Luanda, Gontornews — Kementerian Kesehatan Angola mengonfirmasi 41 kasus zika dan 56 kasus mikrosefali yang terjadi di wilayahnya sejak Januari 2017 lalu. Angka ini berbeda dengan angka yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, yang menyebut bahwa setidaknya 72 bayi lahir dengan mirkosefali sepanjang Februari 2017-Mei 2018. WHO menduga warga Angola terjangkit virus zika penyebab mikrosefali pada anak baru lahir.
Sebagaimana diketahui, virus zika mewabah di Brazil sejak tahun 2015. Sepanjang tahun itu, zika telah menyebabkan 3.762 bayi terlahir cacat dan mengalami mikrosefali di Brazil.
Pemerintah mengelak bahwa virus zika sudah mewabah di Angola dan meyakini jika penyebab mikrosefali pada anak bukan akibat zika. “Mungkin tidak semua kasus mikrosefali dapat dikaitkan dengan zika,” kata Kementerian Kesehatan Angola sebagaimana dilansir Reuters.
WHO menduga perbedaan angka pasien zika yang dirilisnya dengan angka yang dirilis oleh Pemerintah Angola akibat kurangnya data dan tes diagnostik yang dilakukan secara bersama melalui sistem kesehatan Angola. Meski demikian, tim peneliti dari Angola mengungkapkan kasus zika di Angola adalah kasus pertama yang terjadi di Afrika.
Celakanya, dunia internasional telah mengalihkan pendanaan dari wabah zika ke penyakit lain seperti wabah kolera maupun ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo. Namun, WHO bertekad tidak akan mengabaikan potensi wabah zika pertama di Afrika tersebut.
“Kami tidak dapat membiarkan perhatian kami tertuju pada kasus ini,” kata pemimpin Satgas zika WHO, Eve Lackritz.
“Kami harus tetap waspada dan memiliki tanggapan yang berkelanjutan,” tambah Lackritz.
Saat ini, Pemerintah Angola bersama WHO tengah melakukan pengujian terhadap potensi wabah zika di Angola untuk meningkatkan kecepatan dan keakuratan diagnosa. [Mohamad Deny Irawan]
























