah secara rasional, berikut solusi, saran dan kritik dari ahli hadis terkemuka mazhab Syafi’i, Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap perilaku manusia yang sering mempertentangkan kepatuhan kepada Tuhan dengan ikhtiar manusia.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, wabah tidak muncul begitu saja, tapi ada wasilahnya. “Islam menjadi agama yang ketika terjadi wabah, itu tidak terjadi karena kutukan atau gangguan setan. Tetapi itu bisa terjadi karena aktivitas udara yang buruk atau bisa jadi adanya zat beracun,” ujar Ustadz Fuad dalam tayangan OASE: Membedah Kitab Wabah dalam Sejarah Islam bersama Tribunnews, Kamis (4/9/2020).
Jadi, menghadapi wabah tidak ada hubungannya dengan keimanan. Misalnya, seseorang yang mengandalkan doa atau membaca ayat-ayat tertentu, lalu bersikap sembarangan. “Kemudian dia terkena wabah, itu tidak ada hubungannya dengan doa tidak diijabah. Tapi karena dia telah bersikap sembarangan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Luqman Hakim Arifin selaku CEO Rene Turos Indonesia menjelaskan bahwa Ibnu Hajar menganjurkan protokol kesehatan yang sama seperti yang dianjurkan Pemerintah saat ini. Salah satu yang menarik yang perlu ditegaskan adalah sains atau ilmu pengetahuan itu masih satu tarikan nafas dengan ajaran Islam. “Jadi, tidak perlu ada semacam pertentangan. Justru Islam dengan dogma-dogmanya menjadi satu kekuatan bagi kita bagaimana menghadapi pandemi Covid-19,” tuturnya. []





















