Bandung, Gontornews — Penggunaan media digital di kalangan mahasiswa Institut Teknologi Bandung sangat masif. Tidak hanya untuk keperluan kuliahnya, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya, termasuk dalam hal keagamaan.
Penelitian ini menggambarkan tentang pemikiran keagamaan masyarakat digital dengan mengambil fokus penelitian pada mahasiswa ITB pengguna aplikasi religi pada smartphonenya, yang secara representasif dianggap mewakili masyarakat digital.
βAktivitas keagamaan mahasiswa ITB dengan menggunakan aplikasi religi pada smartphonenya menurut temuan disertasi ini, ternyata berimplikasi dan berpolarisasi pada pemikiran keagamaan para mahasiswa tersebut,β tambah dosen ITB kelahiran Sei Kepayang, 18 April 1974 itu kepada Majalah Gontor.
Pada disertasinya yang berjudul, Religiusitas Masyarakat Digital (Pemikiran Keagamaan Pengguna Aplikasi Religi pada Smartphone di Kalangan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung), Dr Qori menyatakan bahwa berdasarkan hasil wawancara online pada informan penelitian yang berasal dari kalangan mahasiswa ITB, didapatkan hasil persentase sejumlah 95 persen mahasiswa ITB aktif menggunakan aplikasi religi pada smartphonenya.
Dari 1.193 mahasiswa Muslim ITB yang diteliti, ada sebanyak 1.135 informan menyatakan bahwa mereka aktif menggunakan aplikasi religi pada smartphonenya. Namun berdasarkan hasil observasi ada enam aplikasi religi yang paling banyak diunduh, diinstall, dan digunakan oleh mahasiswa ITB, yaitu aplikasi Muslim Pro, aplikasi Salaam, aplikasi Sahih Bukhari Muslim, aplikasi Islam Menjawab, aplikasi MyQuran, dan aplikasi Ustadz Menjawab.
Selanjutnya keenam aplikasi religi di atas dianalisis dari sisi desainnya melalui komponen warna, teks, bahasa, tombol menu, gambar, dan suara. Tema konten keagamaan yang terdapat dalam enam aplikasi religi pada smartphone yang digunakan oleh mahasiswa ITB juga dianalisis berdasarkan klasifikasi tema pokok iman, Islam, dan ihsan.
Setelah dianalisis maka ditemukan hanya tiga dari enam aplikasi yang memuat tentang konten materi keagamaan dalam bidang aqidah, syariβah, dan akhlak, yaitu aplikasi Sahih Bukhari Muslim, aplikasi Islam Menjawab, dan aplikasi Ustadz Menjawab.
Kemudian dari tiga aplikasi religi tersebut hanya dua aplikasi yang memuat informasi dua arah (tanya jawab) yaitu aplikasi Islam Menjawab dan aplikasi Ustadz Menjawab. βKonten kedua aplikasi inilah yang memiliki pengaruh langsung terhadap corak pemikiran keagamaan mahasiswa ITB, pengguna aplikasi religi pada smartphone,β ujar peraih Penghargaan/Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya X dari Presiden RI, 2018 tersebut.
Corak pemikiran keagamaan mahasiswa ITB pengguna aplikasi religi pada smartphone sebagai representasi dari masyarakat digital, lanjut Dr Qori, terklasifikasi menjadi tiga corak pemikiran, yakni ilmiah, literat, dan kontekstual.
Pertama, ilmiah. Dari aspek mitos, mahasiswa ITB memandang segala sesuatu dari sudut pandang keilmuan dan kaidah ilmiah. Mitos bukan lagi menjadi sesuatu hal yang tidak masuk akal (irrasional), tetapi melalui pemikiran-pemikiran ilmiah, dan seiring berkembangnya zaman, mitos menjadi hal yang bisa dianalisis dan dijelaskan secara ilmiah.
Kedua, literat. Mahasiswa ITB ini sangat menjungjung tinggi budaya literasi, termasuk dalam hal doktrin dan dogma. Entitas yang paling nyata dari keduanya ialah praktik beribadah secara ritual.
Praktik ibadah ritual yang dilaksanakan oleh mahasiswa ITB, harus sesuai dengan rujukan-rujukan dalil dan sandaran hukum yang jelas. Jika tidak memiliki rujukan dalil yang jelas dari berbagai literatur, maka mahasiswa ITB cenderung untuk meninggalkan praktik ibadah ritual tersebut.
