Hobi tidak selalu identik dengan menghamburkan uang. Bagi Aprilia Marheni, ibu rumah tangga asal Klaten, Jawa Tengah, hobi justru mendatangkan uang. Hobinya membuat kue kini menjadi pundi-pundi rupiah.
Perempuan kelahiran 30 April 1987 itu memiliki hobi membuat kue dan makanan ringan lainnya. Untuk bisa ikut serta dalam meningkatkan perekonomian keluarga, hobi yang dipupuknya sejak kecil itu, ia jadikan wadah mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
“Meski keuntungannya tidak terlalu besar, tapi senang karena memang ini hobi saya,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Saat ditemui di kediamannya di wilayah Jakarta Utara, ibu tiga anak ini menjelaskan awal memulai usahanya. Ketika memulai usaha, ia tidak mendapatkan izin sang suami. Bahkan, para tetangganya banyak yang mencibir.
Namun, perempuan yang akrab dipanggil Lia, ini tidak berkecil hati. Lambat laun sang suami yang semula melarang lantaran takut ia tidak bisa merawat anak-anaknya, akhirnya mengizinkannya. Lia bahkan bisa membuktikan, usahanya itu tidak membuat kewajibannya sebagai istri dan ibu terbengkalai.
Lia mengawali usahanya dengan modal uang sebesar Rp 300 ribu. Ia memulai usaha dengan menjajakan kuenya di sekitar tempat tinggalnya. Kini ia menerima pesanan, baik secara offline maupun online.
“Saya juga biasa menitipkan dagangan ke warung-warung, ” tambahnya.
Untuk online, Lia bisa melayani dua hingga tiga orderan dalam sehari, dan omset yang ia peroleh bisa mencapai jutaan rupiah. Sementara untuk kue-kue yang dititipkan dan dijajakan, keuntungannya bisa mencapai Rp 200 ribu – Rp 250 ribu per hari.
“Kalau awal-awal usaha keuntungannya baru sekitar Rp 100 ribu,” akunya.
Lia membuat aneka macam kue seperti risoles, donat karakter, lontong isi, dan aneka puding.
Walau kerap menerima cibiran lantaran sang suami karyawan di perusahan ternama di ibukota, Lia mengaku tak mau diambil pusing. Menurutnya, selama usaha yang ia jalani mendapatkan ridha suami dan halal, ia tidak akan berhenti.
Lia berharap, usahanya itu bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lain, khususnya orang-orang yang butuh pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga dengan demikian, selain bisa membantu ekonomi keluarga juga bisa membantu ekonomi orang lain.
“Sekarang memang belum punya karyawan, tapi in syaa Allah ke depannya mau punya,” jelasnya.
Selain itu, Lia juga bercita-cita bisa memiliki toko sendiri, sehingga penjualan kuenya bisa terfokus pada satu lokasi tanpa harus menitipkan ke warung milik orang lain. Sementara untuk pemesanan secara online tetap ia layani, dan bahkan akan lebih ditingkatkan pelayanannya, sehingga bisa memuaskan para pelanggan.
Suka duka dalam berjualan selalu dirasakan oleh siapapun yang melakoni profesi ini. Tidak terkecuali Lia. Saat-saat yang membuatnya sedih dan bahkan hampir berputus asa adalah saat kue-kue yang ia sajikan tidak laku.
Untuk mengantisipasi banyaknya kue yang tidak laku terbuang, ia pun berinisiatif untuk memberikannya kepada orang lain. Sebab, produk yang ia jual merupakan makanan yang hanya bisa disajikan dalam sehari saja.
“Bukan produk yang bisa disimpan lama, jadi mau tidak mau harus habis hari itu juga,” jelasnya.
Meneladani Rasulullah SAW
Dalam segala hal, Baginda Rasulullah SAW adalah sosok teladan yang selalu menjadi panutan setiap orang, terlebih dalam menjalankan suatu usaha. Salah satu sifat teladan Rasul yang harus diikuti adalah jujur.
Menurut Lia, kejujuran adalah kunci keberhasilan bagi siapapun yang berbisnis. Oleh sebab itu, dalam kondisi mendesak sekalipun, ia selalu bersikap dan berkata jujur setiap kali melakukan transaksi usaha.
“Jujur itu wajib karena bagaimanapun kita harus bisa menjaga perasaan pelanggan,” ungkapnya.
Melalui sifat jujur dalam usahanya itu, ia juga berkesempatan bisa mengajarkan anak-anaknya untuk selalu berkata dan bersikap jujur, baik kepada teman, orangtua maupun guru. [Devi Lusianawati]






















