Goma, Gontornews — Menteri Kesehatan Republik Demokratik Kongo, Oly Ilunga, mengundurkan diri dari jabatannya setelah tanggung jawabnya dalam menangani wabah Ebola dilucuti. Ilunga ditengarai mendapatkan desakan dari sejumlah pihak menerapkan vaksin Ebola yang belum jelas terbukti efektif.
Ilunga telah mengawasi penyebaran wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), wabah Ebola di Kongo telah ditetapkan sebagai wabah mematikan nomor dua di dunia. Ebola di Kongo, sebut WHO, telah membunuh lebih dari 1.700 warga Kongo.
Terkait penguduran Ilunga, Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, telah menunjuk sebuah tim yang dipimpin oleh Kepala Lembaga Penelitian Biomedis Kongo, Jean-Jacques Muyembe untuk terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kongo terkait penanganan kasus Ebola.
Dalam surat pengunduran dirinya, Ilunga mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan tekanan oleh seorang ‘aktor’ yang tidak disebutkan namanya untuk menyebarkan vaksin kepada masyarakat. Reuters menduga Vaksin yang diproduksi Johnson & Jhonson, yang didukung oleh WHO, sebagi aktor yang disebut-sebut oleh Ilunga.
Hingga saat ini, vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Merck dianggap lebih efektif dan telah digunakan kepada 170.000 orang untuk mencegah penyebaran Ebola di Kongo. Sedangkan belum digunakannnya produk Jhonson & Jhonson oleh pemerintah Kongo adalah karena Ilunga belum memberikan persetujuan dan, di sisi lain, vaksin tersebut disebut tidak terbukti efektif.
“Aneh bagi saya untuk berfikir bahwa vaksin baru yang diusulkan oleh seorang aktor bisa digunakan. (Desakan) itu telah menunjukkan kurangnya etika dan secara sukarela menyembunyikan informasi penting dari otoritas medis yang dapat berdampak secara signifikan dalam pengendalian wabah saat ini,” kata Ilunga dalam surat pengunduran dirinya.
Sementara itu, Kepala petugas ilmiah, Paul Stoffels, mengatakan jika perusahaan J&J sangat transparan, sangat terbuka dan dalam siap berkomunikasi dengan pihak berwenang di Kongo.
Stoffels pun mengatakan bahwa J&J telah berdiskusi dengan Muyembe tentang bagaimana cara orang dapat divaksinasi terkhusus di Goma, salah satu kota terbesar di Kongo Timur.
“Apakah mereka akan menggunakannya atau tidak, itu baik bagi kita,” kata Stoffels.
“Mereka menilai berdasarkan pengetahuan pribadi mereka tentang bagaimana dan dimana menggunakannya,” tambah Stoffels.
WHO dan donor internasional lainnya termasuk badan amal medis Medecins Sans Frotieres secara terbuka mendukung penggunaan 1,5 juta dosis vaksin kedua di Kongo.
Lebih lanjut, WHO juga menyampaikan terima kasih atas kepemimpinan dan dedikasi Ilunga di Kementerian Kesehatan Kongo. WHO pun ditengarai siap bekerjasama dengan tim koordinasi yang telah dibentuk oleh Pemerintah. [Mohamad Deny Irawan]

























