Jakarta, Gontornews– Mas’ud Dompas bisa membuktikan bahwa dirinya bisa meninggalkan dunia gelap yang pernah dilakukannya. Jika dulu kurang memperhatikan pendidikan, Dompas sekarang berubah drastis tidak seperti dulu. Ya. Kini Dompas jadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya.
Adalah Mas’ud Dompas, warga Desa Candali, kecamatan Ranca Bungur, Bogor, Jawa Barat, sejak kecil memang dikenal badung di kampungnya. Di sekolahnya pun predikat pemalas disandangnya. Beranjak dewasa, Dompas bekerja menggembala kambing milik tetangganya. Ingin mencoba peruntungan lainnya, Dompas merantau dan diterima bekerja di sebuah pabrik kertas di Jakarta.
Setelah dua tahun jadi buruh, Dompas pindah ke tempat kerja lainnya. Kali ini Dompas diterima bekerja sebagai petugas bar di sebuah hotel di Jakarta. Dari sinilah Dompas muda kenal dunia malam dan kriminal. Perjudian, narkotika seolah teman akrab baginya.
Beberapa tahun setelahnya Dompas pindah ke wilayah Grogol Jakarta Barat. Di sana Dompas kembali jadi buruh. Bukan menjadi lebih baik malah profesi buruhnya kali ini cuma sebagai kedok. Karena mencopet jadi profesinya, di samping jadi buruh. Bukan hanya itu, narkoba dan judi adalah makanan sehari-harinya saat itu.
Karena orangtuanya menganggap Dompas sudah mapan iapun diminta untuk segera menikah. Oleh orang tuanya Dompas diperkenalkan dengan wanita yang juga disukainya. Bak gayung bersambut akhirnya mereka menikah hingga sekarang dikaruniai enam orang anak.
Saat anak pertamanya beranjak remaja, pria yang kini berusia 58 tahun ini, khawatir kalau perilaku anaknya sama sepertinya saat muda dulu. Dari situ kehidupan gelapnya perlahan mulai ditinggalkan demi menata kehidupan menjadi lebih baik. Kerja serabutan apa saja dinikmatinya.
“Sedikit yang penting halal. Yang namanya pengen bener, apalagi saya sudah tua, yang gak bener itu mulai saya tinggalkan. Kalau dulu sehari bisa pegang seratus ribu Tapi buat apa ya kalau gak bener caranya,” ungkapnya kepada Gontornews.
Keinginan untuk menjadi lebih baik semakin tumbuh dalam dirinya. Keinginan mengajar ngaji mulai muncul. Tapi ia sadar kalau dirinya tidak terlalu mahir baca Alquran. Karena itu Dompas mulai baca Alquran lagi sambil mengingat apa yang pernah diajarkan saat di madrasah dulu.
Perlahan mulai membaik bacaan Alqurannya, lantaran belum ada yang mengajar ngaji di sekitar tempatnya tinggal, Dompas memberanikan diri untuk mengajar ngaji dengan murid pertamanya, putranya yang bernama Ado. Tak lama setelah itu teman-teman Ado berangsur ikut ngaji bersamanya setiap ba’da Maghrib.
Tak disangka-sangka masyarakat ikut merespon niat baik Dompas itu. Seiring berjalannya waktu, tempatnya mengajar ngaji, yaitu balai bambu depan rumah Dompas tidak bisa menampung lagi, karena semakin banyak yang ikut ngaji.
Dompas pun berinisiatif membuat mushala gubuk bambu agar bisa menampung anak-anak warga di sekitar rumahnya yang ingin belajar ngaji. “Saya minta tanah ke mertua supaya diwakafkan untuk tempat ibadah,”jelasnya.
Qadarullah. Pada tahun 2012 Dompas dipertemukan dengan LAZ Al Azhar Peduli Ummat yang ingin membantu merenovasi mushalla bilik bambu itu. “Waktu itu pula saya total hijrah untuk menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah ada yang membantu,” ucapnya bahagia.
Dalam waktu kurang dari dua bulan mushalla bilik bambu selesai direnovasi. Kesan bahagia tergurat di wajah Dompas dan warga sekitar karena tak disangka mereka punya mushalla yang sejak lama diinginkan.
Kesenangannya pun bertambah kala mushalla yang diberi nama Mushalla Nur Hikmat saat ini penuh dengan kegiatan keagamaan, majelis taklim, baik dari ibu-ibu, bapak-bapak dan remaja.
Saat ini murid yang belajar ngaji bersama Dompas mencapai 45 anak. Bahkan saat ini sudah berdiri PAUD di Mushalla tersebut. “Dulu cuma 4. Sekarang 45-an. Yang dulu belajar ngaji sekarang ada yang sudah kuliah dan saya bisa memperbaiki bacaan Alquran ke mereka,” ungkapnya bersyukur.
“Termasuk ke anak saya, yang dulu saya ajarkan mengaji, sekarang saya belajar ke anak saya. Alhamdulillah anak saya ada yang mesantren itu juga dibantu LAZ Al Azhar. Sekarang anak-anak saya yang ngajar TPA dan PAUD,” imbuhnya.
Kini Dompas sudah seratus persen meninggalkan dunia gelapnya. Dengan adanya program Indonesia Gemilang milik LAZ Al Azhar melalui konsep Saung Ilmu, anak-anak di desanya saat ini telah memiliki semangat belajar dan mushala sebagai sentral kegiatan pendidikan dan keagamaan bagi anak anak, remaja dan ibu-ibu. [Muhammad Khaerul Muttaqien]





















