Depok, Gontornews — Orangtua itu harus berjiwa satpam, menghargai hitungan detik, dan jangan lengah dalam mengawasi anak. Sebab kejahatan hanya akan terjadi jika ada kesempatan.
Maraknya kasus penculikan anak belakangan ini memang cukup meresahkan masyarakat. Tentu biasanya korban yang diincar adalah anak-anak dibawah umur yang masih mudah untuk dibohongi, dibawa lari, dan tidak bisa banyak membela diri.
Di bilangan Kukusan, Beji, Depok, beberapa waktu silam juga sempat digegerkan dengan sejumlah kejadian janggal.
“Pintu rumah saya didatangi sejumlah lelaki tak dikenal. Ada yang membawa karung dan ada yang sok akrab ke saya,” ujar Betty kepada Gontornews.com. Untungnya, lanjut ibu dua orang anak itu, saya tidak membuka pintu dan langsung mengusir mereka secara halus.
Kejadian serupa juga sempat diketahui seorang ojek online, saksi mata, yang melihat gelagat sejumlah pemuda yang mencurigakan tersebut.
“Namun, saat mereka hendak beroperasi, si ojek online itu langsung menegur dan mengusir mereka,” ujar Wulan kepada Gontornews.com.
Kita memang tidak boleh hanya menunggu hingga kejahatan terjadi, lantas baru bingung dan mencari solusi. Setiap ada hal mencurigakan hendaknya segera melaporkan ke pihak berwajib atau ketua Rt (rukun tetangga) setempat.
Jangan biarkan anak-anak lengah dari pengawasan, baik saat bermain atau beraktifitas lainnya. Maka, penting bagi orangtua untuk melakukan beberapa edukasi terkait pencegahan atas kasus ini.
Berikut trik cegah penculikan anak:
Pertama, ajari anak kewaspadaan terhadap orang asing atau orang yang tidak dikenal. Tidak boleh menerima hadiah atau ajakan apa pun dari orang tersebut. Karena bisa ada niat jahat dibaliknya.
Kedua, jika ada tamu ke rumah, ajari anak untuk tidak langsung membukakan pintu. Sebelum mendapat izin atau bertanya dulu ke orang rumah.
Ketiga, biasakan anak untuk selalu izin saat akan pergi bermain di luar. Pastikan anak dalam pengawasan atau tidak bermain sendirian.
Keempat, jika bepergian ajari anak untuk tidak memisahkan diri dari orangtua atau pengasuh dan beritahukan lokasi petugas bagian informasi atau satpam, nama, dan nomor telpon orangtua, serta cara mudah menemukan kembali orangtua bila ia tersesat.
Kelima, bekali anak ilmu bela diri. Beri simulasi penculikan agar anak bisa menjaga diri saat ada penculik. Misalnya dengan berteriak minta tolong, segera lari ke satpam, atau berusaha menarik perhatian orang sekitarnya.
Keenam, larang anak untuk tidak sembarangan memberikan informasi detail keluarganya. Misalkan, waktu kerja orangtua, alamat rumah, nomor handphone, dan lainnya.
Ketujuh, jangan asal mempekerjakan orang asing di rumah. Gali informasi mendalam soal identitas orang itu dahulu, beri kamera pengawas, dan jangan biarkan ia sendiri menjaga anak tanpa ada pengawan orang dewasa lainnya di rumah. <Edithya Miranti>
























