Tangerang, Gontornews – Sungguh membanggakan. Empat remaja Indonesia berhasil meraih penghargaan di ajang kompetisi ilmiah internasional Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) di Los Angeles, California, Amerika Serikat, 14-19 Mei 2017.
Seperti dirilis lipi.go.id, mereka membawa pulang tiga penghargaan bergengsi dari Melalui tiga karya penelitian.
Penghargaan Utama (Grand Awards) diraih oleh Latifah Maratun Sholikhah dari SMA Negeri 1 Teras, Boyolali, Jawa Tengah, yang juga juara I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI kategori social sciences .
Latifah mendapatkan penghargaan 4th Place Grand Awards on Category of Social and Behavioral Sciences melalui karya penelitian “Anak-Anak yang Terabaikan: Studi Kasus Sikap Masyarakat terhadap Anak Penderita HIV/AIDS di Enam Kecamatan di Surakarta”.
Selain penghargaan utama, ia juga memperoleh penghargaan Honorable Mentions dari American Physiological Association.
Penelitian Latifah berawal dari banyaknya korban kasus HIV/AIDS di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Ia merasa perlu untuk membuat masyarakat umum memberikan perhatian lebih kepada para korban. “Saya tidak menyangka akan meraih penghargaan,” ujarnya saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (22/5).
Latifah menyebutkan, penderita HIV/AIDS mempunya hak yang sama di tengah-tengah masyarakat. “Saya ingin sikap masyarakat bisa berubah jadi lebih baik dan menunjukkan empati, karena anak-anak penderita HIV AIDS juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya,” paparnya.
Walaupun menemui berbagai kendala, dia tetap tekun menyelesaikan penelitiannya. “Failure guide us to success,” tandasnya.
Selain Latifah, pelajar lain yang juga menerima penghargaan adalah Azizah Dewi Suryaningsih (SMA Negeri 1 Yogyakarta), serta Bagus Putra dan Made Prasanta (SMA Negeri Mandara, Bali). Ketiganya memperoleh penghargaan Special Awards.
Azizah Dewi Suryaningsih, juara 1 LKIR bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim, memperoleh penghargaan Special Awards pada peringkat ketiga dari American Geosciences Institute melalui penelitiannya bertajuk “Hutan Bambu sebagai Tanggul Alami Penahan Aliran Piroklastik di Gunung Merapi”.
Kepada wartawan Azizah mengatakan, masyarakat di sekitar Gunung Merapi mempercayai bambu dapat memberi peringatan sebelum erupsi. “Sebelum Merapi memuntahkan isi perutnya, terjadi perubahan alam berupa peningkatan temperatur udara dan di dalam tanah sekitar Merapi yang membuat hewan-hewan turun gunung. Peningkatan temperatur itu membuat bambu pecah sehingga menimbulkan bunyi yang digunakan oleh warga lokal sebagai peringatan dini,” papar Azizah.
Dia meneliti ketahanan bambu untuk mitigasi bencana. Dari penelitiannya, Azizah juga menemukan bambu dapat digunakan mengalihkan arus awan panas yang membawa material vulkanik.
Seperti Azizah, Bagus Putra dan Made Prasanta juga menyabet
Special Awards tempat ketiga dari American Meteorological Society. Karya mereka, Smart Digital Psychrometer untuk Meramal Cuaca Lokal, merupakan pemenang Medali Emas OPSI 2016 yang diselenggarakan Kemendikbud.
Kepala Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI, Nur Tri Aries S, yang ikut mendampingi mereka mengatakan, para pelajar ini berkompetisi bersama 1.800 pelajar dari 75 negara. Dalam ajang ilmiah yang memperebutkan total hadiah lebih dari 4 juta dolar AS ini, LIPI mengirimkan 5 karya penelitian dari tujuh pelajar SMA finalis Intel ISEF, dua pelajar SMA sebagai pengamat (observer) dan satu siswa SMP yang juga merupakan perwakilan Indonesia di ajang Intel International Broadcom Master, yakni ajang pengenalan sains bagi remaja di bawah usia 15 tahun.
Sedangkan Kemendikbud mengirim lima pelajar dengan tiga karya penelitian. “Kami berharap ajang ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap dunia penelitian,” ujar Nur Tri Aries S. [Rusdiono Mukri]




















