Yangon, Gontornews — Pertempuran yang terjadi antara pasukan Arakan (Arakan Army) dengan militer Myanmar (Tamtadaw) di Rakhine berbuntut panjang. Kini, sekitar 83 keluarga di Rakhine terpaksa mengungsi ke Bangladesh untuk mencari zona aman dan keselamatan.
38 anggota keluarga di Rakhine terpaksa melarikan diri ke Bangaldsh karena khawatir terkena serangan yang dilancarkan helikopter militer Rakhine. Komandan Penjaga Perbatasan Bangladesh, Kolonel Zahirul Haque Khan, membenarkan informasi tersebut dan mengatakan bahwa 136 pengungsi telah diamankan pihaknya di tempat penampungan sementara.
Sejak pemimpin de facto Myanmar mengeluarkan mandat kepada militer untuk menghabisi pasukan Arakan setelah 13 pasukan penjaga perbatasan di Rakhine diberondong peluruh hingga tewas saat peringatan kemerdekaan Myanmar beberapa waktu yang lalu.
Setidaknya sekitar 5000 orang warga Rakhine terpaksa mengungsi dan menderita karena pasokan bantuan kemanusiaan dari internasional dibatasi. Pemerintah Myanmar berdalih jika pembatasan bantuan kemanusiaan ke wilayah Rakhine dilakukan atas alasan keamanan.
Anggota komisi Hak Asasi Manusia Bangaldesh, Win Thein, mengatakan bahwa pihaknya telah berkunjung ke kamp pengungsian tempat berkumpulnya etnis Khumi, Cho dan Rakhine di sebuah kamp pengungsian terpencil di Bangladesh.
Mereka terpaksa mengungsi ke Bangaldesh setelah dua desa di kota kecil Paletwa, Chin Bangladesh, setelah mendengar suara tembakan dari helikopter militer yang ada di sekitar wilayah tersebut. Para penduduk setempat juga menyaksikan bahwa tentara Myanmar menjarah dan membakar rumah warga.
Win Thein juga mengatakan bahwa anak-anak pengungsi dilanda sakit parah dan tidak memiliki peralatan medis yang memadai. “Tidak ada selimut sama sekali sementara udara di Rakhine sangat dingin,” kata Win Thein sebagaimana dilansir Reuters.
Sementara itu, Badan Pengungsian PBB (United Nations High Comission of Refugee/UNHCR) di Cox’s Bazar akan melalukan investigasi untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang kedatangan pengungsi dari Rakhine ke Bangladeesh.
“Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah agar kami dapat membantu mereka sesegera mungkin,” pungkas juru bicara UNHCR di Bangladesh, Firas Al-Khateeb. Mohamad Deny Irawan]























