Gontornews — Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis Multiple Intelligences (MI) di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMA IT) Insan Mandiri Cibubur.
Pendidikan Agama Islam (PAI) dituntut agar dapat mewujudkan output (lulusan) yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang kreatif, inovatif, dan berpikir kritis. Diantara inovasi strategi pembelajaran yang menarik untuk mengembangkan potensi, kerampilan, dan kemampuan peserta didik adalah strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (MI).
Berdasarkan hasil penelitian Dr Agus Syukur MPd maka diperoleh kesimpulan, implikasi, dan saran sebagai berikut: Pertama, penerapan pembelajaran PAI berbasis MI didasari oleh beberapa landasan, diantaranya satu, landasan konsep fitrah, yang meliputi fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, dan fitrah perkembangan.
βLandasan tersebut sejalan dengan teori belajar konvergensi dimana perkembangan belajar peserta didik dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk bakat, lingkungan, dan aktivitas peserta didik sendiri,β terang pria kelahiran Desa Walang Sanga, Moga, Pemalang, Jawa Tengah tersebut.
Dua, paradigma masyarakat tentang kecerdasan peserta didik yang masih mengacu pada ranah kognitif saja, sementara MI memandang bahwa peserta didik memiliki kecerdasan yang beragam. Dengan demikian, ranah penilaian pun harus berimbang dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Tiga, mewujudkan sekolah inklusif yang merupakan perwujudan dari konsep pendidikan demokratis. Dimana peserta didik diberi kesempatan belajar yang sama dengan tanpa melihat latar belakangnya.
Empat, mewujudkan pembelajaran βthe best processβ, bukan hanya βthe best inputβ. Artinya pembelajaran jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan lulusan yang baik pula.
Lima, menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berkompetensi, dan berketerampilan. Sesuai dengan apa yang dituangkan dalam tujuan kurikulum merdeka belajar yakni menghasilkan lulusan yang memiliki literasi data, literasi bahasa, literasi numerik, literasi digital, dan literasi norma-norma agama.
Kedua, integrasi pembelajaran PAI dengan konsep MI bertujuan untuk memadukan antara hakikat, tujuan, dan hasil pembelajaran PAI dengan sembilan potensi kecerdasan yang dimiliki peserta didik, serta mencari keterkaitan antara materi PAI (yang bersifat normatif) dengan pembelajaran berbasis MI (yang bersifat empiris) melalui manajemen pembelajarannya. Integrasi pembelajaran PAI dengan konsep MI dilakukan dengan menggunakan program βQurβan Based Learningβ.Β
Berikutnya hasil pembelajaran PAI berbasis MI adalah (output) atau lulusan yang memiliki sikap religius serta memiliki kompetensi dan keterampilan yang beragam, yang dihasilkan dari sembilan kecerdasan jamak.
Doktor muda yang memiliki hobi membaca dan qasidah ini lantas menambahkan, βArtinya pembelajaran PAI berbasis MI menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dalam literasi data, literasi bahasa, literasi numerik, literasi digital, dan literasi sosial, sebagaimana dituangkan dalam tujuan kurikulum merdeka belajar.β
Ketiga, dalam tahap perencanaan pembelajaran PAI berbasis MI, dilakukan riset MIR (Multiple Intelligences Research) terhadap calon peserta didik untuk memetakan kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya.
Multiple Intelligences Research (MIR) merupakan pedoman utama dalam menerapkan pembelajaran berbasis MI. MIR juga merupkan alat riset yang berfungsi untuk mengidentifikasi gaya belajar dan kecenderungan kecerdasan peserta didik.
Pelaksanaan MIR dilakukan setelah proses penerimaan peserta didik baru dengan tujuan untuk pemetaan kelas, dan saat peserta didik hendak berakhir masa studinya dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik dalam memilih prodi atau fakultas sesuai dengan hasil riset MIR.
