Depok, Gontornews — Kata Syiah sejatinya tertuju pada suatu aliran yang mengaku sebagai pengikut dan pendukung setia Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Aliran ini juga meyakini bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW serta berpijak pada pencacian, pencelaan, dan pengkafiran terhadap para sahabat Rasulullah SAW.
Saat ini telah bergulir keyakinan di kalangan Saba’iyah (pengikut Abdullah bin Saba’) bahwa keimamahan yang pertama dipegang oleh Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada Muhammad bin Al husain Al Mahdi. Dan akidah inipun kerap dikenal dengan Aqidah Ar-Raj’ah.
Pengamat Syiah, Prof. DR. H. Mohammad Baharun, SH, MA saat membedah buku “Mewaspadai Gerakan Syiah di Indonesia”, mengungkapkan ajaran-ajaran Syiah yang bertentangan. 1. Aqidah Syirik, menisbatkan sifat Ilahiyah kepada imam mereka seperti pemilik dunia akhirat, rob bumi. 2. Aqidah Bada’, yaitu keyakinan bahwa Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak mengetahui. 3. Aqidah Raj’ah, yaitu kembali hidup sesudah mati sebelum hari kiamat.
Arroj’ah adalah salah satu diantara sekian banyak ajara Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran Roj’ah ini menurut ulama-ulama Islam, telah membuat Syiah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah) masuk golongan Ghulaah. Ajaran tersebut sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.
Arroj’ah adalah suatu keyakinan , orang-orang Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), bahwa suatu saat nanti, Imam mereka yang bernama Muhammad bin Husain al-Askari – yang dikenal sebagai Imam Syiah yang ke-12 dan sekarang menurut mereka masih sembunyi di dalam gua Sarro Man Roa, akan muncul kembali.
Kemudian imam itu akan membangkitkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan, Imam Husein dan imam-imam lain, serta orang-orang yang dekat kepada mereka. Selanjutnya, semua orang-orang tersebut akan membaiatnya, yang diawali oleh Rasulullah dan disusul yang lain.
Bersamaan dengan itu, menurut mereka, Abu Bakar, Umar dan Aisyah serta orang-orang yang dianggap zhalim oleh mereka, dibangkitkan dalam keadaan hidup untuk menerima siksaan-siksaan. Kesesatan akidah Syiah lainnya adalah adanya Aqidah Taqiyyah, yakni suatu perkataan dan perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan keyakinan, untuk menghindari bahaya yang mengancam jiwa, harta dan kehormatan.
Aqidah kema’suman para Imam, yakni para imam mereka ma’sum (terjaga dari kesalahan dan dosa) serta mengetahui yang ghaib. Menurutnya, para imam lebih utama dari para Nabi dan Rasul, dan imam itu memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat dan para rasul.
Aqidah Syiah tentang Al Qur’an (Al-Kafi I/239): “Mushaf Fatimah itu ada dan tebalnya tiga kali lipat Al Qur’an yang ada, dan di dalamnya tidak ada satu huruf pun yang sama dengan Al Qur’an. Aqidah Kota Najaf dan Tanah Karbala: Orang Syiah meyakini bahwa Najaf, Karbala dan Qum sebagai tanah haram, karena terdapat kuburan para imam mereka.
Tanah Karbala, menurut orang Syiah, lebih utama daripada Ka’bah. Peringatan Hari Asyura, atau hari yang bersejarah Imam Husein, selalu diperingati kaum Syiah dengan jalan menangis, memukul-mukul badannya, bahkan ada yang melukai dirinya sendiri sampai berlumuran darah, ada yang memukuli badannya sendiri dengan rantai, bahkan ada yang melukai dirinya dengan belati atau pedang.
Dalam memperingati hari Asyura, kaum Syiah ternyata hanya memaknainya pada satu peristiwa saja, yaitu peristiwa syahidnya Sayidina Husein di Karbala, Irak. Mereka pun tak segan memukuli badan dan menangisi kejadian tersebut sebagai wujud penebusan dosa orang-orang Syi’ah terdahulu.
