Nangarhar, Gontornews — Sebanyak 69 korban tewas dalam serangan masjid di Provinsi Nangarhar pada Jumat (18/10) kemarin dikuburkan. Penguburan dilakukan sehari pasca ledakan terjadi.
Seorang Anggota Dewan Provinsi Nangarhar, Sohrab Qaderi, mengatakan saat ledakan terjadi, masjid dengan kapasitas lebih dari 150 jemaah dalam kondisi penuh.
“Jenazah 69 orang, termasuk anak-anak dan orang tua, telah diserahkan kepada kerabat mereka,” kata Qaderi.
Ia juga menjelaskan kemungkinan masih banyak korban tewas yang belum bisa ditemukan di bawah reruntuhan bangunan masjid.
Sementara itu, Sabtu (19/10) Polisi dan amasyarakat setempat terus berupaya mencari mayat di puing-puing masjid.
Juru Bicara Gubernur Provinsi Nangarhar, Attahullah Khogyani, mengatakan ledakan, selain menewaskan puluhan orang, juga melukai 36 orang ketika ratusan orang berkumpul di masjid yang berada di daerah Jawdara, distrik Haska Mena.
Sampai saat ini, tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut. Tetapi Pemerintah Afghanistan menuduh kelompok Taliban.
“Taliban bertanggung jawab atas serangan itu,” kata Ashraf Ghani, Juru Bicara Presiden Afghanistan.
Namun tuduhan tersebut dibantah langsung oleh kelompok yang diruntuhkan pada 2011 silam itu, melalui sebuah tweet.
“Saksi serangan mengatakan itu adalah serangan mortir oleh pasukan pemerintah,” ungkap Suhail Shaheen, Juru Bicara Taliban.
Sementara itu, Salah satu korban terluka, Gulabistan (45) mengatakan masjid dalam kondisi penuh ketika ledakan terjadi.
“Saat sudah mulai salat dan Imam membaca ayat-ayat Al-Quran, ledakan besar itupun terjadi. Saya merasa di sekitar saya gelap, satu-satunya yang saya ingat adalah suara wanita dan kemudian saya menemukan diri saya di rumah sakit,” kata Gulabistan.
Dia juga mengatakan telah diberitahu bahwa putranya termasuk di antara yang tewas, sementara saudara lelakinya dan dua keponakannya terluka dan berada di rumah sakit.[Devi Lusianawati]






















