Bogor, Gontornews — Bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa agama (baca: Islam), dan bahasa ilmu pengetahuan, pembelajarannya di perguruan tinggi keagamaan Islam masih menuai banyak kritik dari banyak kalangan terutama dari para akademisi. Lulusan perguruan tinggi dibanding lulusan pesantren ditengah masyarakat masih kalah mutu dan kebermanfaatan dalam aspek Bahasa Arab.
Akhirnya, pertumbuhan kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi Islam terhambat. Hal ini dikarenakan pembelajaran Bahasa Arab di perguruan tinggi belum integratif, masih bersifat parsial, bahkan sekedar formalitas. Padahal bahasa adalah satu kesatuan yang utuh, sehingga dalam pembelajarannya harus memerhatikan integratif linguistik.
Dr Pradi Khusufi Syamsu MA menyebutkan, “Penelitian ini mengambil lokus di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki kepedulian tinggi dan keunikan dalam pembelajaran Bahasa Arab.”
UNIDA Gontor, lanjut putra kedua dari pasangan H Amsyari dan Hj Siti Nuraeni SPd tersebut, juga menjadi destinasi belajar dan pemantapan Bahasa Arab mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi luar negeri, seperti Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor, Universitas Sains Islam Malaysia, Universitas Sultan Syarif Ali Brunei Darussalam, Universitas Fathoni Thailand, dan Istanbul Sabahattin Zaim University Turki.
Sebelum mengamati studi modern yang sarat akan integrasi dalam pemikiran dan aplikasi, sejatinya ada fakta penting bahwa studi linguistik klasik telah berbasis integrasi. Hal ini ditegaskan dalam karya-karya ulama terdahulu mulai dari ‘Abdul Qāhir al-Jurjānī, az-Zamakhsyarī, Ibnu Jinnī, dan masih banyak lagi. Dimana interaksi mereka dengan bahasa berasal dari pemahaman integrasi dan saling ketergantungan antarbagian dari bentuk sastra, dan adanya hubungan di dalamnya.
Istilah pembelajaran integratif berawal dari konsep integrated teaching dan learning atau integrated curriculum approach yang dikemukakan oleh John Dewey.
Dengan pembelajaran integratif, mahasiswa mengembangkan kemampuan nalar dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupannya. Mahasiswa pun dapat belajar menghubungkan apa yang telah dipelajarinya dengan yang baru mereka pelajari.
Keberhasilan suatu program pembelajaran Bahasa Arab tidak lepas dari faktor-faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu mahasiswa seperti kecerdasan, kemampuan, dan motivasi. Adapun faktor eksternal seperti kurikulum, lingkungan, peran lembaga, dosen, dan teknologi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr Pradi, disebutkan bahwa ada beberapa faktor efektifitas pembelajaran Bahasa Arab di prodi-prodi keislaman UNIDA Gontor. Faktor tersebut antara lain, kebijakan perguruan tinggi, keluasan materi Bahasa Arab, pemanfaatan varian metode, keteladanan dosen, sistem pesantren dan asrama, lingkungan berbahasa, ujian komprehensif Bahasa Arab, input mahasiswa cakap berbahasa Arab, sinergi antarinternal lembaga, dan program matrikulasi Bahasa Arab.
Pembelajaran Bahasa by Design dan on Purpose
“Pembelajaran Bahasa Arab di UNIDA Gontor dapat disimpulkan by design, diciptakan, dan dibentuk. Bukan alamiah belaka,” jelas doktor kelahiran Bogor pada Sabtu, 11 Juni 1983 bertepatan 29 Sya’ban 1403 itu. Hal ini terwejawantahkan di dalam visi dan misinya yang kemudian dibuktikan pelaksanaannya di setiap prodi dan fakultas keislaman.
Sejatinya penyebutan bahasa al-Qur’an (baca: Bahasa Arab) dalam visi dan misi UNIDA Gontor tidak dapat dilepaskan dari sisi historis pendirian Pondok Modern Darussalam Gontor yang dipicu oleh pertemuan para pemimpin umat dan tokoh Islam tahun 1926 di Surabaya. Dimana saat itu mereka kesulitan menentukan kualifikasi utusan dari Indonesia yang cakap berbahasa Arab sekaligus Inggris untuk menghadiri Konferensi Umat Islam Sedunia di Mekah tahun 1926.
