Yogyakarta, Gontornews — Lahirnya Tafsir At-Tanwir penting serta menarik untuk dikaji, mengingat bahwa Tafsir At-Tanwir adalah tafsir yang lahir dari salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar dan tertua di Indonesia (1912).
Sejak diluncurkan untuk pertama kalinya pada Selasa 13 Desember 2016, Tafsir At-Tanwir karya Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah banyak menerima permintaan untuk dicetak ulang. Permintaan dari berbagai kalangan atas tafsir ini menandakan bahwa Tafsir At-Tanwir banyak dibutuhkan masyarakat luas, khususnya umat Islam.
Tafsir At-Tanwir ini patut diparesiasi karena disinyalir telah menawarkan metode dan pendekatan baru dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga produk tafsir ini lebih hidup dan mampu dalam menjawab tantangan zaman.
Perkembangan zaman sekaligus dibarengi dengan berbagai persoalan-persoalan kekinian yang muncul menjadi dorongan tersendiri bagi umat Islam, khususnya ulama-ulama ahli tafsir dalam menyuguhkan karya tafsir yang mampu memecahkan problem-problem kontemporer. Hal inilah yang melatar belakangi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam menyusun Tafsir At-Tanwir.
Tafsir At-Tanwir adalah tafsir yang lahir dari salah satu Ormas Islam terbesar dan tertua di Indonesia (1912). Kontribusi Muhammadiyah dalam pemikiran dan pengembangan Islam di Indonesia tidak dapat dipungkiri telah menampilkan diri sebagai sebuah fenomena unik dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.
Dalam sudut pandang Islam, melalui tafsir al-Qur’an, Muhammadiyah mencoba memberikan jawaban atas kebutuhan umat Islam terhadap situasi sosial kontemporer dalam sudut pandang al-Quran. Tafsir At-Tanwir yang direncanakan terbit dalam bentuk utuh 30 juz dan diproyeksikan dapat diselesaikan kurang lebih 50 tahun.
Menurut Yunahar Ilyas, melalui tafsir ini, PP Muhammadiyah mengenalkan karya tafsir al-Quran yang memilki corak khusus yang berbeda atau distingtif dibandingkan dengan tafsir yang sudah ada. Namun setelah mendapat banyak masukan proyek tersebut diminta lebih dipercepat menjadi hanya 15 tahun.
Secara substantif, tafsir ini diharapkan dapat membangun etos ilmu, etos ekonomi, etos beribadah, etos beraqidah, dan etos bermuamalah. “Selain itu diharapkan juga dapat menyeimbangkan tuntutan duniawiyah dan ukhrawiyah,” terang Dr Nurdin dalam penelitiannya berjudul, Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah; Teks, Konteks, dan Integrasi Ilmu Pengetahuan.
Penggunaan nama At-Tanwir sendiri merupakan cerminan dari filosofi Muhammadiyah, yaitu sebagai At-Tanwir atau pencerahan. Maka menjadi tepat ketika Tafsir At-Tanwir ini disebut sebagi tafsir al-Qur’an berkemajuan. Tafsir yang diharapkan dapat memberikan jawaban atas berbagai persoalan sosial kontemporer yang dihadapi umat Islam dewasa ini.
Dr Nurdin juga menambahkan bahwa selain hal di atas, yang menjadi menarik adalah bahwa tafsir ini tidak sekedar mengulang kembali secara mentah hasil-hasil tafsir terdahulu, tetapi juga memberi beberapa kontribusi baru dalam menyahuti berbagai problem umat masa kini yang ditandai dengan responsivitasnya terhadap situasi konkret. Sehingga tafsir ini tidak hanya sekedar kumpulan kutipan dari tafsir-tafsir yang sudah ada.
Dari segi metodologi, tafsir At-Tanwir ini bersifat responsif atas situasi-situasi yang aktual dan membangun teologi afirmatif. Sehingga pesan al-Qur’an tetap selalu relevan dengan zaman yang terus berubah.