Hasil MIR ini nantinya menjadi database, baik bagi sekolah, guru, wali murid maupun peserta didik itu sendiri. Selain itu, hasil riset MIR juga dapat digunakan guru dalam menyusun lesson plan (RPP). Dengan data hasil MIR, guru akan menyesuaikan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran dengan gaya belajar dan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik.
Keempat, dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis MI yang pada intinya adalah pembelajaran berpusat pada peserta didik, menggunakan model pembelajaran (Quantum Teaching) yang memiliki kerangka dasar pengajaran yang disingkat TANDUR, yakni tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.
Kemudian menciptakan pembelajaran aktif (active learning) yang nyaman, menarik, efektif, dan inovatif. Dalam mewujudkan pembelajaran yang nyaman dan menarik itu, maka dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis MI, memiliki karakteristik tersendiri yakni pada awal kegiatan pembelajaran, guru melakukan kegiatan apersepsi yang meliputi zona fokus (zona alfa), pemanasan (warmer), penjelasan prosedur pembelajaran (pre-teach), dan penyajian penghubung materi pelajaran (scane setting).
Diantara contohnya seperti dalam zona fokus, guru mengisi dengan βice breakingβ, βfun storyβ, menyetel music, dan sebagainya. βIntinya untuk merangsang otak reptil peserta didik agar merasa aman, nyaman, dan menarik, sehingga siap dan fokus untuk melaksanakan pembelajaran,β ungkap Dr Agus yang kini tengah menggeluti profesi dosen di Universitas Nusamandiri ini.
Berikutnya dalam βwarmerβ sendiri, guru mengisinya dengan kegiatan umpan balik (feedback) atau mengulas pembelajaran yang telah disampaikan. Kegiatan ini bisa diisi dengan pertanyaan berantai, mencocokkan antara pertanyaan dengan jawaban, dan seterusnya.
Kelima, dalam evaluasi pembelajaran berbasis MI menggunakan penilaian autentik, yakni penilaian yang memiliki tiga karakteristik yang meliputi: a) Menilai ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara berimbang; b) Instrumen penilaian pembelajaran menggunakan beragam instrumen yang variatif, tidak monoton jenis tes saja; c) Menilai kondisi awal peserta didik (input), kondisi saat belajar (process), dan kondisi akhir pembelajaran (output).
Keenam, faktor pendukung pembelajaran PAI berbasis MI adalah kompetensi dan keterampilan guru, motivasi wali murid, kesiapan psikologis peserta didik, program ekstrakurikuler, dan sarana-prasarana.
Adapun faktor penghambat pembelajaran PAI berbasis MI yang paling utama adalah guru tidak memiliki empat standar kompetensi keguruan, yang meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial, dan profesional. Berikutnya kurangnya dorongan wali murid dalam turut serta mendukung pembelajaran berbasis MI, serta ketidaksiapan psikologis peserta didik dalam belajar.
Selanjutnya faktor sarana-prasarana, waktu, dan program ekstrakurikuler yang tidak memadai, juga berpengaruh besar dalam pembelaran PAI berbasis MI. βDimana potensi, kecerdasan, dan bakat peserta didik tidak dapat dikembangkan secara maksimal, dengan tanpa adanya sarana-prasarana, serta program ekstrakurikuler yang memadai,β tutup putra dari pasangan H Kamali dan Hj Khomisah tersebut. [Edithya Miranti]
Β Biodata Peneliti
NamaΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β : Dr Agus Syukur MPd
Tanggal LahirΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β : Pemalang, 28 Agustus 1988
KegiatanΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β : Dosen Universitas Nusamandiri
PendidikanΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β :
- S1, Pendidikan Bahasa Arab, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
- S2, Pendidikan Agama Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.
- S3, Pendidikan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2023.
Pengalaman KerjaΒ Β Β Β Β :
- Guru Sekolah Dasar, mengajar dengan kurikulum Cambridge (2013-2014).
2. Guru Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas (2014-2019).





















