Kebutuhan manusia terhadap teknologi digital saat ini sangat tinggi, tidak terkecuali dalam melaksanakan dakwah. Karena itu, tantangan dakwah di era digital saat ini semakin besar, maka diperlukan kecermatan serta kehati-hatian.
Berdakwah di era digital bukan hal yang mudah namun tidak juga sulit. Seorang da’i atau da’iyah harus mampu menyesuaikan diri dengan zaman, seperti halnya di era digital sekarang ini.
Ketelitian dan kehati-hatian dalam menyampaikan berita atau dakwah harus menjadi prioritas. Jangan sampai dakwah itu justru menyebar kebencian, kebohongan atau bahkan memecah belah ukhuwah dan persatuan umat.
Berita atau dakwah yang disampaikan baik melalui tulisan ataupun ucapan akan memiliki dampak luas di masyarakat. Sebab, setiap hal yang tertulis atau terucap di media sosial, dengan mudah akan menyebar secara luas, dan alan sulit untuk menghapusnya dan akan menjadi bagian dari jejak digital.
Menyampaikan berita juga harus sesuai dengan ajaran Alquran dan Assunnah. Bahwa berita harus berlandaskan pada fakta dan kebenaran, sehingga hasil yang diterima akan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat.
Selain itu, dakwah atau berita tidak boleh mengandung unsur kebohongan (hoaks) dan kebencian yang hanya akan menimbulkan perpecahan umat. Dakwah tidak boleh menyampaikan hal-hal yang khilafiah maupun berkaitan dengan politik praktis.
Sebagaimana Allah SWT menyampaikan dalam surat An-Nisa’ ayat 94, yang artinya: “Wahai kaum Mukmin, apabila kalian berperang untuk membela Islam, hendaklah kalian benar-benar meneliti berita yang kalian terima. Janganlah kalian berkata kepada orang-orang yang kalian dapati tanda-tanda keislaman pada mereka: “Kamu bukan seorang Mukmin” hanya karena kalian menginginkan harta kesenangn dunia. Padahal di sisi Allah ada harta rampasan yang banyak sekali. Begitulah yang kalian lakukan dahulu, lalu Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena itu, hendaklah kalian meneliti setiap berita yang kalian terima. Allah Maha Mengetahui semua yang kalian lakukan.”
Seorang da’i harus benar-benar berpegang teguh pada kebenaran dan kebenaran itu berasal dari kalam Allah SWT dalam ayat Alquran serta ajaran Rasul-Nya.
Dakwah digital juga menuntut para da’i dan da’iyah untuk selalu berhati-hati dalam menyampaikan dakwah, jujur serta tidak memerintahkan pada kebencian di kalangan umat, sehingga dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat.
Meskipun saat menyampaikan sesuatu hal atau berita melalui medsos, jari yang melakukan namun semua itu berasal dari lisan, hati dan pikiran. Jika tidak berhati-hati maka hanya akan mendatangkan malapetaka, karena segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban.
Terlebih pertanggungjawaban lisan, sebab lisan akan dapat membawa seseorang menuju neraka, namun lisan pula yang akan mengantar seseorang menuju surga Allah Azza wa Jalla.
Sebagai seorang da’i, yang memikul kewajiban dakwah harusnya bisa menyampaikan kebenaran, baik melalui tulisan, lisan maupun perbuatan. Jangan sampai perkataan dan tulisannya, atau sikapnya menimbulkan kebencian dan perpecahan, khususnya di kalangan umat Islam.
Dakwah yang baik adalah dakwah yang mampu melihat kebutuhan masyarakat, menyampaikan apa yang dibutuhkan masyarakat secara baik dan benar. Serta mengetahui kesalahan yang dilakukan masyarakat untuk kemudian memperbaikinya.
Selain itu, dalam berdakwah harus memiliki metode yang kreatif dan inovatif agar tidak membosankan. Masyarakat dapat memetik manfaat dan hikmah dari apa yang disampaikan oleh para da’i maupun da’iyah, tidak merusak ukhuwah dan persatuan bangsa. Wallahu a’lam. []






