Dalam kitab Attasyasyyu Baina Mafumil Aimmah wa mafhumil Farisi, disebutkan: Bahwa orang-orang Syiah juga berpuasa pada hari Asyura, tetapi hanya sampai waktu Ashar saja. Berpuasa semacam ini jelas merupakan suatu perbuatan bid’ah karena tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah Saw.
Dalam mendalami ilmu hadits khususnya menshahih dan mendhoifkannya, kaum Syiah kerap tidak menggunakan landasan kitab-kitab yang dipakai oleh para kaum Sunni. Mereka sudah terbiasa menghalalkan segala cara demi kepentingan mereka, seperti kemudahan dalam menerima hadits-hadits tentang imamiah tanpa menyeleksinya terlebih dahulu.
Selain itu mereka juga telah dikenal memiliki keahlian dalam membuat riwayat-riwayat palsu, serta tak segan-segan mencantumkan nama-nama Ahlul Bait, demi kepentingan golongannya. Begitu halnya dalam memperingati hari Asyura. Dalam usaha menguatkan perayaan tersebut dibuatlah riwayat palsu dengan mengatasnamakan Ahlul Bait, seperti:
(1)Barangsiapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husein, maka Allah akan mengampuni segala dosanya, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan.
(2) Barangsiapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husein, wajiblah (pastilah) dirinya memperoleh surga. Demikian jaminan dari ulama Syiah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husein ra sudah bisa masuk surga. Bukan itu ajaran Rasulullah Saw!!
Disamping itu, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 riwayat, mengenai ziarah ke makam Imam-imam Syiah, bahkan dari jumlah tersebut, 338 khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah ke makan Imam Husein ra atau ziarah ke Karbala. Sebagai contoh:
1)Barangsiapa haji sebanyak 20 kali, maka ganjarannya sama dengan ziarah ke kuburan Husein sekali. 2) Barangsiapa ziarah ke makam Imam Husein di Karbala pada hari Arofah, maka ganjarannya sama dengan haji 1.000 kali bersama Imam Mahdi, disamping mendapatkan ganjarannya memerdekakan 1.000 budak dan ganjarannya bershadaqah 1.000 ekor kuda.
3) Barangsiapa ziarah ke makam Imam Husein pada Nifsu Sya’ban, maka sama dengan ziarah Allah di Arasy-Nya. 4) Barangsiapa ziarah ke makam Husein di Karbala pada hari Asyura, maka ia akan mendapatkan ganjaran dari Allah, seperti orang haji 2.000 kali dan seperti orang yang berperang bersama Rasulullah 2.000 kali.
5) Andaikan saya katakan mengenai ganjaran ziarah ke makam Imam Husein, niscaya kalian tinggalkan haji dan tidak ada seorang pun yang perhi haji. Itulah diantara hadits-hadits palsu yang bersumber dari kitab Syiah: Wasaailussyiah oleh Al-Khuurul Amily (Ulama Syiah). Seperti itulah kedustaan orang Syiah.
Mengenai Nikah Mut’ah, kaum Syiah pun menjadikannya sebagai dasar ajaran Syiah. Barangsiapa mengingkarinya berarti kafir. Mereka menganggap, menika mut’ah sekali akan menjadi ahli surga.
Orang yang meninggal dan belum pernah menikah mut’ah , akan datang di hari kiamat dalam kondisi hamil. Derajat orang yang menikah mut’ah sekali seperti Husain, dua kali seperti Hasan, tiga kali seperti Ali, dan tiga kali seperti Rasulullah Saw.
Penilaian Syiah terhadap selain kelompoknya (khususnya Sunni): Orang bukan Syiah adalah buta mata dan hati, terlaknat, sesat dan menyesatkan, murtad, kafir. Syiah memandang halal harta dan darah Sunni (Ahlu Sunnah), lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Wanita Syiah tidak boleh dinikahkan dengan laki-laki Sunni, karena ia kafir. <Edithya Miranti>





















