Depok, Gontornews — Pendidikan merupakan sebuah tuntunan mulia bagi manusia agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setingi-tinginya. Pendidikan harus mempunyai visi dan misi yang mulia. Pendidikan haruslah berlandaskan pada wahyu Ilahiyah (al-Qur’an dan al-Hadits).
Dr Muthoifin dalam disertasi yang dibimbing oleh Prof Dr H Didin Saefuddin, MA dan H Adian Husaini, MSi, PhD menyebutkan, bahwa nama Ki Hadjar senantiasa dikaitkan dengan pendirian lembaga pendidikan Tamansiswa serta perjuangannya melawan ordonansi sekolah liar yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Usaha Ki Hadjar untuk menyelenggarakan pendidikan nasional dimulai pada 03 Juli 1922, dengan mendirikan Perguruan Kebangsaan Tamansiswa yang pertama di Yogyakarta. Saat itu nama yang dipakai ialah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa.
Konsep Trilogi kepemimpinan Ki Hadjar yang berbunyi, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani, menurut Ki Priyo Dwiarso, anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, mengandung maksud bahwa tanpa keteladanan pimpinan di depan (ing ngarso), pro aktif mengikuti dinamika dalam masyarakat (ing madyo), dan kemudian menerapkan pembinaan atau pengawasan melekat (tut wuri), maka pemahaman dan pelaksanaan pendidikan memerdekakan jiwa masyarakat mustahil dapat tercapai.
Ki Hadjar menyatakan, ‘Semboyan Tut Wuri Handayani’, berarti mengikuti di belakang sambil memberi pengaruh. Maksudnya adalah jangan menarik-narik anak dari depan, biarkanlah mereka mencari jalan sendiri, kalau anak-anak salah jalan barulah si pamong (guru) boleh mencampurkan dirinya.
Kebebasan pada anak didik inilah yang menurut Ki Hadjar Dewantara merupakan sebenar-benarnya demokrasi. Sedangkan pengawasan yang wajib dilakukan pimpinan tidak lain daripada kebijaksanaan sang pamong.
Begitu juga konsep Sistem Among (sistem pengajaran) dan Kodrat Alam (kehendak alam) juga merupakan buah gagasan dari Ki Hadjar. Sistem Among adalah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan yang bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.
Sistem Among berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tut Wuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut student centered.
Sedangkan Kodrat Alam, menurut Ahmad Sholeh dalam bukunya berjudul ‘Relevansi Gagasan Sistem Among dan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia’, adalah perwujudan dari kekuasaan Tuhan yang berarti bahwa pada hakekatnya manusia sebagi makhluk Tuhan adalah satu dengan alam lain.
Karena itu manusia tidak dapat lepas dari kehendak kodrat alam dan bisa memperoleh kebahagiaaan jika ia mampu menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.
Tidak hanya itu, Muthoifin, dosen IAIN Surakarta, ini juga menambahkan bahwa Ki Hadjar juga seorang tokoh pendidikan yang sangat menghargai manusia. Sebagaimana ditemui dalam tujuan pendidikannya yang menghendaki terbentuknya manusia merdeka.
Sedangkan dasar pendidikan yang dipakai Ki Hadjar dalam melaksanakan pendidikannya sebagaimana yang diterapkan di Tamansiswa adalah pendidikan yang berdasarkan pada lima asas yang disebut “Pancadarma” yaitu: 1) asas kemerdekaan, 2), asas kebangsaan, 3) asas kemanusiaan, 4) asas kebudayaan, dan 5) asas kodrat alam.
Meski demikian, Ki Hadjar yang selama ini dijadikan sebagai tokoh pendidikan di Indonesia, ternyata oleh sebagaian pengamat pendidikan dan aktifis Islam disebut belum memadukan atau mengintegrasikan antara konsep pendidikan yang ia gagas dengan konsep pendidikan Islam.
Hamka, dalam bukunya berjudul: Perkembangan Kebatinan di Indonesia, yang dikutip Artawijaya menyatakan: Bahwa Tamansiswa adalah gerakan abangan, klenik, dan primbon Jawa, yang menjalankan ritual shalat daim.
