Ngawi, Gontornews — Di tengah kegiatan kampus yang cukup padat, sejumlah mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Mantingan dari berbagai program studi mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik. Mereka belajar teknik reportase, wawancara, menulis berita dan menulis features dibimbing langsung oleh Rusdiono Mukri dan Dedi Junaedi, keduanya dari Tim Redaksi Majalah Gontor.
“Setelah acara ini, saya ingin lihat kelanjutannya sebagai pertanggungan jawabnya. Saya pingin anak-anak Mantingan ini dapat mempublikasikan aneka kegiatan. Tidak hanya di UNIDA, tapi juga segala kegiatan di kampus putri 1, 2, 3, dan 5,’’ kata Dr Nurhadi Ihsan, direktur UNIDA Gontor Kampus Putri Mantingan, Sambirejo, Ngawi, Jateng, Selasa (23/10).
Dalam sambutannya, Nurhadi menjelaskan bahwa 44 mahasiswi peserta pelatihan berasal dari berbagai program studi. Mereka umumnya belum punya pengalaman atau ikut pelatihan jurnalistik. ‘’Mengapa kegiatan ini penting. Terus-terang berawal dari keprihatinan kami. Ada sekian banyak kegiatan kok gak ada publikasinya, gak ada beritanya,’’ tambahnya.
Direktur UNIDA Mantingan mengungkapkan, di Kampus Gontor Putri 1 ada 4000 santri beserta gurunya; Gontor Putri 2 ada 1500 dengan guru; Gontor Putri 3 punya 3000 santri dengan guru, kemudian UNIDA ada mahasiswi beserta dosen, seluruhnya berjumlah 1100. ‘’Jumlah sebanyak ini kok adem ayem tidak ada beritanya? UKM Writing Club ada. Tapi, umumnya tentang karya sastra. Yang berkaitan dengan jurnalistik belum pernah ada. Maka, saya berharap pelatihan jurnalistik menjadi ajang mahasiswi kita belajar menjadi jurnalis yang baik dan berkualitas,’’ tegasnya.
Alumni Malaysia ini berkisah bahwa banyak anak Gontor yang bergerak di media. ‘’Termasuk teman angkatan saya yang sekarang Kepala Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Mauluddin Anwar. Selain itu, ada di Republika, Erdi Nasrul, Damanhudi Zuhri (alm), dan yang lebih senior lagi Ikhwanul Kiram. Mereka diterima karena alumni Gontor dikenal terampil dalam berkomunikasi dan penguasaan bahasa. Ini bermanfaat untuk kepentingan publikasi.”
Tentang berita, Rusdiono Mukri, wakil pemimpin Redaksi Majalah Gontor, menjelaskan bahwa berita merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang sedang terjadi, informasi yang sebelumnya tidak diketahui, informasi yang menarik minat masyarakat luas, juga fakta yang dilaporkan. Berita memiliki ukuran nilai kelayakan tersendiri, berbeda dengan tulisan-tulusan ilmiah seperti essay, opini, paper, dan lain sebagainya. Seorang wartawan harus memutuskan, meliput dan menulis berita berdasarkan pada beberapa nilai, di antaranya dalam hal ketepatan waktu, wartawan harus mampu menemukan serta menyelesaikan berita yang akan dipublikasikan dengan segera, aktualitas berita pun harus diperhatikan, apakah berita itu baru saja terjadi ataukah sudah basi. Jika terlambat, itu akan mengurangi nilai kelayakan sebuah berita.
Rusdiono menambahkan, hal-hal yang ganjil atau aneh itu layak untuk diberitakan, seperti halnya kasus persekusi ulama atau pembakaran kalimat tauhid oleh oknum ormas Islam. Kemudian, hal-hal yang dekat dengan lingkungan sekitar seperti faktor geografis dan psikologis pun perlu diperhatikan. Tokoh penting, terkait hal ini yang perlu diperhatikan adalah ketika memilih seorang narasumber. “Kita harus lihat terlebih dahulu, siapa dia? ada banyak perbedaan karakteristik pada tiap-tiap narasumber. Ada narasumber yang lancar bicaranya, ada pula yang terbata-bata, biasanya karena mencoba menyeimbangkan antara hal-hal yang perlu diketahui publik dan yang patut dirahasiakan oleh pihak tertentu,” jelas Rusdi.
“Ada lagi hal penting yang harus diperhatikan, yaitu fokus. Semua informasi yang diperoleh dari lapangan pada dasarnya bisa dituangkan dalam tulisan. Namun, keterbatasan ruangan di media menghendaki wartawan untuk memilah informasi yang akan ditulis,” lanjut Rusdi.
