Rasulullah SAW bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.” (HR Bukhari Muslim)
Islam artinya berserah diri. Dan konsekuensi dari penyerahan diri adalah mengerjakan kelima perkara dalam Hadis di atas tanpa pilih-pilih. Tidak boleh hanya rajin mengerjakan shalat, namun malas membayar zakat. Atau menunaikan haji berkali-kali, tapi shalatnya sering bolong. Ini tidak benar. Ibarat sebuah bangunan, kelima perkara tersebut adalah tiang-tiangnya. Semuanya harus seimbang. Bila salah satu tidak dikerjakan, bangunan pun akan goyah. Intinya, semua perkaranya harus dikerjakan secara komprehensif.
Syahadat bukan seremonial. Hal prinsipil yang harus dipahami adalah tentang makna syahadat. Terlebih dua kalimat syahadat (syahâdatain) kerap dibacakan saat setiap bayi lahir, lalu dikumandangkan pula adzan di telinganya. Syahâdatain juga selalu dibaca ketika mengkhitan anak laki-laki, atau saat hendak melangsungkan pernikahan.
Pelafalan (syahâdatain) pada beberapa peristiwa tersebut, sebagai contoh, tampaknya hanya sekadar seremonial, dan bukan menjadi ikrar. Padahal, (syahâdatain) sesungguhnya adalah ikrar atau persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Dan dengan ikrar itu seorang Muslim diharapkan dapat senantiasa mawas diri, takut dan waspada terhadap godaan yang berupaya membatalkan ikrarnya. Namun yang lazim saat ini, justru membaca (syahâdatain) hanya dijadikan pokok syarat saja. Asalkan ujian lulus, ijazah pun didapat.
Malah ada juga yang mengamuk karena tidak berhasil memperoleh ijazah. Menurutnya, belajar agama otomatis dapat ijazah. Padahal, Allah SWT sendiri mempunyai rapor amal hamba-Nya, apakah shalat hamba-Nya itu, puasa, zakat atau hajinya telah berfungsi atau tidak pada kehidupan rumah tangga dan bermasyarakatnya. Mungkin hamba itu di sekolah tidak lulus, tetapi ajaran agamanya dengan Kebijaksanaan Allah dianggap lulus, hingga Allah kemudian akan memberinya tiket menuju surga. Ijazahnya pun berupa surga, meski hamba itu tidak naik kelas. Bukti ijazah ini juga dapat terlihat dari peningkatan kecenderungan kasih sayang hamba itu kepada fakir miskin setelah ia membayar zakat, atau ia tidak lagi berfoya-foya, atau tidak membiarkan tetangganya kelaparan. Dengan pertanda itu berarti ia telah lulus dengan rapor Allah SWT. Dan inilah yang dinamakan sukses di hadapan Allah. Karena nilai-nilai zakat telah berhasil diusungnya. Ironisnya, nilai-nilai tersebut kini justru ditinggalkan.
Rapor dunia oleh kebanyakan orang dianggap lebih penting daripada rapor akhirat. Maaf saja, dengan berbesar hati harus kita akui, kita sudah membaca syahâdatain, namun ketaatan kita kepada Allah tidak kunjung sesuai dengan syahadat kita. Kita juga terkadang jauh dari teladan Rasulullah SAW yang merupakan inti dari makna isi syahadat yang kedua. Ini berarti, nilai-nilai yang ada pada rukun-rukun Islam yang diikrarkan kurang terangkat.
Membuat keseimbangan kelima pilar tersebut harus sama-sama dikerjakan. Jika satu goyah, maka akan berpengaruh pada pilar lainnya. Selain itu, kualitas ibadah harus pula dijaga, dan kelima hal tersebut juga harus diupayakan dipertahankan agar tetap kokoh. Untuk menggapainya, tidak ada jalan lain, kecuali dengan mendidikkan rukun-rukun Islam tersebut secara maksimal, komplit, dan integrated (utuh). Keutuhan ini yang penting. Jangan sampai sekolah mendidik, namun rumah tidak mendidik. Sekolah dan rumah mendidik, tapi masyarakat malah tidak mendidik. Semua pihak sangat bertanggung jawab atas pendidikan ini. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dalam arti luas. Bukan hanya menggunakan papan tulis atau jadwal saja. Nilai-nilai yang terkandung dalam rukun Islam seharusnya dididik dan ditanamkan tanpa henti, dan tidak boleh berhenti.
Kelima pilar itu harus sama-sama diperkuat dan ditanamkan dengan hati, pikiran, pakaian, tempat, dan niat yang bersih. Jangan sampai hanya karena terjepit atau terpaksa, antara anak dan orangtuanya harus saling memaksa. Karena terjepit, anak lantas menyeru orangtuanya: “Pak, biar lulus daripada susah-susah ikut ujian, minta katebelece atau surat sakti.” Ini jelas terjadi karena si anak memang lemah dalam banyak aspek.[]






