Dalam kepercayaan kebatinan, shalat di sini bukan bermakna ritual seperti yang dijalankan umat Islam. Tetapi shalat dalam pengertian kebatinan, yaitu menjalankan kebaikan terus menerus. Inilah yang dimaksud dengan shalat daim.
“Apalagi Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang mayoritas penghuninya beragama Islam. Tentunya Indonesia memerlukan konsep pendidikan yang bermuara dan bersendikan pada nilai-nilai ke-Islam-an yang diyakini mengandung kebenaran mutlak, bersifat transendental, universal dan eternal (abadi),” ungkap pria kelahiran Demak, 06 September 1980 itu.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Dr Muthoifin menegaskan bahwa konsep pendidikan Ki Hadjar ditekankan pada aspek tuntunan kepada anak agar mencapai kebahagiaan yang setingi-tinginya berdasarkan kodrat alam. Hal ini tidak sesuai dengan konsep pendidikan Islam yang ditekankan pada aspek ibadah dan tauhid berdasarkan wahyu Ilahi.
Dasar pendidikan Ki Hadjar pun adalah asas Pancadarma (lima asas), dimana dari kelima asas itu secara eksplisit tidak ada asas ketuhanan. Hal ini bertentangan dengan dasar pendidikan Islam yang berlandaskan pada al-Qur’an dan as-Sunnah.
Selain itu, isi atau inti dari pendidikan Ki Hadjar adalah budi pekerti, humanisme, kebebasan, kodrat alam yang bersumberkan budaya bangsa. Hal ini juga tidak sesuai dengan isi pendidikan Islam yang intinya Iman-tauhid, ibadah dan akhlak mulia bersumberkan wahyu Ilahi.
Sistem pendidikan Ki Hadjar, baik tujuan, kurikulum, metode, guru, murid ,dan evaluasi juga tidak mengarah dan terikat pada nilai keimanan dan ibadah, yang mana tidak sejalan dengan sistem pendidikan Islam yang selalu mengaitkannya dengan kedua nilai agama.
Ditambah lagi, corak pemikiran pendidikan Ki Hadjar adalah nasionalis-sekular. Nasionalis, karena berdasarkan budaya bangsa, sedangkan sekular karena tidak mengaitkan dengan ruh ajaran Islam (tauhid).
Dengan demikian diharapkan kepada pemerintah, persatuan Tamansiswa, dan para pengelola sekolah, agar mau memberikan perhatian khusus dan progresifitas pendidikan dengan tetap menerapkan dasar, isi, tujuan, metode, dan kurikulum yang berpijak pada prinsip dasar ajaran Islam.
“Tidak hanya itu, kita semua selaku generasi penerus bangsa juga dituntut untuk turut serta mengembangkan dan mewarnai pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada basis iman dan takwa,” pungkasnya. <Edithya Miranti>
Biografi Singkat
Nama : Dr Muthoifin, MAg
Tempat dan Tanggal lahir : Demak, 06 September 1980
Riwayat Pendidikan :
- SI Syariah Muamalat, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Surakarta, 2006
- S2 Magister Studi Islam, Universitas Sunan Giri (UNSURI) Surabaya, 2009
- S3 Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, 2013
Pekerjaan :
- Staf Yayasan Hidayatullah, Surakarta, 2012-sekarang
- Dosen AKPARTA Mandala Bhakti, Surakarta, 2012-sekarang
- Dosen Akademi Dakwah Indonesia (ADI), Surakarta, 2012-sekarang
- Dosen IAIN Surakarta, 2013-sekarang
Prestasi :
- Peraih Bes-wan Djarum Bakti Pendidikan (S1), 2005-2006
- Peraih Beasiswa Mahasiswa Berprestasi PEMDA Banyuwangi (S2), 2008
- Peraih Beasiswa PKU-DDII dan BAZNAS, (S3), 2009
























