Tangerang, Gontornews — Fenomena syirik atau meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT sudah terjadi sejak dahulu dan masih terus ada hingga saat ini. Syirik itu pun bermacam-macam jenisnya, ada syirik berat dan ringan.
Ustadz Abdul Shomad Lc MA menuturkan, “Maukah kalian aku tunjukan dosa yang terbesar dari dosa besar lainnya yaitu syirik.” Syirik berat merupakan perbuatan penyembahan Tuhan selain Allah SWT yang dosanya tidak akan diampuni kecuali dengan taubatan nashuhah dan kehendak Allah SWT semata.
Sedangkan syirik ringan seperti percaya batu cincin, riya, sombong, dan lainnya, yang masih tergolong dosa kecil namun tetap harus diiringi dengan pertaubatan nashuhah pula dari si pelaku agar diampuni dosanya oleh Allah SWT.
Saat ini masyarakat Indonesia telah banyak mengenal beragam perbuatan syirik yang tergolong besar, seperti, perdukunan, santet, pelet, mendatangi paranormal, dan masih banyak lagi. Dari sekian jenis perbuatan syirik tersebut, biasanya orang yang melakukan memiliki beragam motif tujuan yang berbeda.
Ada di antara mereka yang berharap kekayaan melimpah, kekuasaan, dendam, pekerjaan yang baik, mengembalikan suami atau istri yang berselingkuh ke pelukannya, mendapatkan kekasih pujaan, wajah cantik atau tampan yang mampu memikiat hati lawan jenis, dan hal lain dalam waktu sekejap mata dan pastinya dengan bantuan makhluk ghaib.
Ada lagi, orang yang meminta doa dari seorang kyai agar dimudahkan dan dikabulkan harapannya, namun ia malah syirik karena menganggap bahwa harapannya bisa terkabul berkat kyai dan bukan kekuasaan Allah SWT.
Dari sini bisa diketahui bahwa kyai tidak salah namun orang yang datang kepadanyalah yang menyalahartikan hingga mereka disebut musyrik karena telah lupa akan adanya Allah SWT Sang Maha Kuasa dan bergantung pada si kiai sang pengabul segala doa.
Hingga sekarang ini masih banyak orang yang menginginkan cara instan untuk mendapat apa yang diinginkannya. “Ada yang ingin segera mendapatkan wanita idamannya, lalu datanglah ia ke dukun dan lantas disuruh untuk membawa air ludah dari si wanita itu. Setelah itu, si wanita langsung terbayang-bayang wajah orang yangΒ menyukainya tersebut,” jelas Ustadz Abdul Shomad.
Ada juga, orang yang menaruh tali hitam dililitkan di tangannya, agar makhluk jahat tidak mengganggunya. Ini pun syirik dan dosanya tidak diampuni.
Dulu, pernah juga mencuatnya kasus Eyang Subur dan itu hanyalah satu dari sekian ragam fenomena syirik di Indonesia,” ujar Dr Hj Faizah Ali Syibromalisi kepada Gontornews.com. Karena sejatinya, tidak cuma Subur yang seperti ini, tetapi masih ada lainnya, hanya saja tidak muncul dan terlihat media. Hal ini menunjukan bahwa Islam di Indonesia hanya tampak di permukaan saja.
Indonesia walaupun telah disebut sebagai negara Islam terbesar di dunia, ternyata masyarakat Muslimnya masih banyak yang belum mengerti akidah tauhid, hingga masih banyak yang terjerumus dalam jurang kesyirikan. Sebagaimana yang ditulis di sebuah majalah Intisari bahwa hampir 80% masyarakat kita pernah mendatangi perdukunan.
Meski demikian, pintu maaf Allah SWT tetap akan terbuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang mau segera bertaubat. Sebelum ajal menjemput berusahalah untuk menjemput hidayah dari Allah SWT. Karena dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni.
“Akan tetapi pahamilah, bahwa maksud dari dosa yang tidak diampuni adalah dosa orang yang syirik lalu ia mati dalam keadaan syirik,” tukas Ustadz Shomad. Sebab itu, lanjutnya, bagi mereka yang pernah menyekutukan Allah SWT, segeralah mandi taubat dan lakukan shalat sunnah taubat dua rakaat, memohon ampun kepada Allah SWT. [Edithya Miranti]





















