Jakarta, Gontornews — Pembinaan rohani agama Islam merupakan salah satu bagian integral di TNI AD khususnya Kodam Jaya dalam mengembangkan mental keprajuritan TNI AD khususnya Kodam Jaya. Konsep-konsep tersebut dilaksanakan dalam rangka membina, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, mempertinggi budi pekerti, dan akhlak luhur para prajurit bangsa.
Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim yang sekaligus merupakan pemegang saham terbesar atas tegak-berdirinya negara ini. Beberapa tulisan menyatakan bahwa kaum agamawan adalah pihak yang berhasil ikut memantik dan menghadirkan semangat untuk mau membela dan turut serta dalam mempertahankan perjuangan kemerdekaan.
Dengan demikian, adalah sesuatu yang akan tampak ideal dan proporsional jika kaum Muslimin bisa berperan secara optimal dalam pengelolaan pemenuhan kebutuhan sosial (social needs) yang selaras dengan Islamic worldview dalam segala lini kehidupan.
Hal ini dimulai dari yang paling elementer sifatnya, hingga yang paling sublim tentunya. “Secara umum akan mencakup lima dimensi yang ada dalam agama, yaitu ritual, mistikal, ideologikal, intelektual, dan sosial,” terang Dr Asmil Ilyas dalam disertasi yang dipromotori oleh Prof Dr H Abudin Nata, MA dan H Adian Husaini, MSi, PhD.
Karenanya, tidaklah aneh jika Indonesia mulai dilirik dan diharapkan untuk menjadi penerima giliran pelanjut kepemimpinan dan peradaban yang ada pada masa kejayaan Islam terdahulu. Sebab Indonesia dianggap mempunyai potensi besar untuk mewujudkannya.
Akan tetapi, sungguh disayangkan, walaupun selaku investor terbesar bangsa ini, Muslim Indonesia masih belum mampu untuk memberikan sumbangan partisipasi dan peranan maksimal dalam kehidupan berbangsa-bernegara hingga sekarang.
“Karenanya, harus ada ikhtiar dari kaum Muslim Indonesia untuk bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat. Dan hal tersebut, harus dimulai dari bidang pendidikan yakni pendidikan Islam,” tambah pria kelahiran Simpang Lagan Punggasan, 1 Februari 1957.
Alasannya karena pendidikan Islam adalah pendidikan manusia yang seutuhnya. Ia mencakup akal dan hatinya; rohani dan jamaninya; akhlak dan juga keterampilannya.
Oleh karena itu, pendidikan Islam akan menyiapkan manusia untuk hidup lebih baik dalam keadaan damai maupun perang. Serta menyiapkannya untuk dapat menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Namun demikian, keunggulan konsepsi Islam tentang sistem pendidikan tidak cukup hanya menjadi doktrin agama semata di dalam internal umat Islam. Melainkan harus bisa dihadirkan dan dipentaskan ke muka bumi dalam konteks kekinian dengan sikap yang wajar, proporsional, dan logis.
Doktor yang pernah bertugas sebagai anggota DPRD fraksi TNI/Polri tahun 2001 ini menjelaskan bahwa Indonesia perlu melakukan pendekatan politis (political approach) kepada para pemangku kekuasaan. Gunanya agar mereka mau membuka mata dan telinga akan keunggulan ajaran Islam dalam bidang pendidikan.
Permasalahan lainnya yakni belum adanya kajian yang cukup komprehensif di Indonesia tentang sistem pendidikan di zaman sahabat dan dua generasi emas setelahnya. Sebab itu, perlu digelar kegiatan pengkajian yang mendalam dan bisa dibuktikan secara bersama-sama.
Hal ini untuk menghadirkan sebuah bukti yang tidak bisa terbantahkan (proven) dalam lintasan sejarah Islam akan adanya karya nyata yang sudah ditorehkan para pakar dan praktisi pendidikan Islam dalam sebuah formula yang bisa dikaji dan dibuktikan secara ilmiah.
Lalu terkait konsep dan aplikasi pembinaan mental TNI AD, pria yang juga aktif sebagai pembina di Sekolah tinggi Agama Islam Pesisir Selatan, Sumatra Barat ini berpendapat bahwa pembinaan rohani agama Islam merupakan salah satu bagian integral di TNI AD khususnya Kodam Jaya dalam mengembangkan mental keprajuritan TNI AD juga Kodam Jaya.
