pesanan-baju-kaos
29 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 6 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Dirasah

Manifestasi Keshalihan Sosial Umat Islam

Oleh Ahmad Tauhid Mafaza SPd, Mahasiswa Program Pascasarjana UNIDA Gontor

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
7 years ago
in Dirasah
0
foto: harian sulses

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”

Islam merupakan satu-satunya dien yang telah Allah turunkan secara sempurna. Tidak ada kekurangan apalagi kecacatan. Bahkan untuk sekedar meragukannya saja tidak mungkin. Semua rambu yang dibutuhkan manusia sebagai hamba telah Allah Ta’ala sediakan. Rambu-rambu yang bakal mereka gunakan untuk menjalani kehidupan di dunia dan mempersiapkan kehidupan di alam setelahnya. Kesempurnaan Islam telah Allah Ta’ala jamin kebenarannya melalui firman yang artinya, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Ayat ketiga dari Surat al-Maidah ini kemudian ditafsirkan oleh seorang pakar tafsir terkemuka, Ibnu Katsir, sebagai sebesar-besarnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada umat Islam dengan menyempurnakan agama mereka. Sehingga tidak lagi memerlukan agama-agama yang lain dan tidak pula nabi. Sebab Allah Ta’ala telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Serta mengutusnya kepada umat manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal dan haram kecuali apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah Ta’ala. Dan tidak ada pula agama kecuali yang disyariatkan-Nya. Semua yang difirmankan-Nya benar. Tidak ada sedikitpun kedustaan. [Tafsir Ibnu Katsir]





Salah satu wujud kesempurnaan agama Islam tampak pada cara Islam mengatur kehidupan manusia. Mulai dari perkara mendasar seperti bersuci dari kotoran dan najis, hingga perkara besar yang berkaitan dengan iman, Islam, dan ihsan. Bahkan tidak hanya sebatas mengatur kehidupan individual manusia. Melainkan juga mengatur kehidupan bersosial antarsesama makhluk, hingga kepada Zat yang menciptakan makhluk, yang lebih familiar dengan istilah hablumminannas dan hablumminallah.

BACA JUGA

Pemuda, Masjid, dan Masa Depan Peradaban Islam

Menggali Akar Integritas dalam Tradisi Keilmuan Islam

Merawat Adab di Tengah Ragam Tradisi Pesantren

Walisongo dan Proses Islamisasi di Kepulauan Nusantara

Masjid sebagai Poros Utama Peradaban Islam

Dua istilah di atas sebenarnya mengacu pada satu firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran ayat 112 yang artinya, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” Oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah dan beberapa mufassir sahabat, mereka tafsirkan sebagai perjanjian dari Allah Ta’ala (dengan masuk Islam sebagai jaminan keselamatan di dunia dan akhirat) dan perjanjian dari manusia (seperti jaminan keamanan terhadap tawanan perang). [Ibid]

Namun jika dilihat dari sisi bahasa, hablumminallah memiliki arti hubungan atau ikatan dengan Allah Ta’ala. Sedangkan hablumminannas berarti hubungan dengan manusia. Agar lebih mudah kita memahami esensi dari dua istilah di atas, kiranya firman Allah Ta’ala yang satu ini bisa menjadi gambarannya. “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak­anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (TQS An-Nisa’: 36)



Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat di atas bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Karena Dia Sang Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Maha Pemberi kenikmatan, dan yang mengaruniai makhluk-Nya di setiap keadaan. Dan Dia-lah yang paling berhak untuk di-Esa-kan dan tidak untuk dipersekutukan. Senada dengan ayat ini, hadis Nabi SAW kepada Mu’adz bin Jabal, “Apakah kamu tahu, hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi SAW bersabda, “Hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”

Kemudian Nabi SAW kembali bertanya kepada Mu’adz, “Apakah kamu tahu, hak seorang hamba atas Allah jika mereka mengerjakannya? Yaitu Allah tidak akan mengadzab mereka.” Sampai di sini kita bisa menangkap sebuah gambaran jalinan hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah Ta’ala sebagai Pencipta makhluk. Atau yang kita istilahkan dengan hablumminallah. Yaitu dengan cara memenuhi hak-hak Allah atas hamba-Nya. Berupa menyembah dalam bentuk ibadah dengan berbagai macam ritualnya. Seperti shalat, puasa, zakat, haji, umrah, dan seperangkat ibadah lainnya. Dan juga tidak lupa untuk tidak menghadirkan tandingan bagi Allah Ta’ala, apa pun itu bentuknya.

Peribadatan serta penghambaan memang merupakan hak utama Sang Maha Menciptakan makhluk atas makhluk ciptaan-Nya. Terlebih khusus dari bangsa jin dan manusia. Karena dengannya, tujuan dari penciptaan jin dan manusia akan tercapai. Yaitu hanya untuk menyembah Allah Ta’ala dengan berbagai macam peribadatan. Sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (TQS adz-Dzariyat: 56).

Cakupan dari makna ibadah sangatlah luas. Tidak hanya melulu terbatas pada pelaksanaan lima rukun Islam. Melainkan sebagaimana keterangan Syaikh Dr Adbdullah bin Muhammad al-Ghunayman bahwa ibadah adalah sebutan yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala. Dan terklasifikasikan pada tiga unsur. Pertama, dalam perkataan, seperti bertasbih, berdzikir, membaca al-Qur’an, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan amalan semacamnya yang diaplikasikan melalui lisan.

