Keranjingan gawai atau gadget hingga mengabaikan orang lain merupakan fenomena yang menjamur di sekitar kita. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sering larut dalam piranti gawai yang kian canggih dan cenderung abai dengan kondisi di sekitarnya.
Mengasuh anak pada era digital tidak semudah zaman dulu. Kemajuan teknologi memudahkan mendapat informasi, tapi memiliki dampak bagi perkembangan anak, baik positif maupun negatif. Namun yang paling penting, orangtua harus menggunakan pola asuh yang tepat agar anak bisa menggunakan kemajuan teknologi dengan baik.
Penggunaan gawai secara berlebihan dan tanpa kontrol akan menyebabkan dampak psikologis bagi si pengguna dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana tidak, pertemuan yang seharusnya berkualitas menjadi pertemuan tanpa makna karena masing-masing asyik dengan gawainya.
Keluarga sebagai miniatur masyarakat harus menjadi lingkungan pertama agar anggota keluarga bisa lebih bijak dalam menggunakan gawai. Peran serta orangtua dan anggota keluarga untuk bisa saling mengingatkan agar menggunakan gawai dengan cerdas dan mendidik harus ditanamkan di lingkungan keluarga.
Menurut Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel, ada tiga kunci orangtua sukses: ada komitmen, visi yang jelas, dan alokasi waktu untuk anak. Komitmen menunjukkan kesungguhan atau kemampuan untuk bertahan dalam agenda tugas hidup, konteksnya pengasuhan sebagai orangtua.
Di samping itu, orangtua juga harus mempunyai visi. Untuk itu, orangtua harus terus menambah wawasan dengan cara banyak membaca, diskusi, ikut komunitas nyata maupun maya agar visinya senantiasa termutakhirkan. Sedangkan alokasi waktu akan memberikan wadah bagi terealisasinya komitmen dan visi tersebut.
Bisa dibilang, gawai itu mengondisikan makhluk menjadi multitasking sehingga akan muncul gesekan ketiga hal di atas. Karena itu, kita harus menemukan keharmonisan akan keberadaan gawai yang multitasking itu. Pergunakan gawai sebagai instrumen untuk memperkuat perilaku positif anak.
Jadi, yang mengunci kapan atau tidak boleh menggunakan gawai bukan berdasarkan waktu dan usia, tapi berdasarkan perilaku positif anak. “Kalau anak-anak tetap susah diarahkan dan tidak menunjukkan perilaku yang baik, maka jangan memberikan gawai kepada anak. Perilaku baik, baru terbuka pegang gawai dan waktu tetap diatur,” ujarnya.
Elly Risman, psikolog sekaligus pakar parenting, menambahkan, sejak kecil anak sudah diberikan gawai tanpa batasan waktu maupun batasan konten. “Sedikit sekali ibu yang memiliki pengetahuan bahwa alat tersebut memiliki dampak yang sangat serius bagi perkembangan otak anak, berdampak bagi anak dan masa depannya,” ungkapnya.
Ironis lagi, gawai diberikan oleh orangtua sebagai pengganti kehadiran diri, cinta dan kasih sayang. “Akibat tidak siap, kita menjadi ibu yang abai. Ketidaksiapan ilmu agama membuat kita abai. Tujuan utama pengasuhan adalah menghasilkan anak yang takwa, bukan sekadar dokter dan insinyur,” imbuhnya.
Ia mengutip sebuah surat an-Nisa’ ayat 9 yang berbunyi, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”
Karena itu, Elly menghimbau kepada para ibu agar bijak menyikapi anak dengan gawainya. “Bijak dalam mengajarkan agama, bijak dalam menghadapi keunikan diri anak, bijak mendampingi dan menyekolahkan anak, hingga bijak berteknologi agar anak mampu hadapi tantangan hidup,” jelasnya.
Elly menekankan agar orangtua mampu memberikan quality time kepada anak untuk menanamkan kebijaksanaan hidup kepadanya. “Allah memberi anak sebagai amanah. Ia menitipkannya dalam keadaan baik, tanggung jawab kita adalah mengembalikannya kelak dalam keadaan baik,” pungkasnya. []





















