Lampung, Gontornews — Masjid Jami Al-Anwar dikenal sebagai masjid tertua di Provinsi Lampung, meskipun beberapa kali harus direnovasi, termasuk ketika rusak berat saat Gunung Krakatau (induk) di Selat Sunda meletus dahsyat pada 1883. Masjid ini masih berdiri kokoh menyimpan sejarah.
Masjid yang berlokasi di Jalan Laksamana Malahayati Nomor 100 Kelurahan Kangkung, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandarlampung. Lokasinya sedikit ke pinggir dari pusat bisnis di kawasan Telukbetung, Bandarlampung.
Menurut catatan sejarah, masjid ini sudah ada sejak 1839 atau sudah berfungsi sejak sekitar 183 tahun lalu walaupun semula hanya berupa surau atau langgar kecil.
Pemerintah Provinsi Lampung melalui Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Lampung telah menetapkan masjid ini sebagai masjid tertua dan bersejarah di Bandarlampung. Hal ini tertuang di dalam SK Nomor: Wh/2/SK/147/1997.
Catatan sejarah, masjid ini dibangun oleh ulama pendatang yang berasal dari Pulau Sulawesi dari Suku Bugis. Daeng Muhammad Ali, K.H. Muhammad Said, dan H. Ismail. Surau atau mushalla ini awalnya digunakan oleh mereka untuk perkumpulan mengaji, bersama dengan ulama dan masyarakat setempat lainnya.
Awal renovasi dilakukan lima tahun setelah Gunung Krakatau meletus, sekitar 1888, bersama dengan para ulama dan masyarakat dengan langsung mendirikan masjid yang lebih permanen pada tahun itu, lalu dilanjutkan renovasi, termasuk yang dilakukan pada 1972, dan terakhir pada 2015.
Jadi tahun 1888, renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan enam tiang yang ada. Enam tiang tersebut menggambarkan Rukun Iman. Pada 1972, renovasi dilakukan kembali dengan memperluas bangunan menjadi lebih besar karena jamaah yang datang saat Shalat Jumat dan hari-hari besar semakin banyak jumlahnya. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 6.500 meter, menampung 1.500 sampai 2.000 jamaah.
Dalam buku berjudul “Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia” karya Abdul Baqir Zein pada 1999, keenam tiang masjid yang dibangun pada 1888 dibuat bukan menggunakan semen, melainkan campuran telur ayam dan kapur.
Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, ada beberapa hal yang tetap dipertahankan di masjid tersebut, seperti meriam peninggalan Belanda di depan masjid, beduk hadiah dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang tetap disimpan sampai sekarang, serta kitab-kitab peninggalan sejak dahulu dari berbagai bahasa yang disimpan di perpustakaan masjid.
Masih dalam buiu tersebut, bahwa para tokoh dan ulama yang pernah memakai masjid ini untuk mengatur strategi perjuangan, di antaranya Haji Alamsyah Ratu Prawiranegara (mantan Menteri Agama RI), Kapten Subroto, K.H. Nawawi, dan K.H. Thoha.
Dalam buku dijelaskan bahwa masyarakat bahu membahu dalam mempertahankan Bumi Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai itu dari penjajahan Belanda hingga Indonesia merdeka. [Fath]






















