Jakarta, Gontornews — Sangat langka, bagi alumni Gontor yang bisa masuk di Akademi Militer (AKMIL) bahkan bisa menjadi Komandan Kompi dalam Kontingen Garuda sebagai bagian dari pasukan keamanan PBB yang mengemban misi perdamaian di negara konflik, Libanon. Dialah Ustadz Mayor Infantri Fitra Rakhmaddy Syasna.
Fitra panggilan akrabnya, ia menamatkan di Gontor tahun 2004. Sejak di pondok, ia aktif di kegiatan pramuka. Beberapa piala di bidang kepramukaan di kegiatan jambore di Malang dan Madura pernah ia raih bersama kontingen. Nilai-nilai yang tertanam dalam aktivitas pramuka, menjadi modal dia menjadi tentara.

Fitra bercerita panjang lebar mengenai perjalanan karirnya di akademi militer. Orangtua Fitra adalah seorang satpam almarhum Syabaruddin Harfa (meninggal 5 Oktober 2020) yang juga memiliki perusahaan outsourching bernama PT. Garda 9 Security. Sang ibu adalah Asnaini, SPd, MM guru SMP di Jakarta Timur.
“Sebelum meninggal, ayah membangun masjid bernama Nur Muhajirin di Jakarta, hasil dari perusahaan jasa security bernama Garda 9 di Jakarta. Nama itu dipilih karena beliau hijrah dari Aceh ke Jakarta, harapannya bisa menjadi cahaya,” paparnya kepada Majalah Gontor lewat sambungan telepon, Ahad (03/01/2021).
Melihat postur Fitra saat ini, terlihat sosok yang gagah, tinggi besar sangat pas dengan karirnya sebagai pemimpin pasukan. Namun siapa sangka, ketika saat masuk Gontor, ia mengaku badannya kecil dan tidak terbayang akan tampak gagah seperti sekarang.
“Saya masuk fashl adi (kelas reguler, dari lulus SD). Kecil badan saya dulu,” kata Fitra bercerita seperti dilansir walsantornews.com.
Fitra yang lahir di Jakarta 3 Agustus 1985 keturunan Dataran Tinggi Gayo Aceh ini masuk Gontor dengan mewakili konsulat Jakarta pada tahun 1998. Saat masih di Gontor, jiwa kepemimpinannya benar-benar terlatih karena beberapa kali diamanatkan menjadi rais (pemimpin).
Berbagai amanah kepemimpinan pernah ia jalani selama di pondok. Misalnya menjadi rais Ankstak (Asisten Andalan Koordinator urusan Perpustakaan), rais Porpig basket Gontor, rais exotic basket ball club (BBS), rais firqoh (klub), rais Konsulat Jakarta dan beberapa amanah lainnya. Fitra meyakini bahwa pengalaman kepemimpinan ini sangat besar pengaruhnya terhadap karirnya di kemiliteran.
“Yang membuat saya bisa memimpin dengan baik amanat-amanat dari kesatuan karena didikan kepemimpinan di Gontor. Saya saat Letnan Dua pernah menjadi Komandan Pleton (Danki), kemudian komandan kompi, pernah memimpin pasukan saat diterjunkan untuk pengamanan di daerah wilayah Aceh dan penumpasan teroris di Aceh,” kisahnya. Kini, Fitra mendapatkan amanah memimpin satu kompi pasukan di Kontingen Garuda di Lebanon.
Fitra menjelaskan, lulusan Gontor sangat sedikit yang bisa masuk dunia militer. “Lulusan pesantren khususnya Gontor, jarang kita dengar masuk AKMIL di semua matra: laut, darat, udara. Sekalipun ada tapi tidak banyak,” ujarnya. Namun demikian itu bukan menunjukkan kualitas pesantren di bawah sekolah umum. Tapi memang untuk AKMIL mengutamakan calon siswa dari SMA yang jurusan IPA.
“Nah, di saat lulusan Gontor lolos seleksi awal, maka santri Gontor sangat bisa bersaing. Yang penting fisik dan ideologi nasionalisme terutama anti PKI. Dan Gontor unggul dibanding sekolah umum lain dalam bidang itu,” jelas suami Fika Deprityanti.
