Alam dipandangan Islam
Islam memandang alam sebagai hakikah (realitas) yang tidak lepas dari Haq (kebenaran), yang keduanya adalah ayat (tanda) mengantarkan pada Al-Haq (Tuhan). Jika alat pengamatan sains modern berdasar pada indra eksternal dan filsafat rasional, maka islam lebih lengkap dari itu. Indra dan akal memang penting, al-Qurβan pun memrintahkan penggunaan alat tersebut misalnya perhatian tentang unta, langit dan gunung pada surah al-Gasyiyah, tentang orang yang punya hati, mata dan telinga yang tidak digunakan untuk melihat alam sebagai ayat Allah. begitu pula dalam penggunaan akal yang sering di sebut Qurβan sebagai ulul albab atau ulul absar kata tafakur, tafaqquh, dan taβqqul, yang kesemuanya itu menyerukan tentang pemaksimalan penggunaan akal. Selanjutnya bagi islam ada unsur ke 3 yaitu wahyu dan intuisi. Inilah dimensi yang membedakan sains Islam dan sekuler. Jadi indra sebagai penghimpun bahan mentah, akal sebagai pengolah dan wahyu sebagai pengesahnya sebuah kebenaran.
Jawaban wahyu terhadap pertanyaan ultimat yang membuat sains barat bungkam diantaranya tentang keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam berikut keteraturannya diambil dari ajaran al-Qurβan, pada QS. al-Baqarah: 29, dan QS. Nahl: 88. Dalam ayat lain dijelaskan bahwa alam semesta adalah tanda keberadaan Allah, misalnya QS. al-Anbiyaβ: 22. Ayat lain menegaskan bahwa pencipta langit dan bumi, keragaman bahasa dan warna kulit adalah diantara tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah SWT. Selain tanda, alam semesta dapat mengantar manusia pada pemahaman tentang Allah atau lebih mendakati-Nya, sebagaimana difirmankan oleh Allah sendiri dalam QS. Fushilat: 41. Diperkuat juga oleh kisah Nabi Ibrahim dalam al-Qurβan yang membangun argumentasinya dari fenomena alam mengenai keberadaan Allah sebagai Pencipta.
Selain penegasan hakikat dasar alam semesta dalam al-Qurβan, ada juga argumen terkait keteraturan alam berikut harmoni antar bagian-bagiannya, sebagaimana termaktub dalam QS. al-Raβd: 8, QS. al-Furqan: 2, QS. al-Anβam: 3. Selain sebagai dasar penciptaan oleh Allah, keteraturan juga menjadi dasar keesaan Sang Pencipta. Prinsip harmoni alam tidak bisa dilepaskan dari kesatuan Penciptanya. Keimanan pada prinsip kesatuan Tuhan ini dijadikan salah satu dasar petunjuk memahami alam sehingga mencapai tujuan sebenarnya, yaitu sebagai salah satu wujud penghambaan untuk mencapai keridhaanNya.
Kesimpulan
Walaupun saintis barat mengatakan bahwa sains harus netral dan bebas nilai, namun kenyataannya tidak ada yang benar-benar bebas nilai. Hal ini terbukti dari bagaimana sainstis barat menghegemonikan nilai-nilai materialime yang berakar konsep ateistik, sehingga sains hanyalah alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri, yang penting sains tersebut bisa membuahkan tujuan bagi pemakainya. Tak peduli merusak alam atau memusnahkan manusia. Maka dari itu pentingnya islamisasi sains. Yaitu pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwa, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya. Karna Islam adalah satu-satunya agama fitrah manusia, Allah sebagai pencipta segala sesuatu memberi petunjuk pengelolaan alamnya, untuk kemaslahatan manusia.





















