Sejak kecil kita diajari uluk salam. Bahasa Jawanya itu uluk salam, mengucapkan salam. Hanya dua salam untuk di dunia ini. Yang pertama Assalamu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, yang satunya lagi Assalamu ‘ala Manittaba’al Huda. Jadi salam-salam yang lainnya itu salam kulonan, salam beringin, salam kelapa, salam lapangan, salam stadion, salam gedung pertemuan, itu bukan salam. Yang salam itu hanya dua: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh dan Assalamu ‘ala manittaba’al huda, betul atau tidak?
Jadi di dunia ini hanya ada dua: Assalamu’alaikum untuk Islam dan Assalamu ‘ala manittaba’al huda untuk yang tidak Muslim. Setahu saya itu. Tapi ada tambahan-tambahan (salam yang lain), itu barangkali ya karena hobi. Kalau saya salam musik. Salam ngobrol. Saya katakan tidak ada salam yang lebih sempurna, lebih baik daripada salam kita, khaira tahiyyatin fil ‘aalamin. Tidak ada salam itu pakai nama Allah, betul tidak? Maka bersyukurlah, kita sudah mendapat ucapan khusus yaitu Assalamu’alaikum.
Kedua, bersyukur. Astaghfirullahaladzim, tahun ini, kemarin pada apel tahunan itu Pak Samsul sudah tidak ada, habis itu Pak Syukri tidak ada, tidak seperti tahun yang lalu. Terus anak saya juga mendahului saya. Setelah itu Pak Tikno, Bu Maimunah, yang dulu masih bersama kita, sekarang sudah tidak. Betul apa tidak? Kita bersyukur masih diberi waktu untuk istighfar, masih diberi waktu untuk beramal, nabuu bidzanbi nabuu bidzunubinaa wa nabuu bimaghfiratika.
Jadi kita menghadap kepada Allah dengan dosa-dosa kita semuanya dan datang kepada Engkau, Yaa Allah dengan maghfirah-maghfirah-Mu, bini’matika. Itu nikmat yang paling mahal. Binimatika ‘alayya itu nikmat yang paling mahal. Nikmat yang paling mahal bukan makan minum, bukan jabatan, dan bukan harta, dan yang lain. Nikmat paling mahal adalah maghfirah.
Ada orang memberi nasihat kepada saya. Meski sebetulnya tidak (secara khusus) memberi nasihat, tapi saya anggap nasihat yaitu kata-kata BJ Habibie almarhum. Apa yang dia sampaikan pada orang banyak, bicara di muka saya, itu nasihat. Saya sudah punya segalanya: ilmu sudah, jabatan sudah, harta sudah, anak sudah, popularitas sudah, lima benua sudah saya ‘injak-injak’. Apa yang belum? Istri sudah, anak sudah, cucu sudah, rumah sudah, kendaraan sudah, hiburan sudah. Apa yang belum? Apa yang belum dinikmati BJ Habibie? Tapi dia mengatakan, ada sesuatu yang kurang, yaitu yang untuk ke sana. Untuk yang ke sana apa? Yang untuk ke atas itu apa? Jangan sampai “yaa laitani kuntu turaabaa”. Yauma yanzhurul mar’u maa qaddamat yadaahu wa yaquulul kaafiru yaa laitani kuntu turaabaa. Inilah yang akan saya sampaikan, bahwasanya yang ada ini semuanya, tidak enaknya jadi manusia itu, satu. Enak atau nggak enak? Wallahu a’lam. Goblok-nya manusia itu.
Saya katakan manusia itu goblog karena dapat predikat dari Allah “innahu kaana zhaluuman jahuulan”, goblok, koplo, bodoh. Innaa aradhnal amaanata ‘alas samaawaati wal ‘ardhi wal jibaali. Semeru saja tidak berani, Himalaya tidak berani. Fa abayna an yahmilnahaa wa asyfaqna min haa wa hamalahal insan, innahu kaana zhaluuman jahuulan. Apa sebab?, mas’uliyyah. Kalau antum para mahasiswa/mahasiswi dalam ilmu mantiq, Al insaanu hayaawanun nathiq, yang benar Al insanu makhluqun mas’ul, manusia itu satu-satunya yang bertanggung jawab. Yaa Allah, Laa hawla walaaquwwata illa billah. []























