Zaman memang berubah. Tapi tidak dengan pesantren. Hingga saat ini, pesantren tetap eksis sebagai salah satu model pendidikan di Indonesia. Zaman dan teknologi memang berkembang sedemikian rupa, namun pesantren bertahan dengan sistem dan nilai-nilainya yang luhur. Uniknya, pesantren diakui dapat membendung dampak buruk kemajuan teknologi yang mampu menghambat mental generasi muda saat ini.
“Mana ada anak sekarang bisa meninggalkan HP dan TV di rumah, kecuali di pesantren. Niatnya bagus, supaya dia bisa berproses. Banyak anak tidak mau proses. Inginnya serba instan. Ini bisa berdampak pada kurangnya jiwa fight dalam dirinya. Nilai juangnya kurang,” tutur Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, KH Sofwan Manaf, kepada Majalah Gontor.
Menurutnya, salah satu lembaga pendidikan yang bisa membentuk karakter generasi muda bangsa menjadi lebih baik yaitu pesantren. Sekolah pada umumnya juga demikian, hanya saja pada lembaga pendidikan umum, minim dalam hal uswah hasanah. “Sebetulnya di sekolah umum konsepnya bagus, tapi apa yang didengar dan apa yang dilihat di sekolah berlainan dengan di masyarakat. Jadi, uswah hasanah yang kurang di masyarakat,”ujarnya.
Kiai Sofwan berpendapat, nilai-nilai yang mampu membuat anak atau generasi muda bangsa mempunyai nilai juang tinggi adalah uswah hasanah. Sebab, apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan akan membuat miliu. “Dan miliu ini ditanamkan di pesantren,” imbuhnya. Secara garis besar ada dua corak pesantren yang diterima oleh masyarakat Indonesia.
Karena itulah tak berlebihan jika masyarakat saat ini banyak meminati pesantren. Jika dulu masyarakat ‘menomorduakan’ pesantren alias menjadikannya sebagai pilihan terakhir untuk tempat pendidikan anak-anak, kini mulai berubah. Mereka menjadikan pondok pesantren sebagai pilihan utama pendidikan bagi anak-anaknya.
“Hal itu terjadi karena sekolah-sekolah yang ada sekarang, baik negeri maupun swasta, dirasa belum mampu menjamin pendidikan agama yang baik,” kata Prof Dr H Achmad Satori Ismail, ketua umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), kepada Majalah Gontor.
Menurut Satori, pendidikan agama dapat menyelamatkan agama dan moral generasi bangsa. Karena itulah para orangtua mencari alternatif sekolah yang konsen dan konsisten mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai agama yang shalih/benar sebagaimana diterapkan di pesantren. “Apalagi kualitas pendidikan pesantren kini juga sudah baik,” papar Direktur Pondok Pesantren Terpadu Al-Hassan, Pondok Gede, Bekasi, itu.
Pesantren sekarang tidak melulu memberikan ajaran agama, namun juga memperhatikan pengembangan ilmu-ilmu umum lainnya. Karena itulah lulusan pesantren siap bersaing dengan lulusan sekolah-sekolah unggulan atau sekolah umum. Buktinya, para alumni pesantren banyak yang berhasil mengikuti jenjang pendidikan unggulan, baik di kelas nasional maupun internasional. Di antara mereka banyak yang melanjutkan sekolah ke jurusan umum, di luar jurusan agama, seperti kedokteran, arsitek, ilmu politik, dan lainnya. Prestasi tersebut tentu semakin membuka ‘mata’ sebagian orangtua yang sebelumnya memandang remeh pendidikan pesantren.
Di zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan seperti sekarang, orangtua makin merasa khawatir akan pergaulan anak-anaknya. Lingkungan yang buruk dan pengaruh dari teman-teman sekitar, belum tentu bisa dihadapi dengan baik oleh setiap anak.
Oleh karena itu, agar anak terbebas dari ancaman kerusakan moral, salah satu solusi terbaik adalah dengan memondokkannya. “Tentu, pondok pesantren yang dipilih adalah pondok yang dapat mengawasi santrinya selama 24 jam penuh,” tegas Satori, pembina Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan, Jawa Barat.
