Bumi yang luas ini menjadi sempit karena watak kebinatangan itu. Orang congkak, tak mau dikalahkan, tak mau diungguli, tak mau diajar. Sementara orang kecil minder, tak punya pegangan, hanya bergantung ke mana saja. Manusia sering/banyak membuat aturan atau undang-undang untuk menjaga keselamatan pribadi, bukan untuk value (nilai) kemasyarakatan atau untuk masyarakat luas.
Ada hukum alam, pelanggarnya mendapat akibat dan hukuman dari alam. Ada hukum keluarga, hukum masyarakat/sosial, hukum agama-syariat, hukum adat, hukum ekonomi, hukum kesehatan fisik, hukum kesehatan mental, hukum birokrasi, hukum negara, dan seterusnya. Perbandingkan dengan hukum-hukum yang lain.
Batalnya shalat banyak dipelajari, diperhatikan dengan seksama, akan tetapi bagaimana dengan batalnya syahadat, zakat, haji, shiyam?
Dalam saringan kualitas, ada manusia yang enggan dan menyiksa diri, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang bersungguh-sungguh.
Banyak ilmuwan yang merasa cukup dengan kebenaran keilmuan yang bersikap sementara. Ilmu pengetahuan tidak mungkin bertabrakan atau berbenturan dengan kaidah syara’. Kebenaran penemuan keilmuan saat ini yang sesuai dengan nash-nash Al-Qur’an dimusuhi, dilawan, minimal ditutupi, karena takut, dengki. Itu penyakit … sakit paranoid.
Mundzirul Qoum yang membuat orang takut melakukan maksiat dan kezaliman, justru dicurigai. Padahal maksiat tidak boleh aman, “tak boleh dan tak mungkin aman”.
Ketauhidan adalah keamanan. Ni’matul Ikhlas, lezatnya khusyu’, misalnya Tauhid, bikin orang iri. Ulah setan masuk ke dalam hati manusia. Memisahkan keimanan dari kantor, lapangan, pasar, dll, menimbulkan kesusahan di dunia (ketidakamanan) dan di akhirat terbaca dokumentasi tercabutnya keimanan itu “karena keduniaan”, KKN, dll.
Menahan diri itu kewajiban. Menahan diri itu kebutuhan, demi kesejahteraan pribadi masing-masing maupun bersama-sama. Mau naik tingkat, naik pangkat, naik derajat, harus melewati fase menahan diri. Dari masalah makan, berpakaian, berkendaraan, sampai bergaul secara profesional. Kalau tidak, terjadilah keadaan yang sekarang berlaku di bumi Allah ini di mana satu pihak saling menjatuhkan pihak lain, dan berebut menyelesaikan masalah secara sepihak. Lucunya masing-masing mengaku-ngaku plural, global, umum, rakyat, dll, dan seterusnya.
Masyarakat digiring, dikerahkan secara fisik, mental, maupun hanya dengan opini atau informasi sistematis dan bencana untuk membenarkan kemauannya, nafsunya,ย atau pendapatnya. Ada bangsa yang tidak tahu arti merdeka karena “menjajah” atau “dijajah” menjadi kebiasaan hingga turun menurun, bangga lagi!
Hidup yang baik dan mati yang baik merupakan cita-cita umat yang bertauhid. Hidup ini amanat. Umur, kekuatan, kesehatan, pengetahuan, kekayaan, akan dipertanyakan dari mana asalnya dan penggunaannya. Kita harus memanfaatkannya untuk selalu to give, to give, to give dan in syaa Allah akan to again…
Islam itu ringan, simple dan mudah hanya manusia dengan ketergantungannya pada SIKON sering-sering mempersulit. Maka kalau perlu umat harus meninggalkan sikon, karena acapkali menjadi SYAITHON. Jangan sampai kita dijajah oleh sikon atau rutinitas ciptaan manusia. Ada keharusan mengondisikan diri dalam perubahan “sikon” apapun, untuk mengembangkan SDM tanpa meninggalkah syara’, value, dan moral spiritual-kemanusiaan yang sempurna.
Umur tidak bisa ditawar. Istighfar dan Taubat itu terus menerus, bukan musim-musiman, bukan harian, pekanan, bulanan, apalagi sekali setahun.
Menghadapi ujian, menghadapi suasana baru, kegiatan baru, menghadapi apa pun kita kembalikan pada niat, niat itu di hati. Oleh karena itu kita tidak perlu takut.
Tidak ada lagi alasan untuk tidak giat dalam proses peningkatan keimanan dan ketaqwaan agar ibadah kita lebih mantap dan kuat, mengisi sisa-sisa umur ini dengan amal shalih dan perbuatan produktif bermanfaat sesuai dengan tuntutan dan tuntunan ajaran Islam.
Bukan waktunya lagi malu atau takut menyatakan keislaman dan melakukan tuntunannya, apalagi menghadapi bentangan warna-warni abad ke-21 (millennium ketiga) yang penuh tantangan.
Ya Allah, tunjukkanlah kami, keluarga kami, jamaah kami, bangsa kami, umat kami, yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan-kekuatan lahir dan batin menjalankan serta memperjuangkannya dan yang batil itu batil/salah, dan berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk menghindari dan menentangnya. Amienโฆ[]





















