pesanan-baju-kaos
32 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 8 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Di Bawah Pohon Nangka Itu

Oleh Ustadz Nasrullah Zainul Muttaqin

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
9 years ago
in Kolom
0
Di Bawah Pohon Nangka Itu

Dulu, di depan rumah agak ke sebelah timur, ada pohon nangka. Di masa kecil saya, pohon itu hampir tak pernah berhenti berbuah. Ketika yang besar sudah mulai masak, sudah ada tewel (nangka muda) yang agak kecil, dan babal (buah yang baru tumbuh).

Tepat di bawahnya, ada sebuah bangku kayu panjang. Pohon yang sekarang sudah berganti dengan pohon mertega itu amat bersejarah. Di bangku di bawahnya itulah sejuta kenangan tertoreh, meski bukan dengan tinta emas.

Saat usia Sekolah Dasar, sambil menanti teman-teman dan kemenakan datang untuk bermain sepak bola di depan Pendopo, kami duduk santai di bawah pohon nangka itu, sambil berbincang khas anak-anak. Jika bosan, kami lantas masuk garasi truk di belakangnya, bermain di atas bak truk, satu-satunya mobil yang dimiliki pondok saat itu.





Santri zaman dulu pasti tahu, ingat, dan bisa membayangkan, bagaimana Pak Zar duduk santai di bawah pohon nangka itu, memakai sarung atau celana dan kemeja polos. Kemudian, kedua tangannya direntangkan bertumpu pada sandaran bangku kayu itu; kaki kanannya disilangkan, bertumpu pada lutut kirinya. Sebuah radio kecil, kadang, menemani di sampingnya. Ketika itu, beliau akan memanggil siapa saja yang kebetulan lewat di depan rumah.

BACA JUGA

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Al-Qur’an Menyeru Keseimbangan Hidup

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Ada yang dipanggil hanya ditanya namanya, dari mana, dsb. Atau, ada guru yang dipanggil untuk diminta tolong mencarikan guru lain; ada juga santri yang dipanggil untuk dinasehati agar membuang jimat ―yang dibawa dari rumah, dan saat itu, masih melekat di tubuhnya― dengan cara menyuruh anak itu memakan buah pisang Ambon. Entah bagaimana Pak Zar tahu hal itu. Anak santri itu sendiri pun kaget; rahasianya diketahui Pak Zar.

Tak jarang, guru-guru staf Bagian Administrasi (Keuangan) Pondok, Staf Kulliyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyah (KMI), atau siapa saja dipanggil, dan diminta melaporkan kondisi di tempat tugas masing-masing. Pak Zar duduk di bangku, sementara para guru itu melaporkan dan menjawab pertanyaan Pak Zar sambil berdiri setengah menunduk ta’zhiem. Kadang diselingi tawa kecil Pak Zar yang memperlihatkan gigi palsu peraknya; kadang juga terlontar pertanyaan-pertanyaan serius yang jawabannya bisa mengerutkan kening Pak Zar.



Pernah pula, setelah menerima dan membaca laporan dari guru itu, dengan nada tinggi, Pak Zar membentaknya, menyuruh guru itu memperbaiki laporannya. Dengan ketakutan, guru itu pun segera lari, kembali ke kamarnya. Jika demikian keadaannya, konon, menurut cerita, guru tersebut tidak akan doyan makan, bahkan tidak bisa tidur sebelum laporan diselesaikan, dan dianggap benar oleh Pak Zar.

Di waktu lain, beliau memanggil kami, anak-anak beliau. Sambil duduk bersama, kami ditanya tentang sekolah kami, atau dimarahi karena kesalahan kami, atau dipanggil untuk disuruh melihat apa yang terjadi di belahan pondok yang lain, pembangunan gedung, misalnya, sudah sampai mana tembok dan tegelnya; siapa dan berapa orang yang bekerja; adakah Pak Mahmud atau guru lain yang mengawasi, dsb.

Sering juga kami dipanggil untuk mengantarkan lembaran koran, yang telah dibaca Bapak, kepada Pak Sahal. Lantas, usai melaksanakan tugas, kami harus kembali ke bawah pohon nangka untuk melaporkan tugas kepada Bapak.

Jika tidak sedang duduk di teras, Bapak juga acap berbincang dengan Pak Sahal di bangku itu, membahas pondok, guru-guru, atau juga masjid yang saat itu tengah dalam pembangunan dan dapat dilihat dengan jelas perkembangannya dari bawah pohon nangka itu. Tapi, Pak Sahal tidak selalu duduk di bangku panjang, melainkan di atas kursi yang biasa beliau bawa, dengan diseret, ke mana-mana. Bekasnya akan dapat dengan mudah ditelusuri, menunjukkan di mana Pak Sahal berada. Dengan duduk di bawah pohon nangka itu, ketika Pak Sahal merokok, angin segera “mengusir” asapnya, sehingga Pak Zar yang memiliki riwayat penyakit athma tidak terganggu. Perbincangan kedua Pendiri Pondok itu sangat akrab (Jw: “ngganyik”); bisa serius, datar, bahkan santai penuh tawa.

Pernah suatu kali, beberapa tahun sepeninggal Pak Sahal, dan menjelang wafatnya, Pak Zar memanggil putra sulungnya Abdullah Syukri, dan Hasan Abdullah Sahal, ponakannya. Setelah keduanya duduk  tawaddu’ bersama Pak Zar di bangku kayu itu, sebuah kalimat pendek untuk keduanya dilontarkan Pak Zar dengan tekanan yang amat berat, “Kowe Syukri anakku. Kowe Hasan anake Pak Sahal. Pegang teguh filsafat hidup pondok ini! Jika tidak, kamu berdua akan terpental! Wis ngaliha!

(‘Kamu Syukri anakku. Kamu Hasan, anak Pak Sahal. Pegang teguh filsafat hidup pondok ini! Jika tidak, kamu berdua akan terpental! Sudah, pergi sana!’). Begitu kisah KH Abdullah Syukri acapkali di beberapa pertemuan dengan guru-guru dan santri.

Demi mendengar kalimat Pak Zar itu, sekujur tubuh keduanya panas-dingin, dan bergetar hebat. Mungkin, pada diri kedua anak dan kemenakan itu ada perasaan yang sama, sebuah amanat telah diestafetkan. Tapi, tidak dengan jelas dipindahtangankan, melainkan harus teruji.

Itulah sekelumit kisah pohon nangka depan rumah yang amat bersejarah. Orang yang tahu, pasti mengenangnya, apalagi mereka yang pernah merasakan “resonansi” pohon itu karena pernah dipanggil Pak Zar dan diajak berbincang. Semoga bermanfaat! []

(Buyut Makkah, Gontor, Akhir Januari 2018)

 

Tags: KH Imam ZarkasyiPak ZarPondok Modern Gontor
Share91Tweet57Send
Previous Post

Yaman: Demonstrasi Setelah Serangan Drone AS Tewaskan 7 Orang

Next Post

Ekspedisi Jurnalistik Forjim ke Beberapa Daerah

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

2 November 2026
Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

2 November 2026

Komjen (Purn) Dr Nurfaizi Suwandi: Mutiara Indonesia di Negeri Piramida

13 February 2018
Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

1 November 2026
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

0
Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

0
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

0
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

0
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

0
Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

8 November 2026
Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

8 November 2026
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

7 November 2026
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

7 November 2026
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

6 November 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result