Kriteria pondok yang dicari pun, sambungnya, juga harus yang menjunjung nilai kedisiplinan yang tinggi. Jika pesantren-pesantren yang berkualitas, terawasi, dan berdisiplin tinggi sudah dipilih, maka orangtua dapat tenang melepaskan putra-putrinya. Tanpa khawatir dengan gangguan kerusakan akhlak.
Namun, sejak dini orangtua harus mulai mengenalkan dasar pendidikan agama di dalam keluarga. Agar setelah anaknya diserahkan pada lembaga pendidikan selanjutnya, hasilnya dapat lebih maksimal. Anak pun dapat sukses menghadapi segala tantangan zaman dengan tetap memegang teguh syariat Islam sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah.
Pesantren modern
Secara garis besar di Indonesia ada dua corak pesantren: pesantren tradisional (salaf) dan pesantren modern. Tapi, “Sekarang ini yang banyak diterima masyarakat itu alumni pesantren yang tidak fanatik, tidak memusuhi alumni lain, tidak memusuhi kelompok lain. Dan pesantren modern termasuk yang banyak diminati masyarakat saat ini,” terang Sofwan.
Ia menyebutkan, pondok pesantren yang masyhur dengan sistem dan kurikulumnya yang modern, salah satunya adalah Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur. “Gontor ini role model. Model pola pendidikan, model sistem dan kurikulum yang membentuk karakter. Kalau model asrama yang bagus saya rasa banyaklah,” ungkapnya.
Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan yang memadukan sistem pendidikan madrasah dengan sitem pendidikan pesantren yang merupakan desain mendidik yang berbeda dengan lembaga pendidikan umumnya yang mengedepankan pengajaran daripada pendidikan. Dengan perpaduan dua sistem pendidikan itu menjadikan Gontor tak ubahnya rahim seorang ibu yang melahirkan kader-kader pemimpin umat.
Pondok Modern Gontor memiliki alumni yang telah menjadi tokoh, baik nasional maupun internasional. Sejumlah tokoh teladan umat seperti dua mantan Ketua Umum PBNU almarhum KH Idham Khalid dan KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, mantan Ketua MPR RI Dr Hidayat Nurwahid, cendekiawan Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, budayawan Emha Ainun Najib, penulis novel Ahmad Fuadi, Ketua GNPF Ulama Ustadz Bachtiar Nasir, dan sejumlah nama lain.
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid pun mengakui kebesaran Pondok Modern Gontor Darussalam. Menurutnya, kebesaran Pondok Modern Gontor Darussalam adalah karena Gontor tetap mempertahankan ajaran dan nilai-nilainya. “Ini karena keunggulan, kemuliaan dan keberkahan yang Allah berikan kepada Gontor melalui pendirinya,” paparnya dalam reuni akbar Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (3/9/2016).
Bak jamur di musim hujan, jumlah santri Gontor selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dalam kurun lima tahun terakhir jumlah santri Gontor, baik putra maupun putri tahun 2017 berjumlah 20.878 orang, tahun 2016 berjumlah 20.849, tahun 2015 berjumlah 20.711, tahun 2014 berjumlah 18.656 dan tahun 2013 berjumlah 18.604 orang. “Itu jumlah seluruh Gontor, termasuk UNIDA. Tapi itu tidak termasuk jumlah guru,”ungkap Ustadz Azhar Taufiqurrahman, salah satu staf KMI Gontor, kepada Majalah Gontor.
Adapun total seluruh pesantren alumni Gontor menurut Wakil Ketua Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor KH Sofwan Manaf berjumlah 384 pesantren. “Ini belum anak cucunya. Kalau Darunnajah saja mempunyai cabang 17. Darul Qalam dan Al Amin Prenduan Madura juga mempunyai cabang. Pernah dihitung secara kasar pesantren alumni Gontor dengan anak dan turunannya hampir seribu. Jadi, cita-cita seribu Gontor menurut saya in syaa Allah telah terwujud dan ini menjadi amal jariyah para pendiri Gontor,” ungkapnya.[]





















