Memasuki akhir tahun 2017, Google mengajak netizen merayakan ulang tahun ke-135 Max Born. Adik-adik tahu, siapakah dia? Dialah fisikawan dan matematikawan Jerman, berhasil meraih Hadiah Nobel Fisika, dan dikenal sebagai ilmuwan anti perang nuklir.
Google sengaja menjadikan Max Born sebagai Google Doodle bersamaan dengan penganugerahan Nobel Perdamaian 2017 kepada ICAN, organisasi sosial yang giat berkampanye anti senjata nuklir. Ini juga sekaligus tanda keprihatinan dunia terhadap memanasnya suasana di Timur Tengah, pasca deklarasi Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Max Bon meraih Nobel Fisika 1954 atas kontribusinya terhadap bidang mekanika kuantum. Mekanika kuantum sendiri adalah salah satu bagian ilmu fisika yang mempelajari materi pada tingkat yang sangat rinci. Bidang ini telah mendorong penemuan penting seperti komputer pribadi, laser, dan perangkat pencitraan medis (MRI). Matematika kuantum telah mengubah peta perkembangan teknologi.
Lahir pada 11 Desember 1882, di Breslau, Jerman (kini Wroclaw, Polandia), Born belajar fisika di Universitas Breslau, Heidelberg, dan Zürich. Pada 1909, ia ditunjuk sebagai dosen di Georg-August-Universitaet Goettingen. Tahun 1912, ia pindah ke Universitas Chicago. Pada 1915, ia kembali ke Jerman namun harus masuk militer Jerman. Pada 1919, ia menjadi guru besar di Universitas Goethe Frankfurt, dan kemudian profesor di Göttingen pada 1921. Selama masa inilah Born merumukan penafsiran probabilitas fungsi kepadatan dalam persamaan mekanika kuantum Schroedinger. Gagasannya menggantikan teori kuantum yang asli; kini, persamaan matematika Born arau Born Rule dimanfaatkan untuk pengembangan mekanika kuantum dan aplikasinya. Pada 1933, Born meninggalkan Jerman untuk menghindari meningkatnya anti-Semitisme dan menerima posisi dosen di University of Cambridge. Dari 1936 sampai 1953, ia adalah guru besar Filsafat Alam di Universitas Edinburgh di Skotlandia.
Selama masa ini, kerja Born berfokus pada elektrodinamika nonlinear. Pada 1953, Born pensiun dan kembali ke Jerman di Bad Pyrmont, dekat Gottingen. Ia menjadi warganegara Inggris dan anggota Royal Society di London pada 1939.
Pada 1954, Born menerima Hadiah Nobel Fisika untuk karyanya pada fungsi kepadatan probabilitas dan studinya pada fungsi gelombang. Slain memenangkan Penghargaan Nobel, Born dianugerahi Stokes Medal dari Cambridge University dan Hughes Medal (1950).
Ia menerbitkan sejumlah karya termasuk, The Restless Universe, Einstein’s Theory of Relativity (1924), dan Natural Philosophy of Cause and Chance.
Born meninggal di Göttingen, Jerman, pada 5 Januari 1970. Kepergiannya itu menyisakan kisah pilu. Setelah memasuki masa pensiun, dia tinggal di kota peristirahatan di Bad Pyrmont. Di masa tuanya, dia dibayangi kengerian dan potensi bahaya dari peledakan bom atom dan menentang penggunaan senjata nuklir.
Max Born, ilmuwan yang berkontribusi besar terhadap bidang kuantum mekanik, merasa harus bertindak. Untuk itu, dia menandatangani deklarasi yang disebut Gottingen Eighteen. Deklarasi itu melibatkan pula para ilmuwan terkemuka yang memprotes kemungkinan militer Jerman Barat kala itu memiliki kuasa atas senjata nuklir.
Perang nuklir yang ditakutkan pecah selama masa perang dingin telah berlalu dan memang tak terbukti terjadi. Walaupun begitu, kini benih-benih potensi perang nuklir masih ada. Antara lain terekspresi dari memanasnya hubungan AS dan Korea Utara yang nekad melakukan ujicoba dan pengembangan peluru kendali berhulu ledak nuklir.[Dedi Junaedi]





















