Brussel, Gontornews — Sebuah penelitian dari European Society of Cardiology (ESC) menemukan bahwa tingkat aman konsumsi alkohol di sebuah negara berkaitan dengan jumlah pasien gagal jantung. Dr Bethany Wong dari Rumah Sakit Universitas St Vincent Dublin Irlandia mendesak negara-negara untuk hati-hati dalam menentukan batas aman konsumsi alkohol bagi warganya.
“Studi ini menambah bukti bahwa pendekatan yang lebih hati-hati terhadap konsumsi alkohol diperlukan,” ungkap Wong sebagaimana dilansir Scitech Daily.
“Untuk mengurangi risiko alkohol yang menyebabkan kerusakan jantung, jika Anda tidak minum maka jangan mulai (untuk minum alkohol). Jika Anda minum, batasi konsumsi pekanan Anda menjadi kurang dari satu botol anggur atau kurang dari tiga kaleng alkohol 500 ml bir 4,5 persen,” sambung Wong.
Data badan kesehatan dunia, WHO, menunjukkan Uni Eropa menjadi wilayah dengan konsumsi peminum alkohol terberat di dunia. Meski banyak warga Eropa memahami bahwa konsumsi alkohol berat dalam jangka waktu dapat menyebabkan kardiomiopati alkoholik, bukti dari populasi Asia menunjukkan jumlah yang rendah juga dapat merugikan.
“Karena ada faktor genetik dan perbedaan lingkungan antara populasi di Asia dan Eropa, penelitian ini menyelidiki apakah ada hubungan serupa antara alkohol dan perubahan jantung pada orang Eropa yang mendorong risiko gagal jantung,” jelas Wong.
“Penanganan utama untuk kelompok ini adalah pengelolaan risiko seperti alokohol, jadi pengetahuan tentang tingkat aman (konsumsi alkohol) sangat penting,” tambah Wong.
Penelitian ini melibatkan 744 orang dewasa berusia di atas 40 tahun dengan risiko gagal jantung (akibat tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas) atau dengan pra-gagal jantung. Usia rata-rata koresponden 66,5 tahun dan 53 persen perempuan. Penelitian ini juga mengecualikan mantan peminum dan pasien gagal jantung dengan gejala seperti sesak napas, kelelahan, berkurangnya kemampuan untuk olahraga dan pergelangan kaki bengkak. Sementara untuk mengukur fungsi jantung, peneliti menggunakan ekokardiografi pada awal dan fase lanjutan.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa minum lebihi dari 70 gram alkohol per pekan dikaitkan dengan memburuknya gagal jantung atau (meningkatnya) perkembangan gagal jantung dengan gejala di Eropa. Kami tidak mengamati manfaat dari penggunaan alkohol rendah,” ujarnya.
“Hasil (penelitian) kami menunjukkan bahwa negara-negara harus menganjurkan batas aman konsumsi alkohol pada pasien pra-gagal jantung. Di Irlandia misalnya, mereka, yang berisiko gagal jantung atau dengan pra-gagal jantung, membatasi asupan alkohol pekanan hingga 11 unit bagi wanita dan 17 unit bagi pria,” lanjutnya.
“Batas untuk pria ini lebih dari dua kali lipat jumlah yang kami temukan aman. Karenanya, (kami menyarankan) perlu lebih banyak penelitian pada populasi Kaukasia untuk menyelaraskan hasil dan mengurangi pesan yang diterima dokter, pasien dan masyarakat saat ini,” tutup Wong. [Mohamad Deny Irawan]






