Tanpa faktor kesengajaan dan perencanaan yang matang, mustahil program-program pembelajaran Bahasa Arab dapat berjalan. Dominasi Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar perkuliahan dalam mata kuliah Bahasa Arab dan mata kuliah keislaman sulit terbangun dalam lingkungan ‘ajam atau non native speaker, jika itu semua diterapkan tanpa perencanaan yang matang, keteladanan, dan kedisiplinan. Ditambah lagi kehidupan keseharian mahasiswa yang tinggal di asrama yang tidak bisa dilepaskan begitu saja tanpa program-program kebahasaaraban yang sistemik.
“Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab di UNIDA Gontor bukan saja mengintegrasikan penguasaan atas semua kemahiran berbahasa Arab dan penguasaan atas unsur-unsur Bahasa Arab (aṣwāt, mufradāt, nahwu, sharaf, imlā) serta balaghah, melainkan diintegrasikan dengan mata kuliah studi Islam dan kegiatan-kegiatan keilmuan dan kerohanian mahasiswa,” tegas ayah tiga orang anak tersebut.
Pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya diajarkan pada mata kuliah Bahasa Arab an sich, namun juga pada mata kuliah-mata kuliah studi Islam dengan menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar pembelajaran.
Selain itu, sambung mantan Sekretaris Redaksi Majalah Gontor ini, pembelajaran Bahasa Arab di UNIDA Gontor telah mengintegrasikan tiga kompetensi Bahasa Arab, baik kompetensi linguistik, kompetensi komunikatif, dan kompetensi budaya.
Adapun model pembelajarannya adalah model integrated, sequenced, dan immersed (Forgarty), model interdisciplinary integration (Drake dan Burns), dan model pembelajaran bahasa integratif CLIL (Content and Language Integtrative Learning).
Penelitian ini mendukung pendapat bahwa pembelajaran Bahasa Arab harus dilakukan secara integratif, tidak parsial. Integratif dalam arti luas, bukan sebatas pemaduan keterampilan dan unsur-unsur bahasa an sich, melainkan juga penciptaan kegiatan dan lingkungan berbahasa secara komprehensif.
Pembelajaran Bahasa Arab integratif sendiri, tambah doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, sesuai dengan karakter bahasanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dimana keluasan bahasa sudah sepatutnya diperlakukan secara menyeluruh dan tidak sempit.
Beberapa sarjana yang mendukung pendapat di atas antara lain, Ibnu Khaldun, Tamam Hassan, Ahmad Abduh Iwadh, Muhbib Abdul Wahab, Munther Younes, Farid Khalfawi, dan Balqasim Malikiyah.
“Kesimpulan disertasi ini berbeda dengan pendapat Noam Chomsky yang menyimpulkan bahwa kemampuan berbahasa adalah bakat alamiah, tidak ditentukan oleh alam lingkungan karena bahasa bukan suatu kebiasaan,” pungkas Dosen Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati, Cirebon tersebut. <Edithya Miranti>
Biografi Singkat Peneliti
Nama : Dr Pradi Khusufi Syamsu MA
Tempat Tanggal Lahir : Bogor, 29 Sya’ban 1403 H
Istri : Mahmuda MSi
Alumnus : KMI Gontor tahun 2001
Aktifitas : Dosen IAIN Syekh Nurjati, Cirebon
Riwayat Pendidikan :
- S1, Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Ponorogo, 2005.
- S2, Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2009.
- S3, SPs UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2022.
Karya Ilmiah :
- Mauqif al-Islām min Ta’addud al-Adyān (Dirāsah at-Tafāsīr al-Kalāsīkiyyah).
- Literasi Arab Jawi dan Madrasah di Jakarta: Analisis Politik Pendidikan.
- Model Pembelajaran Bahasa Arab Integratif di Universitas Darussalam Gontor.






