Berdasarkan penelitiannya, Kolonel Asmil mengungkapkan, “Konsep pembinaan rohani Agama Islam pada Bintal TNI AD khususnya Kodam Jaya digunakan sebagai bentuk pembinaan, kegiatan dalam bentuk bimbingan, penyuluhan, dan pelayanan.”
Konsep-konsep tersebut dilaksanakan dalam rangka membina, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, mempertinggi budi pekerti, dan akhlak luhur. Selain itu untuk memberi pelayanan keagamaan bagi prajurit dan PNS AD beserta keluarganya di lingkungan Mabes TNI AD khususnya Kodam Jaya Jakarta.
Sayangnya, konsep yang sudah memuat akan berbagai tujuan, fungsi, kurikulum, metode, dan lainnya tersebut, belum dapat diaplikasikan dengan baik. Penyebabnya karena tindakan amoral dari oknum TNI AD itu sendiri.
Aplikasi dari konsep yang tidak dapat efektif ini disebabkan oleh kurangnya keterlibatan langsung dari pimpinan Kodam Jaya. “Padahal sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa sifat TNI AD loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin,” tambah ayah empat anak ini.
Kasus lainnya adalah ketika ada binroh, pimpinan meminta salah satu peserta untuk mengikuti kegiatan lain yang waktunya sama dengan binroh.
Terkait soal materi, sejatinya materi yang diberikan sudah memiliki basis kurikulum dan isi yang mapan. Akan tetapi belum terencana sesuai dengan teori pendidikan. Sehingga antara in put, out put dan rencana ke depan belum dapat tercermin.
Pada sisi lain, materi yang diberikan tidak didasarkan pada kenyataan kasus moral TNI AD khususnya Kodam Jaya yang ada di lapangan. Jadi, konsep yang sudah dibangun dan dikuatkan oleh beberapa kebijakan secara lokal dari pimpinan belum menjawab kebutuhan TNI AD khususnya Kodam Jaya di masyarakat.
Oleh karena itu, perlu ada solusi konsep yang sudah ada. Misalnya, mengenai materi sebaiknya yang disampaikan adalah mengenai akidah dan akhlak yang diajarkan secara kritis dengan menunjukkan beberapa indikasi. “Bukan dijadikan sebagai doktrin yang harus diikuti,” tambah lelaki peraih Magister Agama jebolan Institut Ilmu Al-Qur’an, Jakarta ini.
Hal ini berkaitan dengan tingkat kedewasaan para anggota TNI. Bintal Rohani harus dibedakan dengan Bintal ideologi yang berlaku dalam TNI. Sedangkan pematerinya harus mengikuti kurikulum yang sudah ditentukan dan diteliti sesuai dengan kebutuhan.
Pada sisi lain, pemateri harus menggunakan beberapa metode yang menarik dan memenuhi syarat kompetensi sebagai pendidik. Sistem pelajaran yang selama ini hanya umum hendaknya dirubah menjadi terstruktur dalam hal waktu, tempat, juga pesertanya.
“Hal ini guna meningkatkan pemahaman bagi anggota TNI. Selain itu, semua anggota dapat mengikutinya secara bersinambungan tanpa harus diganggu oleh kegiatan lain yang tidak mendesak,” tutup Asmil Ilyas. <Edithya Miranti>
Biodata Singkat
Nama :Dr Asmil Ilyas
TTL :Simpang Lagan Punggasan, 1 Februari 1957
Istri :Sri Rahayu Ningsih
Anak :Empat
Pekerjaan :
Anggota TNI dengan Pangkat Kolonel.
Dosen beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Bogor (Universitas Djuanda).
Pembina Pondok Pesantren Miftahul Hidayah Bogor, Jawa Barat.
Pendidikan :
2013, Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor.
2001, Magister di Institut Ilmu Al-Qur’an, Jakarta.
1983, Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah IAIN, Medan.
Prestasi :Peraih Satya Lencana Kesetiaan VIII, Satya Lencana Kesetiaan XVI, Satya Lencana Kesetiaan XXIV, Satya Lencana Kesetiaan Wirasiaga, Satya Lencana Kesetiaan Wirakarya, Satya Lencana Kesetiaan Widyasista.





















