Depok, Gontornews — FORSA (Forever Santriwati) kembali sukses menghadirkan Webinar Akbar Seri Kedua; Selamanya Menjadi Santri pada Sabtu malam (9/10) lalu. Acara yang dimulai sekitar pukul 19.15 WIB tersebut, ternyata cukup menarik antusias peserta dikarenakan kehadiran sepasang bintang aktifis sosial independen yakni Ustadz Achmad Nuril Mahyudin SPdI MPd dan Ustadzah Azhimatul Noor Bashari Diyanti SThI MA selaku narasumber.
Tema utama yang diangkat kali ini ialah “Bedah Buku, Humanity Journey; Membangun Umat dari Pelosok Negeri”, karya Achmad Nuril Mahyudin, terbitan Alfanoor Media. Berdiri sebagai moderator, Ustadzah Dewi Rengganis dan bertanggungjawab sebagai ketua panitia yakni Ustadzah Elizabeth Diana Dewi BHsc MIr.
Webinar Akbar Seri Kedua yang bertabur Give Away ini, selain menarik antusias para peserta, ternyata juga turut menghadirkan rasa haru dan bangga dari para hadirin dikarenakan kisah nyata perjuangan kedua narasumber yang sangat ikhlas dan kuat berjuang di pedalaman. Hingga pertanyaan demi pertanyaan terus berlanjut meski acara sudah resmi ditutup oleh sang moderator.
Dalam pemaparannya, Ustadz Nuril peraih Love & Care Award serta Anugerah Gelar Pahlawan untuk Indonesia 2014 itu sekilas menjelaskan bahwa ini sebenarnya adalah dakwah bil hal. Dirinya mendirikan sumur bukan hanya sekedar membangunnya saja, tapi juga dengan maksud melahirkan tokoh di pedalaman. karena menurutnya hidup hanya sementara, maka perlu banyak bekal akhirat yang dipersiapkan.
Ustadz Nuril pun menekankan, “Kejarlah Allah SWT. Sebab kalau kita mendapatkan Allah SWT, hakikatnya maka kita akan beruntung. “Banyak orang yang mau pergi jauh ke luar negeri, lanjut alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putra tahun 1989 itu, tapi kapan dia mau pergi jauh ke dalam (pelosok) negeri.
Sekarang sudah waktunya kita untuk ‘membumi’. “Jika kita kehilangan kepedulian maka hakekatnya kita telah kehilangan hati,” terang social activist, painting artist, sociopreneur, logo designer, dan soul writer ini.
Berkat ridha dan doa sang ibu, Ustadz Nuril yang awalnya hanya berpikir membangun sumur guna menyelamatkan thoharah kaum Muslimin pedalaman, akhirnya berhasil memberi banyak sekali fasilitas umum dan program pemberdayaan masyarakat di pelosok hutan. Diantaranya seperti membangun MCK (Mandi Cuci Kakus), madrasah, perlengkapan shalat, al-Qur’an, hingga program pencetakan tokoh Islami di dusun-dusun tersebut.
Ustadzah Noora, sang istri yang juga merupakan social activist, motivator, sociopreneur, art dealer, educational consultant, serta communication specialist itu turut menambahkan bahwa dalam pembuatan buku ini, karena merupakan suara hati, maka ia sangat berhati-hati dalam editingnya. “Terlebih isi buku ini adalah tentang rasa serta pengalaman nyata yang Ustadz Nuril hadapi di pelosok negeri,” tutup alumnus Gontor Putri tahun 2000 itu kepada Gontornews.com.
Dan kini ia beserta istri masih terus berjuang, membantu menyelamatkan thaharah juga aqidah islamiyah anak bangsa yang banyak tidak tersorot oleh pemerintah, lembaga sosial, maupun media masa. <Edithya Miranti>























