Pelayanan publik yang berkualitas merupakan hak warga negara sekaligus kewajiban konstitusional negara. Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menjadi salah satu poin penting perlindungan dan jaminan hak warga negara dan penduduk Indonesia dalam mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas.
Namun sayangnya, pelayanan publik sampai sejauh ini masih menjadi sorotan negatif masyarakat. Karena prosesnya yang dianggap lambat dan berbelit-belit.
Salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam melakukan terobosan di bidang pelayanan publik adalah pentingnya inovasi. Inovasi di sektor publik saat ini merupakan kebutuhan mendesak dan faktor penting pada era modern.
“Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku inovatif yaitu dilihat dari faktor budaya organisasi, kepribadian ekstrovert, dan motivasi berprestasi,” terang Dr Abid, dalam disertasi yang berjudul, Pengaruh Budaya Organisasi, Kepribadian Ekstrovert, dan Motivasi Berprestasi Terhadap Perilaku Inovatif Pegawai Unit Pelayanan Pendidikan Pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi.
Dengan merujuk pada analisis dan pembahasan yang telah dipaparkan dalam disertasi Dr Abid, maka kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, budaya organisasi memiliki pengaruh langsung positif terhadap perilaku inovatif pegawai UPP Dinas Pendidikan Kota Bekasi.
“Kedua, kepribadian ekstrovert memiliki pengaruh langsung positif terhadap perilaku inovatif pegawai UPP Dinas Pendidikan Kota Bekasi,” ungkap Pembina Yayasan Attaqwa Bekasi itu.
Ketiga, motivasi berprestasi memiliki pengaruh langsung positif terhadap perilaku inovatif pegawai UPP Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Motivasi berprestasi merupakan variabel yang paling besar atau dominan pengaruhnya terhadap perilaku inovatif.
Keempat, budaya organisasi memiliki pengaruh langsung positif terhadap motivasi berprestasi pegawai UPP Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Kelima, kepribadian ekstrovert memiliki pengaruh langsung positif terhadap motivasi berprestasi pegawai UPP Dinas Pendidikan Kota Bekasi.
Keenam, budaya organisasi memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku inovatif melalui motivasi berprestasi.
Ketujuh, kepribadian ekstrovert memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku inovatif melalui motivasi berprestasi.
“Dengan memperhatikan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka terkumpulah dua poin besar implikasi hasil penelitian ini,” tambah wakil ketua Pengurus Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie-Islamic Centre Bekasi. Pertama, sambungnya, implikasi manajerial dan kedua implikasi teoretik.
Pertama, implikasi manajerial yang mencakup hal-hal berikut: Satu, budaya organisasi ditempatkan sebagai faktor strategis dalam usaha untuk mengembangkan inovasi di kalangan pegawai. Pengembangan budaya organisasi mengacu pada dimensi misi, konsistensi, adaptabilitas, dan keterlibatan.
Setiap organisasi harus mengembangkan nilai-nilai organisasi yang visioner yang dituangkan dalam misi organisasi, mengajarkan prinsip konsistensi, kemampuan dalam beradaptasi, dan memperkuat keterlibatan anggota organisasi.
Dua, manajemen organisasi harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif dalam mengenali kepribadian pegawai dan mengetahui cara memperlakukan para pegawai secara tepat. “Tujuannya agar dapat mendorong perilaku inovatif pegawai,” tegas putra dari H Marzuki Anwar (almarhum) dan Hj Maryamah Abdurrohim (almarhumah).
Tiga, manajemen organisasi dapat meningkatkan perhatiannya terhadap kondisi motivasi berprestasi pegawai dan menjadikannya sebagai strategi utama untuk meningkatkan perilaku inovatif mereka.
Empat, budaya organisasi harus berperan penting dalam usaha untuk meningkatkan motivasi berprestasi pegawai.
Lima, kepribadian ekstrovert terbukti memiliki pengaruh langsung positif terhadap motivasi berprestasi pegawai.
Enam, setiap organisasi harus mensinergikan antara budaya organisasi dan motivasi berprestasi untuk meningkatkan perilaku inovatif.
“Dan diupayakan agar senantiasa berada dalam kondisi yang optimal guna mendorong tumbuhnya perilaku inovatif pegawai,” ulas Dr Abid, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara ini.
Tujuh, organisasi harus mensinergikan antara budaya organisasi dan motivasi berprestasi agar senantiasa berada dalam kondisi yang optimal untuk meningkatkan perilaku inovatif.
Kedua, implikasi teoretik. Hasil penelitian ini dapat memperkuat teori-teori dan studi sebelumnya yang menunjukkan peran penting faktor budaya organisasi, kepribadian, dan motivasi berprestasi dalam mempengaruhi perilaku inovatif.
Hasil penelitian ini juga memperkuat dan memperkaya model perilaku organisasi yang dikembangkan Colquitt et al. Dimana penelitian ini mengambil salah satu aspek outcome individu berupa kinerja yang diproksikan dengan perilaku inovatif.
Penelitian ini dapat mendorong penelitian selanjutnya, dengan meneliti dimensi kinerja lainnya yang dijelaskan Harari dan Viswesvaran yaitu perilaku kontraproduktif dan adaptasi. “Sehingga dapat lebih memperkaya model perilaku organisasi integratif yang dikembangkan oleh Colquitt et al.,” pungkas alumnus Gontor Putra tahun 1980 itu. [Edithya Miranti]





















