Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa Ramadhan telah tiba. Di bulan penuh maghfirah, dan berkah ini sudah seharusnya menjadi ladang amal bagi umat Muslim untuk meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Salah satu perilaku Nabi Muhammad SAW yang sangat menonjol selama bulan Ramadhan kedermawanannya yang sangat tinggi. Abdullah bin Abbas menuturkan, ”Apabila datang bulan Ramadhan, Nabi sangat dermawan ibarat angin yang kencang.”
Sikap sangat dermawan ini, kendati sudah menjadi perilaku masyarakat Muslim masa lalu, tampaknya kini telah bergeser. Ketua Ikatan Da’i Indonesia Wilayah Jakarta Dr KH Atabik Luthfi MA menjelaskan, Ramadhan sebagai bulan segala bulan, mempersembahkan banyak keutamaan di semua aktivitas kebaikan termasuk dalam aktivitas berbagi ekonomi. Bak gayung bersambut banyak dari umat Islam melakukan aktivitas berbagi ketika bulan Ramadhan tiba. Ghirah umat Islam untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, wakaf dan memberikan makan untuk berbuka puasa baik secara kualitas maupun kuantitas meningkat tajam ketika Ramadhan. “Bagaimana perilaku terpuji itu tetap menggeliat hingga pasca-Ramadhan, inilah yang menjadi evaluasi bersama,” tandasnya kepada Majalah Gontor.
Atabik menjelaskan, di antara nilai yang dibangun dalam Ramadhan membentuk insan yang shalih secara sosial. Keshalihan sosial akan terbangun manakala mengikuti seluruh paket ibadah Ramadhan dengan sebaikbaiknya, dan menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan. Demikian hakikat ‘Imsak’ makna inti dari ‘Shiyam’. Imsak dari perbuatan, perilaku, dan sifat tercela. Imsak dari memperturut nafsu dan semua yang mengganggu kekhusyu’an dan spritualitas Ramadhan.
Sementara itu, pakar Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Muhammad Arief Mufraini, menyebut ada hal yang aneh terjadi ketika Ramadhan tiba. Karena di bulan ini aktivitas dan jam kerja tak sebanyak biasanya, sementara konsumsi cenderung meningkat ketika Ramadhan tiba. Dengan waktu makan dan minum yang terbatas, seharusnya pengeluaran di bulan Ramadhan berkurang.
Sayangnya yang terjadi malah sebaliknya, pengeluaran justru meningkat ketika Ramadhan. “Kalau pola konsumsi ditahan, barang yang tersubtitusikan dibagikan kepada orang yang membutuhkan, produktivitas kerja dan ibadah terjaga, ini bisa terjadi pemerataan pendapatan, dan kenaikan harga yang signifikan pada barangbarang pokok tidak terjadi saat Ramadhan,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Menurutnya, pemahaman tidak makan dan tidak minum dalam berpuasa yang seharusnya mendorong aktivitas berbagi dalam kenyataannya subtitusi makanan dan minuman malah menumpuk ketika berbuka puasa. Selain itu bukannya baju yang tidak terpakai, dibagikan kepada orang yang membutuhkan, tapi justru banyak dari kita membeli baju baru lagi di akhir Ramadhan. “Ini paradoks yang terjadi saat Ramadhan,” jelasnya.
Arief menjelaskan, fenomena tersebut dalam perilaku konsumsi dapat meningkatkan harga. Apalagi jika dikaitkan dengan preferensi dalam kultur yang berlaku yaitu pulang kampung, ini justru meningkatkan banyak permintaan. “Konsumsinya error, produksi error, pasar tidak terjadi ekuilibrium, fiskal juga error. Entah kenapa ini terjadi kesepakatan bersama, ketika Ramadhan, yang terjadi malah meningkatkan kebutuhannya. Kalau menurut saya umat Islam belum berpuasa secara ekonomi,”katanya.
Kalaupun ada yang melihat sisi baik dari tradisi mudik lebaran, itu konteksnya sosial. Memang ada yang positif pada perilaku sosial, tapi tidak berlaku positif pada pergerakan ekonomi ketika Ramadhan. “Kalau kita menyesuaikan aktivitas ekonomi dengan menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum dari muncul sampai terbenamnya matahari, maka pergerakan ekonomi dan sosial akan membaik. Karena orientasinya bukan meningkatkan utilitas dari produksi maupun konsumsi, tapi berbagi utilitas barang maupun jasa,”ungkapnya.
Arief berpendapat idealnya selain berbagi utiliti, zakat fitrah dan zakat mal seharusnya meningkat dengan baik ketika Ramadhan. Sayangnya kenyataan di lapangan kebanyakan umat Islam hanya membayar zakat fitrah, sementara zakat mal belum banyak yang membayar. Kalau itu yang terjadi berarti puasa kita sesuai dengan ekonomi Islam. Ukuran Ramadhan sesuai dengan ekonomi Islam yaitu pada saat tidak terjadi kenaikan harga pada barang pokok dan terjadi transfer of payment secara besarbesaran dari surplus Muslim ke defisit Muslim.
Dikutip gomuslim.co.id, pakar Ekonomi Syariah dari STEI Tazkia, Dr Muhammad Syafii Antonio, mengatakan salah satu ibadah yang secara langsung berdampak pada spiritual dan finansial umat Islam ibadah Ramadhan. Sayangnya dari dua berkah tersebut, berkah finansial dinikmati oleh sebagian besar non-Muslim. “Kita dikasih sesuatu yang sangat luar biasa, harusnya kita dapat berkah spiritual dan finansial. Tapi makanan, tiket, komunikasi, transportasi, rekreasi sebagian besar dikuasai oleh non- Muslim,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Dr Irfan Syauqi Beik. Menurutnya, hingga saat ini umat Islam selalu menjadi konsumen. Faktanya konsumsi ini kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi paling besar. “Ini fakta karena Indonesia penduduknya banyak dan tingkat konsumsi penduduk Indonesia mempengaruhi kondisi perekonomian secara makro,” ungkapnya seperti dikutip Gontornews.com beberapa waktu lalu.
Di samping itu, masih banyak umat Islam yang belum menyadari bahwa ada kewajiban zakat selain zakat fitrah. Selain zakat fitrah, ada zakat penghasilan, ada zakat atas setiap keuntungan bisnis dan investasi serta ada zakat atas harta yang telah memenuhi persyaratan harta wajib zakat. Riset Puskas BAZNAS menunjukkan, potensi zakat tahun 2018 sebesar Rp 233 triliun. Namun dari potensi yang sangat besar tersebut, baru 3,5 persen atau sekitar Rp 8 triliun yang bisa dikelola. Itu artinya, masih sangat besar potensi zakat yang belum terkelola.
Menurut Irfan, dengan nature ibadah umat Islam seperti ini seharusnya lahir produsen Muslim, karena ingin menjalankan ajaran agama dengan baik. Untuk itu paradigma umat dari yang konsumtif menjadi produktif, dan kesadaran umat untuk berbagi lewat zakat, infak, sedekah dan wakaf harus terus didorong. “Sekali lagi memang perlu proses penyadaran supaya umat Islam bangkit dan memahami bahwa melaksanakan ibadah dengan baik, sisi supply-nya, sisi produksinya harus dikuasai dengan baik,”ungkapnya. []






















