Siapa menyangka kecelakaan yang dialami ketika mengantar barang pesanan menjadi titik tolak lahirnya bisnis brilian. Bisnisnya ini tidak hanya menjadi magnet uang tapi juga menyabet berbagai penghargaan di tingkat internasional.Â
Anajidan Helmet, brand ini mulai menggeliat di kalangan anak muda khususnya para penggendara motor. Nama ini tidak hanya menjadi magnet pundi-pundi uang tapi juga melambungkan alumnus Pondok Modern Gontor tahun 2009 yang sukses merintis home industry helm yang memberdayakan masyarakat sekitar Bogor di pasar dalam negeri dan luar negeri.
Pemilik Anajidan Helmet ini bernama Gilang Hardian. Pria kelahiran Bogor, 26 Desember 1989, ini pernah dinobatkan sebagai juara pertama Global Student Entrepreneur Award, yaitu sebuah kompetisi tingkat regional (Asia Pasifik) yang diselenggarakan di Filipina tahun 2015. Meskipun menjadi sorotan media masa nasional dan internasional, Gilang tetap low profile.
Sehari-hari, ia tetap fokus mengembangkan bisnisnya bersama warga sekitar yang diberdayakan untuk meningkatkan produksi. “Kita lagi meningkatkan produksi untuk mengejar jadi industri. Masih proses,†ujar Owner Anajidan Helmet kepada gontornews.com, Kamis (21/4).
Tamat dari Gontor, Gilang melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STIE) Tazkia, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Di sela-sela kegiatan kuliahnya, mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen Islam ini menjual aneka macam produk seperti kaos, baju basket, baju fashion dan modem internet. Meskipun hanya sambilan, kegiatan ini meningkatkan wawasannya dalam dunia bisnis. “Saya sering menerima pesanan barang dari berbagai daerah yang dikirim menggunakan jasa paket,†tuturnya.
Suatu ketika, tahun 2011 Gilang mengalami kecelakaan saat hendak mengantarkan pesanan paket modem ke pembelinya. Akibat kecelakaan itu, motornya rusak dan beberapa bagian tubuhnya terluka akibat terseret hingga 10 meter. Setelah ditolong warga, Gilang langsung pulang ke rumah dan tak sempat mengambil barangnya yang tercecer di jalanan. “Pesanan barang pun ditunda dan transaksinya gagal,†kenangnya.
Setibanya di rumah, Gilang berpikir bagaimana caranya memperbaiki helm yang rusak agar bisa dipakai lagi. Karena bukan ahlinya, helm itu dibungkus dengan kulit sintesis. Dengan cara ini ternyata helmnya lebih menarik dan enak dipakai. Kemudian hasil karyanya ini diupload di internet melalui jejaring sosial. “Ternyata direspon bagus dan banyak yang tertarik untuk membuatnya,†katanya.
Sejak saat itu, putra ketiga dari pasangan Cecep Hardian dan Nunung Sumarti ini mendadak menjadi tukang servis helm dadakan yang melayani permintaan dari teman-temennya. Karena jumlah permintaan terus bertambah, pria yang saat itu duduk di semester empat STEI Tazkia ini nekad membuka bengkel reparasi helm di rumahnya.
Dari situlah mulai muncul ide untuk mengembangkan bengkel helm yang tadinya hanya ditangani sendiri menjadi sebuah home industry bernama “Anajidan Helmet.†Hanya dalam hitungan bulan, bisnis modifikasi helm bekas ini meningkat dan mendatangkan customer dari berbagai daerah seperti Aceh, Medan, Kalimantan, Sulawesi, Sorong hingga Malaysia dan Singapura.  “Awalnya ada customer dari Aceh tidak mau mengirimkan helmnya ke bengkel karena harus membayar ongkos kirim dua kali, solusinya dibelikan helm yang baru,†tuturnya.
Untuk meningkatkan pelayanan, Gilang pun menjalin kerjasama dengan produsen helm terkenal di Indonesia yang melayani pemesanan helm baru. Uniknya, santri yang pernah mengabdi di Gontor Lampung ini memulai bisnis tanpa modal sepeser pun. Ia hanya mengandalkan keahlian memodifikasi helm bekas dengan kulit sintetis, lalu bekerjasama dengan produsen helm dengan prinsip kepercayaan.
Membangun Value Bisnis
Dengan mengandalkan marketing online, penjualannya bisa mencapai 150 – 200 helm per bulan. Untuk memenuhi jumlah pesanan yang terus meningkat, tahun 2012 Gilang membuka workshop di Jl Sindang Barang Pilar 1 (SBJ) No 173 RT 03 RW 07 Bogor Barat dan menjalin kerjasama dengan para penjahit di daerah Bogor. Cara ini tentu menjadi peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian mereka.
Di samping itu, Gilang juga kerap mensponsori kegiatan berbagai komunitas seperti komunitas vespa, komunitas Harley Davidson dan komunitas motor klasik lainnya. Dari perpaduan antara konsep bisnis, inovasi dan semangat bisnisnya, pada tahun 2014 Gilang meraih penghargaan sebagai Juara 3 Bisnis Plan di ajang Indonesia Banking Forum 2014 IBS (Indonesia Banking School).
Di tahun yang sama, santri yang pernah menjadi Sekda Gontor ini kembali terpilih sebagai juara pertama dalam ajang Indonesia Youngster Inc Student Entrepreneur Championship 2014, yaitu sebuah kompetisi yang mempertemukan para pengusaha muda dari berbagai kampus di Indonesia untuk memaparkan konsep bisnisnya masing-masing.
Dari kompetisi ini Gilang mendapatkan satu tiket mengikuti ajang Global Student Entrepreneur Award (GSEA) di tingkat regional (Asia Pasifik) yang diselenggarakan di Filipina tahun 2015. Di ajang internasional ini, ia menjadi perwakilan Indonesia yang beradu bisnis dengan para peserta dari delapan negara antara lain Filipina, Taiwan, Malaysia, Indonesia, Singapura, Jepang, Korea dan Cina. Berkat dukungan moral dan doa dari keluarga, rekan, pelatih  serta KBRI di Manila, Gilang pun keluar sebagai juara pertama pada acara yang digelar 24 Januari 2015 di Manila itu.
Kemenangan ini tak lepas dari konsep bisnisnya yang tidak sekedar mengunggulkan brand tapi juga core value yang mengutamakan safety.
Selain itu, lahirnya Anajidan Helmet dari nol telah memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sehingga menjadi nilai tambah baginya. “Ini akan menjadi produk komunitas motor di dunia dan akan bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar,†ujarnya berpromosi.
Atas kemenangannya tersebut, Gilang memperoleh uang tunai senilai US$ 5.000 dan menjadi perwakilan Asia dalam kompetisi GSEA tingkat dunia yang berlangsung pada 15-17 April 2015 di Washington DC, Amerika Serikat. Di ajang kompetisi entrepreneur kelas dunia ini, ia meraih posisi ke-6 dari 42 negara.
Selama di Amerika, Gilang sempat berkunjung ke Harley Devidson Factory dan bertemu para staf di sana untuk sharing pengalaman, sekaligus menjajaki kerjasama bisnis di luar negeri. “Intinya sebatas mengetahui cara masuk ke sana, dan mereka sangat welcome sama helm saya,†tuturnya.
Gilang mengaku merintis bisnis dengan value ingin membangun dirinya dan sekaligus masyarakat di sekitarnya. [Ahmad Muhajir/Rusdiono Mukri]





