Fitra juga menjelaskan untuk alumni Gontor yang ingin melanjutkan menjadi tantara, diantaranya adalah melalui Tamtama, Bintara dan Perwira (AKMIL). Untuk Bintara dan Tamtama tidak ada masalah dengan ijazah Muadalah. Namun untuk AKMIL persyaratannya lebih ketat lagi.
Saat ini, tambah bapak dari Faira Farffifannisa, Fattah Askar dan Fara Azkiya Nahda ini ada beberapa alumni yang masuk AKMIL dengan ijazah Gontor murni yaitu Ustadz Agung di Angkatan Darat lulus AKMIL 2005 dan Ustadz Rachmad di Angkatan Udara lulus tahun 2006.
Fitra menyarankan bagi para alumni yang ingin lolos AKMIL benar-benar harus menyiapkan kemampuannya di bidang eksak. Sebagaimana Fitra mengikuti berbagai kursus selama setahun. Tidak hanya itu, ada tahapan seleksi masuk militer, seleksi administrasi, estetika, etika, mental ideologi, jasmani fisik, akademik dan seleksi akhir. “Jadi tidak hanya otak kuat, tapi banyak aspek yang harus dipenuhi,” katanya.
Fitra menambahkan, selain Tamtama dan Bintara, bisa dari jalur sarjana agama. Setiap tahun selalu ada pembukaan penerimaan dari jalur ini. Saat ini TNI membutuhkan personil yang punya potensi bidang agama melalui jalur perwira karir. “Baru-baru ini saya dengar ada 3 alumni Gontor yang diterima. Lulusnya sama dengan AKMIL, Letnan Dua,” jelasnya.
Fitra berharap semakin banyak alumni Gontor yang menjadi Perwira Tinggi, berarti harus masuk AKMIL atau setidaknya menjadi perwira melalui jalur sarjana, agar bisa memberi andil memudahkan alumni Gontor masuk TNI.
Memimpin salah satu pasukan perdamaian PBB dan membawa nama negara dan kesatuan TNI bukan sesuatu yang mudah. Seleksi ketat dan kualitas prajurit menjadi pertimbangan utama. Semua prajurit unggulan dari semua matra masuk ke dalam seleksi.
“Alhamdulillah saya alumni Gontor yang terpilih dalam Kontingen Garuda Pasukan Keamanan PBB,” kata Fitra yang sebelumnya berdinas di Batalyon Infantri di Mabes TNI AD.
Selain seleksi yang ketat untuk menjadi bagian dari Kontingen Garuda ini, para calon juga ditest kemampuan Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Dari sekitar 50 orang perwira dalam kontingen Garuda itu, mulai dari Letnan Dua hingga Kolonel, hanya Fitra yang mempunyai kemampuan Bahasa Arab yang fasih dan juga tentunya Bahasa Inggris.
“Ini salah satu kelebihan TNI lulusan Gontor. Dari 50 orang perwira, cuma saya yang bisa bahasa Arab, alhamdulillah,” ungkapnya.
Kemampuannya berbahasa Arab juga menjadikankannya mendapat tugas tambahan, yaitu menjadi penerjemah. Jadi penugasan Fitra di Pasukan Keamanan ini ada dalam dua bidang yaitu sebagai Satgas Staff Khusus dan juga sebagai kontingen Pasukan.
Memimpin sebuah kompi diperlukan perwira dengan pangkat Mayor. Dengan ditunjuknya Fitra sebagai salah satu komandan kompi dalam kontingen Garuda, ia mendapat kehormatan untuk naik pangkat satu tingkat menjadi Mayor Infanteri. Pelantikanan kenaikan pangkat itu baru dilaksanakan pada 17 Desember 2020 lalu.
Rencananya, Fitra akan berada di daerah konflik selama setahun, ini tugas yang memiliki resiko tinggi. Untuk itu, Fitra memohon dukungan dan doa dari seluruh keluarga besar Gontor agar ia dan seluruh kontingen bisa selamat dan pulang ke Indonesia membawa kebanggaan.
“Saya juga memohon doanya dari seluruh wali santri dan alumni agar saya dan teman-teman dilindungi Allah dalam mengemban misi ini dalam bertugas memimpin di Lebanon bisa berjalan lancar, ” tuturnya. [Fathurroji]



















