Lumajang, Gontornews — Penyebaran agama Islam di Kabupaten Lumajang dibuktikan dengan berdirinya Masjid Baitur Rahman di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Lumajang. Masjid Baitur Rahman adalah masjid tertua di kota pisang, Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1912 oleh Kiai Usman.
Konon pada tahun 1912 di bangun sebuah Mesjid yang bangunannya hanya pondasi saja, tiang bambu, dan beratapkan daun kelapa. Kiai Usman wafat pada tahun 1928, bahkan masjidnya saat itu belum bernama.
Pada generasi kedua, masjid tersebut dibangun lebih bagus, bertembok, masjid dijadikan sebagai lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren. Pesantren ini digagas oleh Kiai Syukhaimi pada tahun 1930, pesantren tersebut diberi nama Pesantren Torekho Nakhsofandi.
Konon bangunan masjid ini didapat dari bekas masjid di Kencong Jember yang saat itu sedang direnovasi pada tahun 1895. Mendengar kabar tersebut, seorang santri Kiyai Usman yang bernaman Kiyai Syukhaimi menawarkan bekas bongkaran bangunan Masjid Kencong, untuk dijadikan masjid di Dusun Munder Desa Tukum, tempat pondok pesantren Kiyai Usman.
Dengan gotong royong santri dan warga sekitar, masjid tersebut dibangun. Setelah Kiyai Usman, putrinya dan santri yang bernama Kiyai Sukemi meninggal dunia. Pondok pesantren dikelolah oleh Kiyai Ismail, yang merupakan putra dari Kiyai Syukhaimi. Setelah 6 bulan berjalan, Kiyai Ismail meninggal dunia karena sakit pada tahun 1957.
Sebelum pesantren ini redup, pesantren ini mengalami perkembangan pesat, hingga santrinya saat itu mencapai 650 santri yang belajar, sedangkan pendiri pondok Kiai Syukhaimi wafat pada tahun 1957 yang kemudian diteruskan oleh putranya, Kiai Ismail.
Generasi ketiga pesantren ini dikelola oleh Kiai Ismail. Namun, Kiai Ismail hanya bisa mengelola Pondok Pesantren selama 6 bulan, dikarenakan sakit lalu wafat. Sejak saat itu, pesantren ini mulai berkurang santrinya karena tidak ada generasi yang melanjutkan.
Pada tahun 1960, ada tokoh ulama dari Desa Tukum yang bernama Kiai Ashari, ia mengelola mesjid ini, dan hanya dipakai untuk beribadah saja untuk warga sekitar. Lalu masjid ini diganti dengan nama Masjid Baitur Rohman.
Jejak sejarah masjid ini masih bisa ditemukan di sini. Masjid Baitur Rahman adalah salah satu mesjid tertua dan mempunyai nilai sejarah, dengan postur bangunan yang antik berumur 102 tahun.
Tembok dan struktur bangunan masjid masih sama dengan bentuk aslinya. Di halaman masjid sebelah barat terdapat makam dari keluarga pendiri masjid tersebut dari berbagai generasi penerusnya.
Disamping itu, bangunan masjid masih kental dengan postur bangunan tua, di dalam masjid ini sangat unik sekali. Karena didalam ruangan masjid terdapat 7 ruangan, 31 kerangka pintu di sudut-sudut masjid, dan 9 jendela. Selain itu juga terdapat bedug tua.
Karena nilai sejarah dari masjid ini, kemudian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lumajang, memasukkan masjid tersebut, sebagai masjid cagar budaya di Lumajang.
Aris, Petugas Disbudpar Lumajang, menjelskan, struktur bangunan yang kuno dan menyerupai bangunan lokal semi Eropa. Dalam bangunan masjid ini, terdapat 18 tiang penyangga perpaduan di dalam masjid, 20 jendela, 3 pintu utama dan 13 belas tiang penyangga di teras masjid serta 10 kubah dan satu menara.
Selain bentuk bangunan yang kuno dan lokasi masjid berada di tepi sawah. Banyaknya jendela dan ventilasi udara di tembok atas masjid, membuat warga merasa semakin nyaman saat melakukan ibadah di Masjid Baitur Rahman.
Konon awal dibangunnya Masjid “Baiturrahman” pondasi bangunan hanya berupa umpak (batu yang terdapat pada tiap-tiap tiang), tiangnya materialnya adalah bongkotan (bagian bawah bambu), dan beratapkan daun kelapa. Di halaman mesjid sisi sebelah barat terdapat makam dari keluarga pendiri mesjid dari berbagai generasi.
Masjid Baitur Rohman memiliki menara berbentuk mangkuk dan trisula, bangunan masjid ini bergaya arsiktektur lama, tembok dan struktur bangunan Masjid masih sama dengan bentuk aslinya. Bangunan tak begitu luas. Nuansa warna putih, hijau, dan coklat kayu, kental dalam suasana penuh Islami, pada beranda masjid terdapa bedug dan kentongan bambu.
Pilar beton kokoh tak terlalu tinggi menyangga masjid ini, masuk ke masjid ini memang rasanya berbeda dengan masjid kebanyakan, bangunan masjid dengan postur bangunan tua ini dalam sangat unik, banyak frame-frame atau kerangka pintu dengan bentuk kubah sebanyak 31 buah di petak-petak ruangan inti masjid, didalam Masjid terdapat 7 ruangan, dan terdapat 9 jendela. Sedangkan material atap, jendela maupun pintu terbuat dari kayu jati. [berbeagai sumber]























