Provinsi Jambi terletak tepat di tengah Pulau Sumatera. Posisinya diapit empat provinsi, yakni Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Barat, dan Bengkulu. Jambi termasuk dari tiga provinsi yang memiliki kesamaan nama dengan nama ibukotanya setelah Bengkulu dan Gorontalo. Konon, daerah Jambi masih bagian dari kerajaan melayu yang berpusat di sepanjang Sungai Batanghari berpusatkan kerajaaan di Dharmasraya Sumbar.
Meski daerahnya terapit dan kecil dibanding provinsi lainnya di Sumatera, Jambi berperan penting dalam sejarah perkembangan Sumatera. Sebelum Belanda masuk ke Nusantara, Jambi adalah pintu masuk para saudagar dari sejumlah negara, seperti Arab, Persia, India, hingga Cina.
Maka wajar, banyak terdapat destinasi wisata sejarah di Provinsi Jambi. Jejak perkembangan Jambi mulai dari masa Kerajaan Jambi kuno, kesultanan, atau setelah masuknya Islam di Sumatera hingga masa penjajahan Belanda masih bisa ditemui hingga saat ini.
Sarana beserta prasarana di Provinsi Jambi pada saat ini sudah terbilang sangat baik, ada bermacam cara untuk bisa mengakses berbagai tempat wisata di kawasan ini. Berikut adalah wisata sejarah yang cukup populer di provinsi yang berjuluk Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini:
- Candi Muarojambi
Situs Candi Muarojambi termasuk situs sejarah terluas dan paling bersejarah di Jambi. Letaknya berdekatan dengan aliran Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Dikenal sebagai situs kota kuno di Sumatera, lokasinya mudah dijangkau, karena hanya butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan darat dari pusat Kota Jambi.
Candi yang disebut-sebut sebagai peninggalan masa Hindu-Budha ini merupakan yang terluas di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 12 kilometer persegi atau delapan kali luas Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi candi, pengunjung bisa menikmati indahnya gugusan rumah-rumah panggung tradisional warga khas Melayu Jambi. Saat musim buah tiba, pengunjung juga bisa menikmati manisnya buah khas Jambi, seperti durian dan duku, langsung dari pohonnya.
2. Masjid Seribu Tiang
Masjid seribu tiang begitulah julukannya. Masjid ini memiliki nama resmi Masjid Agung Al-Falah. Sama seperti situs Candi Muarojambi, masjid ini terletak di pinggir Sungai Batanghari. Bedanya, Masjid Seribu Tiang ini berdiri di jantung Kota Jambi.
Sebagai tempat ibadah terbesar di Jambi, jejak perkembangan Islam di Jambi tak lepas dari keberadaan masjid ini. Masjid yang berdiri di atas lahan 2,7 hektare ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1980.
Masjid ini mampu menampung 10 ribu jamaah. Di sekeliling masjid terdapat lokasi bersejarah lain, seperti Pasar Tradisional Angsoduo, menara air peninggalan Belanda, serta Museum Perjuangan Jambi.
Masjid Agung berada di atas tanah yang dulunya adalah pusat kerajaan Melayu Jambi, seluas lebih dari 26.890 M2 / 2,7 ha, sementara luas bangunannya sekitar 6.400 M2 berukuran 80m x 80m.
3. Gentala Arasy
Walaupun masih terbilang bangunan baru, Gentala Arasy yang memiliki kepanjangan Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayuti. Abdurrahman Sayuti adalah mantan gubernur Jambi yang menjabat periode 1990 – 2000 sudah menjadi ikon khas Kota Jambi.
Gentala Arasy dibangun di atas Sungai Batanghari dan menjadi sarana wisata penduduk maupun pengunjung Kota Jambi. Menara Gentala Arasy juga menjadi penghubung jembatan pedestrian yang dibangun pada tahun 2012 dan diresmikan oleh Jusuf Kalla.
Gentala Arasy sendiri merupakan sebuah menara ikonik yang menggambarkan tentang sejarah penyebaran agama Islam di Kota Jambi. Bukan cuma menara seperti umumnya, menara ini juga digunakan sebagai museum islami yang menyimpan berbagai bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi.
Keberadaan menara ini juga merupakan penanda Kota Jambi sebagai pusat pendidikan ajaran Islam. Terdapat beberapa madrasah ternama cukup legendaris di antaranya Al-Jauharein di Kelurahan Tanjung Johor, Sa’adatuddarein di Kelurahan Tahtul Yaman, Nurul Iman di Kelurahan Ulu Gedong dan pesantren As’ad di Kelurahan Olak Kemang serta beberapa lembaga islami lainnya.
4. Rumah Batu Olak
Rumah Batu Olak Kemak merupakan salah satu cagar budaya yang sebenarnya memiliki nilai yang cukup tinggi di Jambi. Hal ini dikarenakan rumah ini sendiri merupakan tempat tinggal salah satu tokoh penyebar Islam di Jambi.
Ia adalah Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri atau yang biasa disebut juga Pangeran Wiro Kusumo. Ia salah satu penyebar agama Islam yang berada di kawasan Jambi. Selain itu keberadaannya sangat erat kaitannya dengan kesultanan Jambi. Hal ini dikarenakan Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri ini merupakan mertua dari Sultan Jambi pada saat itu, yaitu Sultan Thaha Syaifuddin. Keunikan dari rumah yang berada di Olak Kemang, Danau Teluk, Olak Kemang, Jambi, Kota Jambi, Jambi, ini adalah bentuk dari bangunannya.
Rumah Batu Olak merupakan rumah pertama yang menggunakan batu di kawasan tersebut. Dengan nilai budaya dan sejarahnya yang cukup tinggi maka tak mengherankan jika kawasan ini menjadi sebuah Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Namun, hal yang cukup disayangkan adalah kondisi dari rumah ini kurang terawat. Kita hanya bisa menemukan puing-puing dan semak-semak yang cukup mengganggu pemandangan.
























