Tel Aviv, Gontornews — Mantan Presiden dan Perdana Menteri Israel Shimon Peres dikabarkan meninggal pada usia 93 tahun. Meninggalnya pendiri Israel pada Rabu (27/9) ini akibat serangan penyakit stroke berat.
Pria kelahiran 2 Agustus 1923 ini meninggal di tempat tidurnya sekitar pukul 3:00 waktu setempat, kata dokter yang juga menantunya, Rafi Walden.
“Hari ini kita merasakan seluruh bangsa Israel dan komunitas global berduka,” kata Chemi Peres, anaknya.
Rencananya, jasad Shimon akan dimakamkan Jumat (30/9) di Mount Herzl, pemakaman di Jerussalem sesuai keinginannya.
Sejak 13 September 2016, Shimon Peres mendapat perawatan intensif akibat serangan stroke dan perdarahan internal. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari seluruh dunia, termasuk Paus Francis, Presiden AS Barack Obama, keluarga Clinton, Donald Trump, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden AS Barack Obama menyebut Shimon Peres sebagai “teman baik kami” dan “esensi dari Israel itu sendiri”. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga menyebut “Shimon Peres adalah orang yang cinta damai”.
Namun berbicara tentang warisan Peres, Diana Buttu mantan negosiator perdamaian Palestina mengatakan bahwa Shimon Peres adalah seorang pria yang dari awal sebagai penjahat perang.
“Dia seseorang yang percaya pada pembersihan etnis Palestina, seseorang yang ketika ia berkuasa memastikan tanah Palestina yang diduduki dibuat menjadi pemukiman Yahudi Israel, yang merupakan kejahatan perang di bawah hukum internasional, ” terangnya.
Analis Timur Tengah Yehia Ghanem juga menyebut bahwa Shimon Peres adalah “penjahat perang”, terutama dalam tahun 1996 di Qana. Dalam serangan Israel terhadap sebuah desa Lebanon selatan, setidaknya 106 orang tewas di mana Peres adalah perdana menterinya.
“Orang-orang yang memuji dia [Peres] mendukung Israel dan semua kejahatan sepanjang sejarahnya,” kata Ghanem seperti dilansir Aljazeera, Rabu (28/9). [Ahmad muhajir/Rus]





