Tentang reportase, Dedi Junaedi, Redaktur Majalah Gontor, memaparkan bahwa wartawan harus mampu melakukan proses pengumpulan fakta dan pengecekan data secara cermat. Wartawan kadang-kadang menyaksikan suatu berita sendiri, tapi yang lebih umum adalah mereka mengetahui rinciannya dari pihak lain yang mengalami sesuatu secara langsung atau yang merupakan pakar dalam topik itu. Di samping itu, dalam hal penelitian pun wartawan cenderung mengumpulkan lebih banyak informasi dibanding jumlah yang bisa mereka masukkan kedalam berita, tapi informasi itu selalu membantu mereka memahami kejadian atau isu yang sedang mereka liput. Terkadang, informasi latar belakang sangat penting untuk memberi arti lebih dalam pada berita.
“Terkait observasi di lokasi merupakan salah satu dasar bagi liputan yang baik. Wartawan menyaksikan sendiri kejadian-kejasian atau peristiwa sehingga mereka bisa menggambarkannya dengan akurat. Wartawan yang baik, ialah mereka yang menggunakan semua indera di lokasi kejadian”, lanjut Dedi menjelaskan.
Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk menjadi seorang jurnalis. Seorang wartawan perlu memerhatikan tata cara yang tepat dalam hal pencarian topik berita, pemilihan narasumber yang sesuai, serta tatacara kepenulisan sebuah berita yang layak dibaca publik. Wartawan menggunakan sumber utama maupun kedua. Sumber utama bisa berupa wawancara dengan orang yang punya pengalaman langsung dengan suatu kejadian atau topik, atau dokumen asli yang terkait dengan topik itu. Tetapi sebagai saksi, wartawan itu sendiri bisa juga menjadi sumber utama.
Adapun sumber kedua mungkin berupa laporan tertulis berdasarkan pada dokumen asli tersebut. dalam kasus kebakaran, misalnya, orang yang rumahnya terbakar adalah sumber utama, begitu juga petugas pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya pemadaman. Sedangkan siaran pers yang dikeluarkan oleh dinas kebakaran keesokan harinya akan menjadi sumber kedua.
“Apa saja kesalahan yang sering terjadi di dalam dunia jurnalistik yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kami para mahasiswi yang mungkin juga berkeinginan menjadi seorang jurnalis?” tanya salah seorang mahasiswi UNIDA, Tasya Amelia. “Kesalahan wartawan yang biasa terjadi dalam dunia jurnalistik karena wartawan bekerja dengan ingatan, membuat asumsi sendiri, dan berhubungan dengan sumber tangan kedua. Agar akurasi terjaga, wartawan harus melakukan cek dan cek ulang atas semua informasi yang mereka kumpulkan. Supaya tidak menimbulkan masalah hukum (liabilitas), akurasi harus dijaga,” jawab Dedi.
Seorang mahasiswi Program Studi Farmasi, Tembayatul Muhibah bertanya: “Bagaimana menjadi seorang wartawan dengan background studinyal di UNIDA?”. Dedi menjawab: “Saat menjadi seorang wartawan, wartawan tersebut akan ditempatkan di berbagai bidang liputan secara bergilir. Dengan berjalannya waktu, kesesuaian dan kemahiran wartawan akan dilihat dalam penugasan bidang liputan.”
Alumni IPB dan UI ini menggarisbawahi pentingnya media Islam dan peran jurnalis Muslim dalam perjuangan menegakkan kebenaran, menyatakan keadilan dan aspirasi Umat Islam. Tidak saja di Indonesia. Melainkan juga dunia, dalam percaturan global. ‘’Terlebih dalam era dimana perang informasi dan perang kepentingan sarat terjadi. Jurnalis Muslim harus tampil dan berperan aktif agar umat dan masyarakat umum tidak termakan propaganda mis dan dis-informasi yang kian marak terjadi,’’ tegas alumni REPUBLIKA yang kini menjadi redaktur Majalah Gontor dan dosen Ekonomi Islam INAIS Bogor.
Pelatihan Jurnalistik di Gontor Putri UNIDA berlangsung tiga hari, 23-25 Oktober 2018. Ada 12 sesi, mulai pagi pukul 8 sampai 22 malam. Materi yang dibahas mula teknik reportase, teknik wawancara, praktik reportase, praktik wawancara, teknik menulis berita, teknik menulis features., serta praktik menulis berita dan menulis features. Sesi terakhir diisi dengan reviews dan evaluasi pelatihan jurnalistik oleh kedua mentor.
Melalui pelatihan jurnalistik, Nuzulia Farah, selaku Ketua Pelatihan Jurnalistik, berharap: ‘’para peserta bersungguh-sungguh mengikuti prosesi diklat tersebut sehingga kelak dapat berdiri UKM baru bernama ‘Jurnalistic Club’. Kami juga berharap apa yang diharapkan Ustadz Nurhadi Ihsan dalam sambutan bisa kita wujudkan In sha Allah.” [Farah Khoirunnisa, UNIDA Gontor]


