Kedua, dalam amalan yang melibatkan gerakan anggota tubuh, seperti rukuk, sujud, thawaf, sampai dengan melepas penutup kepala ketika ihram pun juga termasuk bagian ibadah. Dan yang ketiga, tercakup dalam amalan yang diperankan oleh hati, seperti niat, rasa takut dan khawatir, rasa penuh harap, serta tobat dan penyesalan atas dosa, atau yang semacamnya.

Semua amalan di atas mencakup amalan tampak yang dipraktikkan oleh anggota badan dan amalan tidak tampak yang diperankan oleh hati. [Syarh Kitab Tauhid].

Lantas, apakah sudah dikatakan cukup, ketika seorang Muslim berhasil menjalin hubungan baik dengan Rabbnya saja? Tentu tidak. Sebab keshalihan individual tidak akan bernilai tinggi tanpa dibarengi dengan keshalihan sosial. Sebagaimana Nabi SAW tegaskan dalam satu sabdanya, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana kecintaan terhadap dirinya sendiri.” (HR Bukhari & Muslim).

Keterkaitan antara hablumminallah dengan hablumminannas bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Dalam banyak hadisnya, Rasul senantiasa menyandingkan antara keduanya. Seperti, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhrai & Muslim).

Dari hadis di atas kita bisa melihat bahwa tahap lanjutan setelah seorang Muslim sukses menjalin hubungan kepada Allah Ta’ala dengan beriman yaitu dengan menjalin hubungan baik kepada sesama manusia. Dengan cara tidak berkata-kata kasar yang menyakiti, memuliakan tetangga, dan juga tamunya. Lalu, seperti apakah bentuk dari hablumminannas itu? Untuk mengetahui gambaran dari hablumminannas, kiranya kita bisa kembali merujuk pada ayat ke-36 dari Surat an-Nisa’ di atas. Masih dari tafsir yang sama, Ibnu Katsir memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ayat tersebut.

Setelah menerangkan tentang hak peribadatan Allah atas hamba-hamba-Nya, Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa Nabi SAW mewasiatkan kepada umatnya agar berbuat baik kepada orangorang di sekitar kita. Pertama, kepada kedua orangtua. Sebab Allah Ta’ala telah menjadikan keduanya sebagai perantara keberadaan kita di alam semesta ini. Bahkan saking pentingnya perkara bakti kepada kedua orangtua, Allah Ta’ala senantiasa menyandingkannya dengan perintah beribadah kepada-Nya. Seperti dalam firman yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu­bapak.” (QS Al-Isra: 23).

Kedua, anak-anak yatim. Demikian karena mereka telah kehilangan orang yang menanggung kemaslahatan dan yang memberi nafkah mereka. Ketiga, orang-orang miskin, yaitu orang yang memerlukan bantuan dari orang-orang yang mampu mencukupi kebutuhan mereka. Keempat, tetangga yang jauh maupun dekat. Baik itu ada hubungan kekerabatan atau tidak. Muslim maupun non-Muslim.

Kelima, teman-teman sejawat. Ada yang menafsirkannya sebagai istri, tamu, atau ibnu sabil (teman seperjalanan). Keenam, hamba sahaya, dikarenakan mereka lemah upaya yang berada di bawah kekuasaan orang lain.

Keshalihan sosial umat Islam merupakan sesuatu yang tidak memiliki wujud secara fisik. Namun ketiadaannya secara fisik bukan berarti meniadakan eksistensinya. Meskipun ia tidak kasat mata, tapi eksistensinya mampu untuk kita rasa. Karena ia termanifestasikan dalam peribadatan kepada Allah dan muamalat kepada sesama manusia. Sehingga umat Islam tidak hanya sebatas menjadi shalih individualis, melainkan juga shalih sosialis. Wallahu a’lamu bish shawab. []

Tags: Keshalihan sosial
Share76Tweet48Send
Previous Post

Layanan Sertifikasi Halal Online Diperpanjang Hingga 13 Mei 2020

Next Post

Pandemi Covid-19: 2.635.71 Kasus dan 184.066 Kematian

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Perkuat Branding & Promosi Kampus, UNIDA Gontor Gandeng Primago Consulting Depok

Perkuat Branding & Promosi Kampus, UNIDA Gontor Gandeng Primago Consulting Depok

30 October 2026
Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

29 October 2026
KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

2 November 2026
Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

30 October 2026
Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

0
masjid asmaul husna

Masjid 99 Kubah, Keindahan Arsitektur dengan Filosofi Asmaul Husna

0
roni punk

Roni Bodax: Anak Jalanan yang Menemukan Jalan Hijrah

0
Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

0
Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

0
Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

5 November 2026
Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

5 November 2026
roni punk

Roni Bodax: Anak Jalanan yang Menemukan Jalan Hijrah

5 November 2026
masjid asmaul husna

Masjid 99 Kubah, Keindahan Arsitektur dengan Filosofi Asmaul Husna

5 November 2026
Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

5 November 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result