Ketiga, kontekstual. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan literat, mahasiswa ITB juga dalam hal memaknai dan menafsirkan teks suci (sacred writing) menggunakan pemahaman-pemahaman yang sesuai dengan koteks zaman. Pemaknaan terhadap teks suci, tidak dimaknai secara tekstual dan rigid, tetapi melihat berbagai aspek kondisi dalam menerapkan teks suci tersebut.
Berdasarkan hasil temuan penelitian ini dapat pula dipetakan bahwa corak pemikiran mahasiswa ITB pengguna aplikasi religi pada smartphone dalam aspek mitos dan teks suci (sacred writing) cenderung inklusif, sedangkan dalam aspek doktrin dan dogma (divine norms) lebih cenderung eklusif.
Selanjutnya, dari sisi desain ditemukan bahwa desain yang digunakan cenderung memiliki karakter yang berbeda-beda. Dr Qori menyebutkan bahwa aplikasi Muslim Pro cenderung simetris dan unity, aplikasi Salaam lebih statis dan kontras, aplikasi Bukhari Muslim terlihat statis dan komplementer, aplikasi Islam Menjawab sedikit ke arah dis harmoni dan dinamis, aplikasi MyQuran terlihat harmoni dan statis, dan aplikasi Ustadz Menjawab cenderung kontras dan dinamis.
Dari semua temuan hasil analisis dari penelitian ini menawarkan sebuah model baru yang diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan dalam kajian Studi Agama-agama. βModel ini diberi nama Model Tekno-Kultur-Religi Pemikiran Keagamaan,β jawabnya.
Penelitian ini juga menghasilkan sebuah kritik konstruktif bagi setiap elemen yang menggunakan smartphone untuk mencari informasi dan belajar ilmu agama pada setiap aplikasi religi yang disediakan dalam platform aplikasi religi.
Berdasarkan hasil penelitian, ada empat autokritik yang bersifat konstruktif dan solutif dalam penelitian ini. Pertama, berkenaan dengan sanad keilmuan. Bagi orang yang mencari informasi bahkan belajar agama Islam melalui smartphone akan terjadi missing link dalam hal sanad (jalur) keilmuan.
Sanad keilmuan menjadi tidak sistematis dan jelas, bahkan cenderung a-historis. Berbeda halnya dengan belajar secara langsung pada ustadz, guru, atau pemuka agama, di dalam prosesnya ada pertemuan tatap muka (murajaβah dan talaqi).
Kedua, berkenaan dengan materi keilmuan. Materi keagamaan yang disajikan pada aplikasi smartphone kadang cenderung tidak jelas dan bias. Sebagian informasi keagamaan yang disajikan di aplikasi religi smartphone hanya mengcopy paste dari internet, yang tidak jelas rujukan dan sumbernya.
Maka, dianjurkan untuk lebih selektif mencari materi dan belajar ilmu agama, selain materi yang didapat dari smartphone, perlu juga diperkuat dengan merujuk pada literatur dan referensi yang dapat dipercaya.
Ketiga, berkenaan dengan konfirmasi keilmuan. Aspek yang terakhir dari konsekuensi mencari materi keagamaan melalui aplikasi religi smartphone, adanya ketertutupan pemikiran (closed minded) terhadap validitas keilmuan. Karenanya, dianjurkan untuk melakukan konfirmasi terhadap materi keagamaan yang didapatkan kepada guru agama, ustadz, atau ulama.
Keempat, berkenaan dengan kualitas pendidikan agama. Adanya aplikasi religi pada smartphone dengan operating system android, semakin memudahkan pengguna untuk mendapatkan ilmu-ilmu Islam dengan cara yang lebih praktis dan efisien.
Namun aplikasi religi hanya mampu menyentuh aspek yang berhubungan dengan ranah kognitif saja (peningkatan pemahaman wawasan keagamaan), sedangkan untuk ranah afektif dan psikomotorik peran pengajar mata kuliah pendidikan agama Islam yang mampu menjadi role model bagi mahasiswa masih sangat dibutuhkan.
Saat ini fenomena dan temuan yang berhasil diungkap disertasi ini betul-betul menjadi kenyataan terutama pada sistem pembelajaran daring (online), dimana segala sesuatunya dilakukan secara digital. βDengan demikian diharapkan semoga disertasi ini dapat memberi sedikit manfaat untuk umat,β pungkas Dr Qori kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]






