Dari uraian dan analisis yang telah dilakukan terhadap Tafsir At-Tanwir dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, ada tiga alasan atau tujuan yang melatarbelakangi lahirnya Tafsir At-Tanwir, yaitu: Satu, Tafsir At-Tanwir ini ditulis dengan tujuan untuk menyediakan satu bacaan tafsir al-Qur’an dalam kerangka misi dan tugas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi mungkar dan tajdid.
Dua, Tafsir At-Tanwir ini ditulis untuk memenuhi aspirasi warga Muhammadiyah yang menginginkan adanya bacaan yang disusun secara kolektif oleh ulama, cendekiawan, dan tokoh Muhammadiyah.
Tiga, Tafsir At-Tanwir ini ditulis dengan tujuan untuk memanfaatkan modal simbolis umat yang dapat digali dari tuntunan kitab suci al-Qur’an dalam rangka membangkitkan etos umat dan membangun peradaban Indonesia yang berkemajuan.
“Selain tiga tujuan tersebut, lahirnya Tafsir At-Tanwir merupakan bentuk komitmen Muhammadiyah yang sejak awal berdiri menggelorakan al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah, yaitu kembali pada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah,” tekan dosen yang juga aktif menulis di beberapa media masa dan media online itu.
Kedua, metode penafsiran yang digunakan Tafsir At-Tanwir adalah metode tahlili cum tematik. Inilah yang menarik dan unik dari Tafsir At-Tanwir. Metode tahlili cum tematik adalah gabungan antara tahlili dan tematik. Disisi lain Tafsir At-Tanwir menafsirkan sesuai dengan urutan ayat dalam mushhaf, namun sekaligus memberikan tema-temanya pada ayat-ayat yang ditafsirkan.
Metode tahlili cum tematik ini dapat memudahkan para pembaca untuk membaca dan memilih tema yang sesuai dengan kebutuhan. Inilah yang membedakan Tafsir At-Tanwir dengan tafsir model tahlili pada umumnya.
Tahlili pada umumnya hanya monoton tanpa ada tema-tema yang diberikan dari setiap ayat yang ditafsirkan. “Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam Tafsir At-Tanwir adalah gabungan tiga pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani,” imbuh penulis buku, Pasaraya Tafsir Indonesia: dari Kontestasi Metodologi hingga Kontekstualisasi tersebut.
Ketiga, dari tiga pendekatan yang digunakan dalam Tafsir At-Tanwir yaitu Bayani, Burhani, dan Irfani, telah melahirkan karakteristik penafsiran dalam Tafsir At-Tanwir yakni satu, Tafsir Responsivitas.
Adapun yang dimaksud dengan responsivitas adalah tafsir yang merespons dan menyesuaikan dengan berbagai problem-problem aktual kekinian. Sehingga dalam menafsirkannya, Tafsir At-Tanwir banyak menyinggung dan mengintegrasikan dengan problem-problem aktual kekinian, khususnya keindonesiaan, baik masalah sosial, ekonomi, tradisi hingga politik.
Dua, Tafsir yang Membangkitkan Dinamika. Adapun yang dimaksud dengan membangkitkan dinamika adalah bahwa Tafsir At-Tanwir diharapkan uraiannya (tafsirnya) tidak hanya sekedar menyajikan petunjuk-petunjuk kehidupan secara normatif, tetapi juga berisi gagasan-gagasan dan pikiran yang dapat menjadi inspirasi bertindak kepada pembacanya dan sumber motivasi berbuat dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Tiga, Tafsir yang Membangkitkan Etos. Dalam Tafsir At-Tanwir ada empat etos yang dibangun, yaitu etos ibadah, etos ekonomi dan etos kerja, etos sosial, serta etos keilmuan.
Dr Nurdin pun menyatakan bahwa penelitian ini baru penelitian rintisan atau permulaan. “Besar harapan bahwa penelitian ini masih bisa dilanjutkan dan dikembangkan kembali terutama yang berkaitan dengan tema-tema atau kasus tertentu dalam Tafsir At-Tanwir,” pungkas peneliti yang masih aktif terlibat dalam riset bersama dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta maupun di UIN Alauddin Makassar itu.[]





















