Wisconsin-Amerika
Serikat, Gontornews —
Sebuah penelitian menjelaskan bahwa ada kemungkinan medan magnet sebelah utara
bergeser. Akibatnya, arah mata angin yang tadinya berada di Utara bisa bergeser
menjadi Selatan. Jika dianalogikan dengan salah satu tanda kiamat bahwa matahari akan terbit dari Barat, maka mungkinkah
pelemahan medan magnet ini menjadi tanda-tanda kiamat?
Penelitian yang dilakukan oleh pakar geologi asal University of Winconsin-Madison, Brad Singer, menjelaskan bahwa medan magnet utama secara berkala berbalik arah sehingga menyebabkan jarum kompas, secara berkala, akan menunjuk ke Selatan dari pada ke Utara.
Pembalikan ini terjadi selama ratusan kali dalam interval waktu yang tidak teratur sepanjang sejarah bumi. Namun, para peneliti masih terus melakukan upaya untuk memahami bagaimana dan mengapa proses tersebut bisa terjadi.
Brad Singer sendiri melakukan penelitian terhadap batu vulkanik kuno yang diduga ‘memainkan peran penting’ dalam perubahan titik medan magnet tersebut. Bersama ahli paleomagnetik, Kenneth Hoffman, Singer mulai mengalisa aliran lahar kuno dari Tahiti dan Jerman Barat untuk mempelajari pola pergeseran medan magnet di masa lalu.
Dalam penelitiannya, kedua penelitia menjelaskan bahwa magnet mineral memiliki kandungan zat besi yang tinggi dalam lava cair yang kemudian terkunci ketika lava mendingin dan mengeras.
“Ketika aliran lava meletus dan mendingin di medan magnet bumi, mereka memperoleh memori medan magnet yang terjadi pada waktu itu,” ungkap Singer sebagaimana dilansir Science Daily.
“Sangat sulit untuk menghancurkan (aliran lava yang mengeras) ketika aliran lava terbentuk. Anda kemudian memiliki rekaman seperti apa itu arap paleofield itu di bumi,” tambah Singer.
Sementara itu, rekan Singer, Hoffman juga berhasil membuktikan bahwa pelamaham meda utara-selatan utama telah melemah. Hoffman bahkan menyebut pelemahan medan magnet tersebut telah terjadi selama beberapa juta tahun terakhir.
Selama periode waktu itu, pelehaman bidang utama mengungkapkan bahwa kutub virtual terjadi di daerah magnet di beberapa bidang inti dangkal.
“Jika anda berada di Tahiti ketika letusan itu terjadi, jarum kompas anda tidak merujuk ke Kutub Utara dan bukan Kutub Selatan, tetapi Australia,” kata Hoffman.
“Memetakan bidang ini selama masa transisi mungkin memegang peran kunci untuk memahami apa yang terjadi di inti bumi ketika medan magnet melemah ke titik di mana ia benar-benar dapat terbalik,” tambah Hoffman.
“Saat ini, catatan sejarah menunjukkan bahwa kekuatan medan magnet menurut dengan sangat cepat. Dari prediksi yang cepat, dalam 1.500 tahun medan akan melemah dan kita bisa berada ke wilayah pembalikan,” tambah Singer.
“Satu tujuan luas penletian kami adalah untuk memberikan beberapa kemampuan prediksi untuk apa yang bisa terjadi dan apa yang bisa menjadi tanda-tanda pembalikan berikutnya,” pungkas Singer. [Mohamad Deny Irawan]
























