0California, Gontornews – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Biologi dari Universitas California membuktikan bahwa terdapatnya hubungan sel antara ibu dan anak setelah kelahiran. Hubungan sel ibu dan anak kemudian disebut dengan sel janin atau microchimerism fetal (MF). Penelitian ini, mungkin, dapat menjadi referensi dibalik ‘perintah’ Allah swt kepada ibu untuk menyusui anaknya di usia 0-2 tahun.
MF merujuk pada pembentukan sel yang terjadi disaat seorang ibu mengandung seorang anak selama berada di dalam rahim. Sel ini masih akan terus ‘bekerja’ bahkan setelah proses persalinan terjadi.
Studi yang pernah dilakukan pada 2015 menyebutkan bahwa peneliti menemukan terdapatnya kromosom Y, sel yang biasa terdapat pada laki-laki, pada otak, jantung, ginjal, paru-paru, limpa dan hati seorang wanita. Faka ini menjelaskan bahwa terdapatnya sel induk yang lantas berdiferensiasi ke semua jenis sel.
Namun, sebagian besar sel MF mati seiring dengan sirkulasi yang terjadi pasca persalinan. Hanya saja, ada beberapa sel MF yang tinggal di dalam tubuh ibu bahkan dalam jangka waktu yang lama atau seumur hidup.
“Jika sel-sel itu terintegrasi ke dalam jaringan, maka sel-sel tersebut bisa hidup selamanya,” ungkap ahli Biologi Universitas California, Amy Boddy, sebagaimana dilansir Live Science.
“Kami tidak tahu mengapa sel-sel tersebut masih tinggal di tubuh seorang ibu. Mungkin, sel-sel janin ini bermanfaat atau setidaknya tidak begitu berbahaya (bagi ibu),” tambah Boddy.
“Sel-sel tersebut bisa jadi menguntungkan seorang bayi. Sel-sel itu dapat membantu seorang ibu memberikan sumber daya kepada bayi setelah lahir,” jelas Boddy.
Meski demikian, beberapa penelitian juga menjelaskan jika sel janin juga memiliki risiko seperti penyakit autoimun atau kanker. Hanya saja, peneliti tidak sepenuhnya sepakat. Peneliti bahkan membagi 3 hipotesa tentang sel janin: (1) pengamat atas peningkatan aliran darah yang terjadi dalam tubuh; (2) berbahaya bagi tubuh; dan (3) sel-sel tersebut berkerja untuk membantu perbaikan jaringan tubuh.
“Banyak yang harus dipelajari,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]






















