Jakarta, Gontornews — Adalah agama dan pendidikan merupakan lembaga tertua dalam sejarah manusia. Untuk itu dalam upayanya mendekatkan anak-anak bangsa dengan pendidikan agama untuk keberlangsungan hidup mereka, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus mengembangkan program pendidikan ke wilayah terpencil Indonesia.
Salah satu program pendidikan yang dikembangkan Laznas BMH itu antara lain ada di Pemukiman Nelayan Kamal Muara, Jakarta utara. Ya. Bertepatan dengan malam ke-17 Ramadhan 1439 H, didukung oleh dai tangguh dan Gerakan Dakwah Komunitas Taqarub (Gardakota), Laznas BMH meluncurkan Program Rumah Tahfidz Apung di RW 004 Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Beratnya beban hidup, membuat anak- anak di kawasan pinggir Jakarta ini rawan putus sekolah, sehingga berdirinya Rumah Tahfidz Terapung menjadi sarana penting untuk membekali mereka dengan Alqur’an. Adapun konsep yang didesain adalah agar anak-anak di kampung nelayan ini bisa berinteraksi sedekat mungkin dengan Alqur’an dan pendidikan agama tanpa meninggalkan kampung halaman, yang kelak akan menjadi sumber ekonomi kehidupan mereka.
Adalah mencerdaskan umat, tujuan mulia dakwah yang satu ini akan sulit terwujud, jika tidak ada da’i yang ikhlas berjuang. Dengan lika-likunya di medan dakwah, tentu ada kisah-kisah yang bisa diperoleh dari para da’i untuk kemudian ditiru. Kepada Gontornews Dai Tangguh BMH yang ditugaskan di Kamal Muara, Ustadz Sulaiman menceritakan meski sempat dicurigai macam-macam, kini kiprahnya disambut baik oleh warga setempat
“Kita waktu baru datang tidak semuanya langsung menerima, ada juga yang khawatir. Karena mungkin takut kalau ada aliran lain masuk di kampung mereka. Alhamdulillah sekarang antusiasme masyarakat dan anak-anak sangat baik,” ungkapnya. Ya. Di tempat itu dan untuk anak-anak mereka lah setiap harinya ia membagi waktu untuk mengajarkan mereka Alquran.
Meski sarana serba terbatas, hal itu tak membuat semangatnya surut untuk berkiprah. Dengan beralaskan tikar dan bermodalkan numpang di serambi rumah apung milik seorang warga, rutinitas belajar Alqur’an itu dilakukan. “Ada yang siang, ada yang sore dan malam. Kelas sore dan malam fokus tahfidz Qur’an dan pelajaran diniyah, siang hingga sore untuk Iqra,” imbuhnya.
Ia berharap hadirnya Rumah Tahfidz ini menjadi solusi bagi masyarakat kawasan pesisir Utara Jakarta untuk melahirkan generasi cerdas, unggul, berkarakter qur’an dan berakhlakul karimah. Lanjut ia menuturkan, jumlah santri di rumah tahfidz apung saat ini terus meningkat.
“Alhamdulillah, sudah berjalan sejak tahun 2017 kita fokus membina anak-anak mengaji, memberikan pelajaran agama. Dulu tidak sampai seratus. Sekarang Alhamdulillah sudah sampai 160 orang yang ngaji,”bebernya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]






















