Kesuksesan tidak hanya milik mereka yang beruang. Kesuksesan dan mimpi milik siapa pun yang bertekad dan bekerja keras, sekalipun dalam kondisi ekonomi yang terhimpit. Inilah yang sudah dibuktikan oleh banyak anak bangsa yang telah berhasil mewujudkan cita-cita berkuliah di luar negeri melalui beasiswa. Bahkan di antara mereka ada yang kesulitan mendapatkan informasi seputar beasiswa lantaran tinggal di pelosok desa.
Livia Oktaviani
Perempuan asal Riau ini berhasil menyelesaikan pendidikan program magisternya (S2) di University of York, United Kingdom, melalui beasiswa. Β βAlhamdulillah aku baru menyelesaikan S2 di London, Inggris, pada jurusan Sastra Inggris,β kata Livia dalam kanal Youtube pribadinya Offiviallivia.
Dalam kanal youtube tersebut, Livia banyak membagikan cerita tentang kehidupan dan perjuangannya yang tidak biasa untuk akhirnya berhasil mendapatkan beasiswaΒ melanjutkan pendidikan S2-nya.
Lahir dari keluarga dengan ekonomi yang serba kekurangan, Livia sejak kecil sudah dihadapkan dengan kerasnya hidup. βWaktu SD aku sudah harus bertahan untuk hidup, untuk makan saja aku tidak ada apa-apa,β ungkapnya.
Namun baginya, Allah selalu memberikan pertolongan dan tidak pernah meninggalkannya dalam kekurangan. Ia pun kerap mendapatkan bantuan dari tetangganya sehingga ia tidak pernah merasakan kelaparan.
Kemudian untuk bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, Livia harus tinggal di rumah orang lain. Tidak hanya itu, ia bahkan sudah terbiasa berjualan apa saja agar bisa mendapatkan uang untuk ongkos sekolah. βBukan untuk makan tapi untuk ongkos,β katanya lagi.
Sementara untuk makan atau uang jajan, ia sangat bersyukur karena berada di antara sahabat-sahabatnya yang sangat peduli dengannya. Setiap hari ia ditraktir jajan ataupun makan. βTapi itu bukan simbiosis parasitisme ya, karena aku juga membantu mereka, misalnya dalam pelajaran, bikin tugas dan lain-lain,β tambahnya.
Karena semangat belajarnya kuat meski dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Livia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana (S1) walaupun sambil bekerja. βSiang sampai sore aku kerja, malamnya baru aku kuliah. Karena disambi kerja pastinya kampusnya juga bukan kampus bergengsi,β jelas Livia.
Sampai akhirnya, di tahun 2018 ia mendapatkan informasi tentang adanya beasiswa ke luar negeri. Bermodalkan kemampuan bahasa Inggris dan semangat belajar, Livia memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa tersebut.
Awalnya Livia mendapatkan kesulitan lantaran informasi yang diperolehnya sangat terbatas. Namun ia tidak menyerah hingga berhasil mendapatkan beasiswa yang diinginkan dan diterima di University of York, United Kingdom, pada jurusan Sastra Inggris dan berhasil menyelesaikannya tahun 2024.
Saat ini Livia aktif dalam organisasi Education for All. Organisasi yang didirikannya sendiri itu fokus pada pendidikan. Khususnya untuk membantu anak-anak muda di tempat asalnya, Riau, agar mereka bisa mencapai pendidikan tinggi.
Muhammad Yani
Kisah inspiratif lainnya datang dari Muhammad Yani. Laki-laki asal Pandeglang, Banten, ini juga berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Universitas Harvard, Amerika Serikat.
Kisah hidup laki-laki yang akrab disapa Yans ini hampir sama dengan kisah Livia. Bahkan Yans pernah tidur di emperan toko lantara tidak bisa membayar kontrakan.
Sang ayah, yang hanya jualan nasi goreng, tidak bisa memberikan kehidupan yang cukup untuk keluarganya. Yans akhirnya membantu mencukupi kebutuhan keluarga dengan berjualan tahu. Karenanya ia pun hampir putus sekolah.
Namun semangatnya yang kuat dan tidak mudah menyerah, Yans pun terus berusaha hingga akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa S2 di salah satu kampus ternama di dunia, Harvard University, pada jurusan Human Development and Education.
βKita tidak akan pernah tahu kapasitas dan kemampuan diri kita kalau belum mencoba,β tulisnya di akun muhammadyani070901.
Yans pernah mengalami kegagalan saat mendaftar beasiswa ke Columbia University pada 2023 lantara harus operasi tumor pedis di kakinya.
βSempat down, tapi berkat dukungan orang terdekat dan keluarga, akhirnya saya bisa mempersiapkan diri untuk mencoba dengan memaksimalkan persiapan di tahun 2024,β ujarnya. Akhirnya di tahun 2024 Yans berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya.
Selain kuliah, saat ini Yans juga aktif di berbagai kegiatan. Ia mendirikan Leuweung Hub Foundation, gerakan pendidikan non-formal yang sudah membantu 287 pelajar di Desa Cibaliung, Pandeglang, Banten, memperoleh beasiswa S1.
βSetiap anak di Cibaliung harus bisa bermimpi tanpa batas. Saya ingin membuktikan bahwa garis takdir bisa diubah, bahwa anak desa pun bisa berdiri di panggung dunia,” katanya.
βSakit, kecewa, marah, sedih, bahagia, mereka datang semaunya. Tapi jangan ada kata menyerah hanya karena kamu tidak sanggup melangkah,β tulis Yans.
Zazkia Zahra
Tidak kalah menariknya, kisah inspiratif juga datang dari Zazkia Zahra, alumni SMAN 1 Leuwiliang, Bogor, yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah program sarjana (S1) di Universitas Toronto, Kanada.
Anak seorang sopir (driver) ini berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa latar belakang apa pun tidak menjadi penghalang untuk meraih mimpi besar.
Saat duduk di bangku SMA, Zazkia merupakan siswi berprestasi dan pintar. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi sekolah dan dikenal berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya.
Dikenal sebagai anak yang rajin, ia mengembangkan kemampuan akademiknya secara mandiri melalui buku-buku perpustakaan, materi daring, dan latihan mandiri.
Dalam sebuah wawancara Zazkia menjelaskan bahwa keinginannya melanjutkan kuliah di luar negeri Β tak lepas dari kecintaannya pada bidang teknik dan semangatnya membangun negeri. Untuk itu ia mengambil program studi Teknik Elektro (Electrical Engineering).
βSaya ingin Indonesia bisa mengembangkan industri semikonduktor sendiri. Saya ingin mulai dari diri saya dan ajak teman-teman lintas jurusan buat kerja bareng,β ujarnya.
Prestasi dan capaian ini menjadi bukti nyata bahwa siapa pun dan dari latar belakang apa pun bisa meraih mimpi besar. Dengan doa serta tekad kuat serta semangat belajar tinggi, Zazkia menempuh jalan panjang dan penuh tantangan hingga akhirnya lolos seleksi ke universitas yang masuk peringkat 25 besar dunia versiΒ QS World University Rankings.
Demikian kisah-kisah inpiratif yang dapat menjadi contoh bagi generasi muda Indonesia, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Mimpi milik semua orang yang mau dan bertekad meraihnya. []





















