Tak kunjung merdeka. Hingga hari ini kemerdekaan seakan masih menjadi barang mewah yang belum terbeli oleh bangsa Palestina. Jika dihitung sejak negara Israel berdiri pada 1948, berarti penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina telah berlangsung selama lebih dari tujuh dasawarsa. Entah sampai kapan aksi tidak manusiawi Israel terhadap Palestina akan berakhir.
Menyikapi kondisi terkini yang terjadi antara Palestina dan Israel, khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan Jalur Gaza, Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia mengecam keras segala tindakan Israel terhadap Palestina, karena satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial di dunia ini adalah Palestina.
“Kita semua tidak boleh lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial di dunia ini. Yang lebih melukai lagi, tindakan tersebut dilakukan di bulan suci Ramadhan dan di hari Raya Idul Fitri,” ungkap Retno saat memberikan keterangan pers (16/5/2021).
Menurutnya, Israel kerapkali mengganggu Palestina dalam berbagai hal termasuk gangguan dalam pelaksanaan ibadah di Masjid Al-Aqsha, illegal settlement yang semakin merajalela, pembatasan pergerakan orang-orang Palestina di tanah mereka sendiri dan hak-hak Palestina dihilangkan. “Semua penderitaan yang dialami Palestina disebabkan oleh Israel sebagai occupying power,” jelasnya.
Mengapa Palestina belum merdeka? Kepada Majalah Gontor, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Islamiah, Dr KH Cholil Nafis mengungkapkan beberapa alasan mengapa kemerdekaan masih menjadi barang mewah yang belum terbeli oleh bangsa Palestina. Pertama, tanah sengketa menjadi salah satu pemicu mengapa Palestina sulit merdeka. “Palestina dari dulu tanah sengketa sejak pasca-Nabi Sulaiman,” ungkapnya.
Kedua, deklarasi Balfour dan dukungan pemerintahan Inggris untuk pendirian tanah air orang-orang Yahudi di Palestina, wilayah yang saat itu masuk dalam kekuasaan Kesultanan Usmaniyah Turki. “Deklarasi Balfour, Inggris mengizinkan Zionis Yahudi untuk datang ke Palestina. Juga keyakinan Zionis, Palestina adalah tanah suci mereka,” imbuhnya.
Ketiga, Israel memiliki kekuatan yang bisa mendalangi kekuatan negara super power atau Amerika. Yahudi menguasai Amerika dan Israel didukung Yahudi di seluruh Eropa dan Amerika. “Palestina belum merdeka, karena Israel tidak pernah menaati resolusi PBB. Palestina tidak merdeka itu karena Israel menjajah,” ungkapnya.
Keempat, belum adanya kesatuan dari kelompok Hamas dan Fattah juga menjadi masalah internal Palestina. Padahal Hamas dan Fattah ini dua organisasi terbesar di Palestina yang ingin Palestina merdeka, namun keduanya jarang akur. “Bagaimana kelompok besar di Palestina (Hamas dan Fattah) bersatu. Kalau tidak bersatu akan sulit merdeka,” tegasnya.
Tentang sejarah Yerusalem serta keterkaitannya dengan konflik Palestina -Israel, seperti yang dikutip banyak media, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha ketika membahas Kitab Hayatus Shahabah menjelaskan, Palestina dalam sejarah Islam adalah milik Nabi Ibrahim melalui anaknya bernama Nabi Ishaq, lalu melahirkan Nabi Ya’qub, lalu melahirkan Yahuda Cs.
Menurutnya, selain menjadi masalah politik zaman perpecahan pada tahun 1964-1966, sampai sekarang konflik Israel – Palestina juga menjadi masalah agama.
Orang Yahudi mengklaim Palestina dan Yerusalem sebagai bumi Yahudi. “Sebetulnya sejak dulu sudah masalah agama. Keyakinan orang Yahudi, Palestina itu bumi yang dijanjikan Allah milik mereka,” jelasnya.
Atas nama kitab suci, imbuh Gus Baha, mereka mati-matian mempertahankan Israel yang sekarang ini. Karena Palestina secara sejarah itu lebih dengan kelompok Kan’an. Masalahnya, apakah bangsa Kan’an sudah ada sebelum bangsa Yahudi, atau bangsa Yahudi datang terlebih dahulu sebelum kelompok Kan’an? “Makanya, sampai kiamat PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tidak bisa mendamaikan yang di Palestina dan Israel, karena itu sudah sama-sama keyakinan kitab suci,” katanya.
Gus Baha menyimpulkan, walaupun tidak pernah damai, keyakinan agamalah yang membuat orang-orang kaya dari Yahudi yang hidup di Irlandia, Inggris dan Amerika lebih senang hidup di bumi suci. Makanya, PBB menawarkan supaya Yerusalem menjadi kota bersama, kota Internasional. Tapi mereka (Yahudi) ngotot harus menjadi ibu kota mereka. Begitupun orang Islam (di Palestina) mempunyai keyakinan Baiqul Maqdis di Yerusalem. Sehingga yang terjadi bagi mereka apalah artinya merdeka tanpa Yerusalem.
Lebih lanjut Gus Baha menyimpulkan, titik persoalan konflik Israel-Palestina adalah Yerusalem. Logikanya kalau ingin mencaplok wilayah seharusnya selain Yerusalem, misalnya tidak apa-apa jalur Gaza yang dicaplok. “Tapi yang jadi masalah kan Yerusalem. Keyakinan orang Islam, Nabi Muhammad pernah shalat sebelum Mi’raj di Yerusalem. Keyakinan orang Yahudi, Yerusalem itu punya kakek-kakek mereka. Paham nggih?” bebernya.
Menyikapi kondisi terkini Palestina dan Israel, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, menilai Israel yang beberapa waktu lalu menyerang perbatasan Palestina hingga menelan puluhan korban jiwa merupakan tindakan kelewat batas dan berpeluang menambah bara konflik Israel dan Palestina berkepanjangan.
Menurut Haedar, pendudukan dan berdirinya Israel pada 1948 di kawasan Yerusalem sebagai wilayah Palestina memang tidak pernah sepi dari prahara perang dan konflik. Dalam hal ini ambisi politik ekspansionis Israel yang terus ingin memperluas kawasan kekuasaannya, yang menjadi sumber berbagai masalah di wilayah dan negara Palestina. “Inilah sumber utama kekacauan politik dan perang di wilayah ini yang meluas ke jazirah Timur Tengah,” kata Haedar dalam keterangan tertulis (15/5/2021). []


















