Nairobi, Gontornews — Ratusan dokter rumah sakit umum di Nairobi, ibukota Kenya, mogok kerja, Jumat (21/8). Mereka memprotes penundaan gaji bagi para dokter serta minimnya alat pelindung diri (APD) bagi para dokter yang menangani pasien Covid-19.
Sekretaris Jendeal Serikat Praktisi Medis, Apoteker dan Dokter Gigi Kenya, Thuranira Kaugiria, mengatakan pemogokan kerja dimulai Jumat (21/8) tengah malam waktu setempat. Kaugiria menjelaskan ada 320 orang dokter yang ambil bagian dalam pemogokan tersebut. Para demonstran mengeluhkan tidak memadainya asuransi kesehatan, buruknya kualitas alat perlindungan hingga minimnya ruang isolasi perawatan pasien Covid-19.
Secara nasional, Pemerintah Kenya melaporkan total 31.441 kasus Covid-19, 532 kematian dan 18.157 pasien sembuh dengan 411.630 tes yang dilakukan sejauh ini. Mayoritas kasus Covid-19 terkonfirmasi di ibu kota Kenya, Nairobi.
Dokter di Kenya mulai menyampaikan aspirasinya melalui Twitter. Mereka menyampaikan kepada warganet jika perlengkapan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah tidak memadai.
Dalam aksi mogok kerja yang diikuti dengan aksi demonstrasi tersebut, pihak kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata. Para demonstran yang berkumpul di Freedom Corner di Taman Uhur menuduh pemerintah melakukan korupsi dalam pengadaan alat pelindung diri.
Demonstran menduga Kepala Otoritas Perlengkapan Medis Kenya membeli barang berkualitas rendah dengan harga tinggi.
“Kami mencoba untuk memborbardir informasi tentang banyaknya uang negara yang hilang. Padahal uang tersebut dapat digunakan untuk memerangi pandemi Covid-19,” ungkap koordinator demonstrasi, Wanjeri Nderu, kepada Reuters.
“Kami memutuskan untuk berdemonstrasi damai hari ini. Namun, kami terkena tembakan gas air mata hingga lebih dari 20 kali. Beberapa kolega saya juga ditangkap pihak kepolisian,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]



























