Jenewa, Gontornews — Kepala ilmuwan badan kesehatan dunia, WHO, Soumya Swaminathan, meminta semua pihak untuk tidak panik atas kemunculan varian Omicron asal Selatan Afrika. Swaminathan mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah vaksin perlu dibuat ulang.
Dalam wawancaranya bersama Reuters Next, Jum’at (3/12/2021), Swaminathan mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat memprediksi apakah Omicron akan menjadi mutasi yang dominan di seluruh dunia.
Sejauh ini, varian Omicron telah terdeteksi di 38 negara di Asia, Afrika, Amerika, Timur Tengah dan eropa. Varian Omicron bahkan sudah menyebar ke tujuh dari sembilan provinsi di Afrika Selatan. Akibatnya, sejumlah negara memutuskan untuk memperketat aturan perjalanan untuk menghindari varian tersebut.
Swaminathan menjelaskan bahwa tampaknya varian Omicron sangat menular. Ia mengutip data dari Afrika Selatan yang menunjukkan jumlah kasus harian bertambah secara masif setiap hari.
“Seberapa khawatir kita seharusnya? Kita harus siap, hati-hati dan tidak panik karena kita berada dalam situasi yang berbeda dengan tahun lalu,” kata Swaminanthan kepada Reuters.
“Delta menyumbang 99 persen infeksi di seluruh dunia. Varian ini harus lebih menular untuk bersaing dan menjadi dominan di seluruh dunia. Itu mungkin, tetapi kami tidak mungkin bisa memprediksi,” sambungnya.
Dia menjelaskan bahwa dunia masih belum memahami beberapa hal seputar varian Omicron ini. Faktanya, Eropa justru sedang bergulat dengan varian Delta dalam periode keempat gelombang Covid-19.
“Kita perlu menunggu, semoga lebih ringan. Tetapi terlalu cepat untuk menyimpulkan tentang varian ini secara keseluruhan,” papar Swaminanthan.
WHO juga memaparkan belum ada laporan kematian akibat varian Omicron setidaknya hingga Jum’at (3/12/2021).
Direktur Kedaruratan WHO, Mike Ryan, mengatakan belum ada bukti yang mendukung perubahan vaksin sebagai bentuk respon dari varian Omicron. “Saat ini kami memiliki vaksin yang bekerja dengan sangat efektif. Kita perlu fokus untuk membuat mereka (vaksin tersebar) secara merata. Kita perlu fokus untuk membuat orang yang paling berisiko untuk menerima vaksin,” tutup Ryan. [Mohamad Deny Irawan]





















