Jakarta, Gontornews – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah selesai melakukan uji klinis herbal kandidat imunomodulator atau obat penstimulus imun. Dalam uji klinis tersebut, LIPI menguji dua kandidat obat herbal, yaitu: jamur Cordyceps militaris dan kombinasi jahe merah, daun meniran dan sambiloto.
“Uji klinis imunomodulator dengan bahan asli dari keanekaragaman hayati Indonesia merupakan yang pertama yang dilakukan secara independen. (Uji klinis ini) juga melibatkan banyak pihak untuk memastikan objektifitas dan akurasinya terjaga,” ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, Senin (17/8).
Handoko, sebagaimana dilansir laman LIPI, mengungkapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengonfirmasi bahwa dua jenis imunomodulator ini berkhasiat.
“Jika menjadi fitofarmaka, maka produk imunomodulator itu dapat diproduksi masal dan diresepken oleh dokter untuk dipakai dalam penanganan pasien. Tentunya dengan harga relatif jauh lebih murah karena formula dan bahan baku lokal,” ujar Handoko.
Secara teknis, Masteria Yunovilsa Putra dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menjelaskan pihaknya tidak akan mengklaim berkhasiat sebelum BPOM mengeluarkan pernyataan resmi.
Masteria menambahkan bahwa uji klinis ini melibatkan 90 subjek penelitian berusia 18-50 tahun yang terpapar positif Covid-19. Tidak hanya itu, pasien juga harus terkonfirmasi mengalami gejala pneumonia ringan.
“Subjek tidak hamil atau menderita penyakit lain seperti DBD, Demam tifus, gangguan jantung, gangguan ginjal maupun alergi terhadap produk yang diujikan,” ucap Masteria.
Tujuan uji klinis yang dilakukan LIPI adalah untuk melihat berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai perbaikan gejala klinis non spesifik. “Uji klinis juga ditujukan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai RT-PCR negatif setelah adanya perbaikan gejala klinis,” tutup Masteria. [Mohamad Deny Irawan]
























